Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

“Pertimbangan regulasi idealnya dilakukan sejak awal penelitian, bukan baru diperiksa ketika produk selesai dikembangkan,” ungkap Ati.

Setelah terbukti, tantangan berikutnya adalah menjadikannya produk yang diterima masyarakat. Dyan Garneta Paramita Sari, STP., M.Sc, Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan Kementerian Perindustrian RI, menyoroti sulitnya mengurangi natrium karena memengaruhi rasa, sementara penerimaan konsumen menentukan apakah inovasi bertahan di pasar.

| Baca Juga: Apa Itu Kimpul? Umbi Lokal yang Viral di Tiktok Punya Segudang Manfaat Kesehatan

Pangan yang lebih sehat juga harus terjangkau, sehingga peneliti perlu memikirkan ketersediaan bahan baku, biaya produksi, daya simpan, dan distribusi sejak awal. Hal ini semakin penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau.

Kekayaan pangan lokal sendiri dinilai menjadi modal kemandirian. Ketua Tim Pakar IRN, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc., menyebut pengetahuan tradisional dan ilmu pengetahuan modern tidak perlu dipertentangkan.

“Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal dan pengetahuan tradisional yang dapat menjadi sumber gagasan inovasi. Riset berperan penting untuk memahami potensi tersebut, menguji manfaatnya secara ilmiah, serta memastikan keamanan dan mutu dalam pengembangannya,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa penelitian pangan perlu melibatkan kajian sosial, ekonomi, budaya, dan perilaku konsumen, bukan hanya aspek teknis pengolahan. Menurutnya, dukungan bagi mahasiswa S1 memiliki arti tersendiri karena pendanaan penelitian di jenjang ini relatif terbatas dibanding dosen atau peneliti profesional.

| Baca Juga: Jangan Asal Pilih Piring, Kenali Bahan yang Bisa Berisiko bagi Kesehatan

Program IRN sendiri diluncurkan pada 2006 sebagai kelanjutan Program Bogasari Nugraha yang dirintis sejak 1998. Hingga kini, program tersebut telah menerima lebih dari 19.200 proposal dan mendanai lebih dari 1.100 penelitian mahasiswa S1 dari lebih dari 200 perguruan tinggi, dari Aceh hingga Papua.

Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Stefanus Indrayana, menyebut perjalanan dua dekade ini sebagai bentuk konsistensi dalam mendukung peneliti muda.

“Dua puluh tahun perjalanan Indofood Riset Nugraha merupakan wujud konsistensi Indofood dalam mendukung generasi peneliti muda Indonesia,” ujarnya.

Pada akhirnya, keberhasilan riset pangan diukur dari sejauh mana pengetahuan dapat diterapkan untuk menjawab persoalan masyarakat. Bahan lokal perlu dikaji, klaim kesehatan harus ditopang bukti, dan industri serta pemerintah perlu terlibat agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: