Inovasi Pangan Lokal Tak Boleh Berhenti di Laboratorium, Harus Terbukti, Aman, dan Terjangkau
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Indonesia kaya akan pangan lokal, dari umbi-umbian, rempah, ikan, hingga tempe. Namun, kelimpahan itu belum otomatis menjamin masyarakat memperoleh makanan yang aman, bergizi, dan berkualitas.
Karena itu, riset pangan tidak cukup berhenti pada temuan di laboratorium, tetapi perlu diterjemahkan menjadi solusi yang terbukti secara ilmiah, dapat diterapkan, dan terjangkau.
Pesan ini mengemuka dalam Simposium Pangan Nasional 2026 bertema “Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Bangsa” di Sudirman Plaza, Indofood Tower, Jakarta, Kamis (8/10/2026). Forum dalam rangkaian Program Indofood Riset Nugraha (IRN) ini mempertemukan pemerintah, akademisi, peneliti, dan pelaku industri menjelang Hari Pangan Sedunia 16 Oktober, dengan tema “Innovate Today. Nourish Tomorrow”.
Simposium sekaligus menandai dimulainya IRN 2026-2027, di mana 83 mahasiswa S1 terpilih dari 595 proposal akan memperoleh dana penelitian dan pendampingan tim pakar selama satu tahun.
| Baca Juga: Teliti Edamame dan Talas Bogor, Mahasiswa Unej dan IPB Raih Dukungan Riset Pangan Nasional
Urgensinya terlihat dari beban penyakit tidak menular seperti stroke dan penyakit jantung. Dr. Novi Indriastuti, M.Epid., Administrator Kesehatan Ahli Madya Kementerian Kesehatan RI. Ia menyebut perubahan pola penyakit selama tiga dekade terakhir menuntut perhatian lebih pada upaya promotif dan preventif.
Konsumsi gula, garam, dan lemak berlebihan, baik dari makanan kemasan maupun masakan rumah, ikut meningkatkan risiko.
“Upaya pencegahan penyakit tidak menular perlu dimulai dari perubahan perilaku sehari-hari. Edukasi mengenai pola makan sehat harus menjangkau masyarakat secara luas agar pilihan pangan yang lebih baik dapat menjadi bagian dari kebiasaan hidup,” jelas Novi.
Ahli gizi dr. Widjaja Lukito, SpGK(K), PhD, menambahkan bahwa perubahan perilaku tidak cukup mengandalkan kesadaran individu, melainkan juga gerakan berbasis komunitas. Dengan demikian, pangan fungsional sebaiknya tidak dipandang sebagai jalan pintas, tetapi ditempatkan dalam konteks pola makan seimbang dan gaya hidup sehat.
| Baca Juga: Mengenal Jahira, Varietas Jahe Merah yang Bisa Jadi 'Ginsengnya' Indonesia
Di sisi lain, manfaat kesehatan suatu pangan harus dibuktikan, bukan sekadar diklaim. Ati Widya Perana, Ketua Tim Standardisasi Klaim dan Informasi Nilai Gizi BPOM RI, menjelaskan bahwa pengawasan pangan olahan mencakup keamanan, mutu, dan gizi, baik sebelum maupun sesudah produk beredar.
Produk tidak cukup disebut menyehatkan hanya karena berbahan alami atau lokal. Untuk klaim kesehatan baru, penelitian pada manusia seperti uji acak terkontrol menjadi bukti yang diutamakan. Selain itu, karena belum ada definisi global yang seragam tentang pangan fungsional, pengembang produk perlu memperhatikan ketentuan label, iklan, dan klaim yang berlaku di Indonesia.
“Pertimbangan regulasi idealnya dilakukan sejak awal penelitian, bukan baru diperiksa ketika produk selesai dikembangkan,” ungkap Ati.
Setelah terbukti, tantangan berikutnya adalah menjadikannya produk yang diterima masyarakat. Dyan Garneta Paramita Sari, STP., M.Sc, Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan Kementerian Perindustrian RI, menyoroti sulitnya mengurangi natrium karena memengaruhi rasa, sementara penerimaan konsumen menentukan apakah inovasi bertahan di pasar.
| Baca Juga: Apa Itu Kimpul? Umbi Lokal yang Viral di Tiktok Punya Segudang Manfaat Kesehatan
Pangan yang lebih sehat juga harus terjangkau, sehingga peneliti perlu memikirkan ketersediaan bahan baku, biaya produksi, daya simpan, dan distribusi sejak awal. Hal ini semakin penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau.
Kekayaan pangan lokal sendiri dinilai menjadi modal kemandirian. Ketua Tim Pakar IRN, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc., menyebut pengetahuan tradisional dan ilmu pengetahuan modern tidak perlu dipertentangkan.
“Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal dan pengetahuan tradisional yang dapat menjadi sumber gagasan inovasi. Riset berperan penting untuk memahami potensi tersebut, menguji manfaatnya secara ilmiah, serta memastikan keamanan dan mutu dalam pengembangannya,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa penelitian pangan perlu melibatkan kajian sosial, ekonomi, budaya, dan perilaku konsumen, bukan hanya aspek teknis pengolahan. Menurutnya, dukungan bagi mahasiswa S1 memiliki arti tersendiri karena pendanaan penelitian di jenjang ini relatif terbatas dibanding dosen atau peneliti profesional.
| Baca Juga: Jangan Asal Pilih Piring, Kenali Bahan yang Bisa Berisiko bagi Kesehatan
Program IRN sendiri diluncurkan pada 2006 sebagai kelanjutan Program Bogasari Nugraha yang dirintis sejak 1998. Hingga kini, program tersebut telah menerima lebih dari 19.200 proposal dan mendanai lebih dari 1.100 penelitian mahasiswa S1 dari lebih dari 200 perguruan tinggi, dari Aceh hingga Papua.
Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Stefanus Indrayana, menyebut perjalanan dua dekade ini sebagai bentuk konsistensi dalam mendukung peneliti muda.
“Dua puluh tahun perjalanan Indofood Riset Nugraha merupakan wujud konsistensi Indofood dalam mendukung generasi peneliti muda Indonesia,” ujarnya.
Pada akhirnya, keberhasilan riset pangan diukur dari sejauh mana pengetahuan dapat diterapkan untuk menjawab persoalan masyarakat. Bahan lokal perlu dikaji, klaim kesehatan harus ditopang bukti, dan industri serta pemerintah perlu terlibat agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium. (*)






