Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Penggambaran profesi Ladies Companion (LC) atau pemandu lagu dalam sebuah film kerap kali dilekatkan dengan citra busana yang terbuka dan sensual.

Namun, pendekatan berbeda justru dihadirkan oleh aktris Asmara Abigail bersama sutradara Cornelio Sunny dalam proyek film Sumpah Darah.

Keduanya memilih untuk tidak mengeksploitasi keseksian visual dari karakter LC yang diperankan. Cornelio menegaskan bahwa fokus utama film ini bukan untuk menonjolkan aksi para LC saat bertugas melayani tamu.

Sunny lebih tertarik membedah kehidupan personal dan sisi manusiawi para perempuan tersebut ketika mereka tidak bekerja.

| Baca Juga: Asmara Abigail Ambil Peran Jadi LC di Film 'Sumpah Darah' Usai Putus Cinta

"Jadi yang saya gambarkan adalah kehidupan mereka di belakang performa mereka, kan," ujar Sunny saat ditemui di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Sabtu (10/10/2026).

Menurut Sunny, atribut seksi mungkin saja melekat saat mereka sedang aktif bekerja. Namun, begitu jam kerja usai, rutinitas mereka kembali layaknya masyarakat biasa tanpa ada yang istimewa.

"Ketika mereka perform mungkin mereka akan seksi, tapi kan ketika mereka pulang, makan nasi padang, itu kan hal yang biasa, ya, yang dilakukan seorang manusialah," tegas Sunny.

Baginya, dinamika emosional dan keseharian para LC di luar jam kerja memiliki bobot cerita yang jauh lebih berharga untuk difilmkan ketimbang sekadar profesi mereka di tempat hiburan.

| Baca Juga: Film 'Empat Musim Pertiwi' Bersaing untuk Oscar 2027, Kamila Andini Buktikan Cerita Perempuan Indonesia Layak Dapat Panggung Dunia

"Yang saya filmkan itu justru bagian LC yang di situnya, di belakang performa mereka. Jadi honestly, saya lebih tertarik dengan kehidupan mereka pribadi daripada pekerjaan mereka hanya sebagai LC itu," jelas Sunny.

Digarap 3 Tahun, Gandeng Penulis Jerman

Pembuatan film ini memakan waktu yang cukup panjang, yakni mencapai tiga tahun secara keseluruhan hingga siap tayang. Sunny mengungkapkan bahwa penulisan naskah sendiri memakan waktu 8 hingga 9 bulan, sementara fase dari perampungan skrip hingga pelaksanaan syuting membutuhkan waktu satu tahun.

Dalam proses kreatif tersebut, Sunny berkolaborasi dengan penulis asal Jerman, Ike Klose, untuk menyuguhkan perpaduan perspektif yang unik.

"Ada co-penulis satu lagi, partner saya Ike Klose orang Jerman. Jadi yang saya dapat dari dia perspektif melihat perspektif lokal tapi dari kacamata orang luar ya. Jadi biar filmnya lebih universal lah dipahamin penonton," urai Sunny.

Metode penggarapan karakter di film ini juga terbilang organik. Sunny melibatkan langsung para aktornya, seperti Asmara Abigail, Sarazany, dan Dwi Sasono, untuk merancang karakter yang akan mereka perankan.

Salah satu contoh masukan nyata yang langsung diadaptasi adalah penyertaan unsur musik India.

"Jadi saya menyiapkan karakter lalu saya diskusikan dengan para pemain, masukan dari pemain itu saya jadikan treatment penyutradaraan," ujar Sunny.

Ia mencontohkan, masukan lagu India di filmnya, itu karena saran dari Asmara Abigail.

"Waktu itu bilang, 'Sunny kayaknya karakter gua suka India deh di dalam film ini.' Nah itu saya terapkan langsung saya bikin lagu apa itu biar jadi merespon pemain lah," ungkapnya.

| Baca Juga: Film Dokumenter NAZA Bawa Kisah Perang Gaza, Hadir di Bioskop Indonesia

Angkat Kisah Ragam Pilihan Hidup Pekerja LC

Terkait alasan pemilihan tema Ladies Companion (LC), Sunny menegaskan bahwa ide tersebut bukan berasal dari pengalaman pribadinya. Ia memandang dunia LC sebagai potret spektrum kehidupan yang ekstrem dan jarang dibedah secara jujur di luar narasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Mungkin perempuan yang sudah di-KDRT apa itu memang banyak kasusnya dan itu juga sebuah ekstrem yang bisa diangkat," ujar Sunny.

"Saya memutuskan LC itu karena banyak sekali LC yang sebenarnya juga nggak di-KDRT, tapi hidupnya juga apakah dia memilih untuk jadi LC, apakah dia terpaksa jadi LC, yang saya gali itu itu sebenarnya," sambungnya.

Sunny menolak untuk menghakimi profesi tersebut. Lewat film ini, ia ingin memotret dinamika perasaan, keterpaksaan, serta kebebasan memilih dari sudut pandang para perempuan yang menjalaninya.

| Baca Juga: Tantangan Fisik Tanta Ginting, Chika Waode dan Amel Carla Saat Syuting Film 'Ghosthing'

"Jadi pilihan perempuan juga sah-sah aja kalau mau jadi LC dan dia happy, it’s fine kan. Tapi yang justru saya berusaha filmkan di situ tuh ada yang memilih, ada yang happy, ada yang nggak happy, beragam kan. Ya itu yang saya angkat di situ sebenarnya," tutup Sunny.

Dipoduksi Bushi Bros Films dan Endorphins Entertainment, film Sumpah Darah dibintangi Asmara Abigail sebagai Mara dan Dwi Sasono sebagai Thomas, film ini turutdibintangi oleh Ully Triani, Sara Zany, dan Ruth Marini. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: