Lutut Sering Nyeri Saat Berdiri atau Naik Tangga? Jangan Anggap Sepele, Bisa Jadi Osteoartritis
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Nyeri lutut kerap dianggap bagian tak terpisahkan dari penuaan, sehingga banyak orang memilih mengabaikannya atau sekadar mengandalkan obat pereda nyeri. Padahal, nyeri berulang saat berdiri dari posisi duduk, berjalan, atau naik turun tangga bisa menjadi tanda osteoarthritis atau pengapuran sendi.
Kondisi ini tidak hanya dialami lansia. Cedera lutut, berat badan berlebih, kelainan bentuk kaki, dan tekanan berlebihan pada sendi juga meningkatkan risikonya.
Dokter spesialis ortopedi konsultan lutut dan kedokteran olahraga, Dr. dr. L. Andre Pontoh, Sp.OT (K), menjelaskan bahwa osteoarthritis adalah kerusakan tulang rawan yang melapisi ujung tulang pada persendian.
“Pengapuran sendi bukan karena oli sendi kering dan bukan pula karena penimbunan zat kapur. Yang sebenarnya terjadi adalah kerusakan pada tulang rawan,” ujar Dr. Andre dalam bincang-bincang tentang pemulihan pasca osteoarthritis dengan Robotic Knee Surgery bersama RS Pondok Indah Group di Jakarta, Jumat (9/10).
| Baca Juga: Lutut Berbunyi 'Pop' Saat Olahraga? Jangan Diabaikan, Bisa Jadi Ligamen Utama Robek
Gejalanya berkembang bertahap. Awalnya lutut hanya berbunyi saat digerakkan, lalu nyeri muncul ketika bangkit dari duduk, kemudian saat berjalan jauh atau naik turun tangga. Pada kondisi berat, nyeri bahkan terasa saat duduk atau berbaring.
Pembengkakan, kekakuan, dan keterbatasan menekuk atau meluruskan kaki juga perlu diwaspadai. Karena itu, nyeri lutut yang berulang sebaiknya segera diperiksakan, bukan diterima begitu saja.
Osteoarthritis juga berbeda dengan osteoporosis. Osteoarthritis menyerang tulang rawan sendi dan dievaluasi lewat pemeriksaan fisik serta rontgen, sedangkan osteoporosis adalah menurunnya kepadatan tulang yang dinilai lewat pemeriksaan Bone Mineral Density (BMD). Hasil BMD yang normal pun tidak menyingkirkan kemungkinan osteoarthritis.
Faktor risikonya beragam. Usia di atas 50 tahun, jenis kelamin perempuan terutama setelah menopause, berat badan berlebih, kaki berbentuk O atau X, serta riwayat cedera atau patah tulang di sekitar sendi dapat memperbesar peluang kerusakan.
| Baca Juga: 70 Persen Kasus Kanker Payudara Ditemukan Saat Stadium Lanjut, Pentingnya Kenali Tubuh Sejak Muda
Soal berat badan, Dr. Andre menegaskan bahwa tekanan pada lutut meningkat seiring beban tubuh, sehingga menurunkan berat badan dapat meringankan sendi.
Meski lutut bermasalah, pasien tidak perlu berhenti berolahraga. Dr. Andre menyarankan olahraga berdampak rendah seperti bersepeda dengan posisi duduk dan berenang, serta menghindari aktivitas dengan lompatan atau perubahan arah mendadak.
Penggunaan sepatu hak tinggi lebih dari sekitar empat sentimeter juga sebaiknya dihindari, sementara naik turun tangga tetap boleh dilakukan selama tidak berlebihan.
Dalam penanganannya, perubahan gaya hidup, fisioterapi, serta obat antiradang dan pereda nyeri dapat membantu mengendalikan gejala, tetapi tidak mengembalikan tulang rawan yang telah rusak.
| Baca Juga: Momen World Sight Day, 101 Pasien Katarak Dapat Operasi Gratis hingga Akhir 2026
Dr. Andre juga mengingatkan bahwa glukosamin tidak terbukti meyakinkan memperbaiki kerusakan tulang rawan, dan suntikan seperti platelet-rich plasma (PRP) maupun terapi sel punca bukan solusi pasti untuk semua tingkat keparahan.
Pada kerusakan berat, dokter dapat mempertimbangkan total knee replacement atau penggantian sendi lutut. Tingkat kerusakan dinilai dengan skala Kellgren-Lawrence dari rontgen, mulai derajat 0 hingga 4. Namun, derajat terberat tidak otomatis berarti harus operasi.
“Yang saya obati adalah pasiennya, bukan sekadar hasil rontgennya. Saya harus melihat apakah pasien benar-benar terganggu, bagaimana kondisi kesehatannya, dan apakah dia sanggup menjalani rehabilitasi setelah operasi,” ujarnya.
Operasi baru dipertimbangkan bila nyeri sudah membatasi aktivitas secara signifikan dan penanganan nonoperatif tidak lagi memadai. Kondisi penyerta seperti gangguan jantung, diabetes, riwayat stroke, atau Parkinson juga memengaruhi keputusan dan proses pemulihan.
| Baca Juga: Tak Semua Benjolan adalah Kanker, Namun Jangan Abaikan Perubahan pada Payudara
Salah satu perkembangan terbaru adalah robotic knee surgery. Teknologi ini membantu dokter merencanakan tindakan berdasarkan pemetaan tiga dimensi lutut pasien dan simulasi sebelum tulang dipotong, sehingga posisi implan dan keseimbangan sendi dapat diperkirakan lebih terukur.
Meski begitu, keputusan tetap di tangan dokter, dan hasil operasi bergantung pula pada ketepatan indikasi, pengalaman dokter, serta kepatuhan pasien menjalani rehabilitasi.
Pada pasien yang memenuhi kriteria, mobilisasi dini memungkinkan pasien mulai belajar berjalan dalam 24 jam setelah operasi, meski waktu pemulihan tiap orang berbeda. Untuk kerusakan yang hanya mengenai satu bagian lutut, dokter juga dapat mempertimbangkan penggantian sebagian sendi.
Dr. Andre menambahkan bahwa teknologi tidak meniadakan risiko. Komplikasi seperti infeksi atau masalah implan tetap mungkin terjadi, sehingga rehabilitasi, pemantauan berkala, dan menahan diri dari aktivitas berat terlalu cepat tetap penting.
| Baca Juga: PCOS Resmi Berganti Nama Jadi PMOS, Begini Penjelasan Dokter Kandungan
Dampak osteoarthritis dirasakan langsung oleh Tini, yang menjalani operasi penggantian kedua sendi lututnya dengan bantuan teknologi robotik pada 15 April 2026. Selama dua hingga tiga tahun ia mengalami nyeri, terutama setelah berjalan lama atau duduk lama di mobil dan pesawat.
Pemeriksaan menunjukkan kedua lututnya sudah mencapai derajat empat. Setelah berdiskusi dengan keluarga dan memahami pilihan yang ada, ia memutuskan menjalani operasi.
“Alhamdulillah, setelah operasi saya sudah bisa mencoba jalan pagi lagi. Saya juga bisa berjalan dan bermain kembali dengan cucu. Itu yang membuat saya bahagia,” katanya.
Pengalaman Tini tentu tidak bisa dijadikan patokan bahwa semua pasien akan pulih dengan kecepatan yang sama. Ia berpesan agar nyeri lutut tidak dibiarkan berlarut-larut.
| Baca Juga: Gigi Putih Belum Tentu Tanda Rongga Mulut Sehat, Ini Penjelasan Dokter Gigi
“Begitu mulai terasa sakit, sebaiknya segera periksa ke dokter. Belum tentu harus dioperasi,” ujarnya.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan lutut tidak berarti berhenti bergerak seiring bertambahnya usia. Dengan memahami kondisi tubuh, memilih aktivitas yang tepat, menjaga berat badan, dan memeriksakan diri sejak dini, seseorang punya peluang lebih baik untuk mempertahankan mobilitasnya. (*)






