Cerita Benidictus Siregar Perankan Ale, Karakter Utama di 'Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati'
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati menghadirkan kisah tentang kesepian, kehilangan harapan, sekaligus perjuangan menemukan alasan untuk terus menjalani hidup melalui hal-hal sederhana.
Bagi Benidictus Siregar atau Beni Siregar, yang memerankan tokoh utama bernama Ale, cerita tersebut memiliki kedekatan emosional dengan pengalaman pribadinya.
Drama garapan sutradara Kuntz Agus yang diadaptasi dari novel best seller karya Brian Khrisna ini mengisahkan Ale, pria berusia 37 tahun yang tepat pada hari ulang tahunnya merasa kehilangan arah dan tidak lagi memiliki alasan untuk melanjutkan hidup.
Di tengah situasi tersebut, Ale memiliki satu keinginan sederhana, yakni menikmati seporsi mi ayam favoritnya. Namun, rencana kecil itu tidak berjalan sesuai harapan karena gerobak mi ayam langganannya tutup.
| Baca Juga: Teaser 'Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati' Dirilis, Debut Benidictus Siregar Jadi Pemeran Utama
Hal yang semula tampak sepele justru menjadi awal perjalanan Ale bertemu dengan orang-orang asing dan mengalami berbagai peristiwa tak terduga.
Melalui pertemuan-pertemuan tersebut, Ale perlahan menemukan sudut pandang baru tentang kehidupan. Ia menyadari bahwa alasan untuk terus melangkah terkadang hadir melalui hal-hal yang paling sederhana.
Merasa Dekat dengan Kesepian Ale
Kedekatan emosional dengan karakter Ale menjadi salah satu hal yang dirasakan Beni selama menjalani peran tersebut. Aktor dan komika 36 tahun ini mengaku pernah mengalami kesepian dan merasa tidak memiliki teman, sebagaimana yang dialami tokoh yang diperankannya.
“Sebenernya ini enggak jauh dari yang aku rasain ya, karena aku juga pernah mengalami apa yang dialami Ale, kesepian, enggak punya teman,” ujar Beni Siregar kepada media di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026).
| Baca Juga: Digarap Hampir 3 Tahun, Sutradara Film 'Sumpah Darah' Angkat Sisi Lain Perempuan Pekerja LC
Ia menggambarkan perasaan tersebut sebagai kondisi ketika seseorang merasa seolah-olah seluruh dunia menentangnya. Namun, pengalaman tersebut juga membuat Beni memahami bahwa alasan seseorang bertahan menjalani kehidupan tidak selalu berasal dari sesuatu yang besar.
Mendapat Kekuatan dari Interaksi Sederhana
Baginya, justru hal-hal kecil dan kehadiran orang-orang di sekitar dapat memberikan kekuatan untuk kembali melangkah.
"Yang membuatku kembali, bertahan, atau masih percaya pada hidup itu bukan hal-hal yang besar. Ternyata justru hal-hal kecil. Kalau di film ini disimbolkan sama ayam, kalau di kehidupan asliku disimbolkan sama orang-orang di sekelilingku,” tuturnya.
Beni mengaku senang berbincang dengan orang lain, termasuk orang yang baru ditemuinya. Interaksi sederhana tersebut menjadi salah satu sumber energi yang membantunya menghadapi kehidupan.
“Yang bikin aku bertahan di hidup ini adalah ngobrol sama orang-orang di sekelilingku. Enggak harus yang aku kenal, ngobrol sama orang yang baru ketemu aja tuh udah bikin energiku kembali lagi. Hal itu enggak akan bisa digantikan dengan apa pun,” ungkapnya.
Melalui pengalamannya, Beni berharap orang-orang yang sedang menghadapi situasi sulit dapat menemukan alasan untuk tetap bertahan. Ia juga berharap kisah Ale bisa menjadi pengingat bahwa alasan tersebut tidak harus berupa sesuatu yang besar atau luar biasa.
“Mudah-mudahan teman-teman di luar sana, dan mungkin aku mewakili Ale, bisa menemukan alasannya untuk bertahan. Mungkin bukan sesuatu yang besar, mungkin sesuatu yang sederhana tapi lumayan ampuh untuk membuat kita bertahan,” katanya.
Takut Ditertawakan saat Menjadi Pemeran Utama
Memerankan Ale menjadi pengalaman tersendiri bagi Beni, terlebih karena film ini memberinya kesempatan menjadi pemeran utama dalam cerita yang tidak mengandalkan unsur komedi. Beni mengaku sempat merasa takut mendapat respons yang tidak sesuai harapan.
| Baca Juga: Aurora Ribero Rasakan Kerasnya Hidup Kaum Komuter Lewat Film 'Lagi Probation'
“Jujur aku takut diketawain, sumpah. Itu pikiran pertama,” ujarnya.
Sebelum mendapatkan peran tersebut, Beni harus melalui proses casting. Bahkan, sebelum tiba di lokasi casting, ia sudah memikirkan kemungkinan tidak mendapatkan peran Ale.
"Aku masuk ke project ini lewat casting. Bahkan sebelum nyampe ke tempatnya, di pikiran aku adalah, ‘Kayaknya kalau aku enggak dapat peran ini, hidupku lebih tenang deh kayaknya,’” tuturnya.
Perasaan tersebut muncul karena Beni menyadari bahwa mendapatkan peran utama berarti menerima tanggung jawab besar yang harus diselesaikan.
“Sampai sedeg-degan itu. Karena kalau aku dapat, berarti ada beban dan kewajiban yang harus aku selesaikan, kan. Tapi ketika mendapatkan perannya, jujur happy banget,” katanya.
| Baca Juga: Reza Rahadian Garap Film 'Casparina', Kisah Neneknya yang Lama Hidup dalam Pengasingan
Konsultasi dengan Teman Psikolog untuk Mendalami Karakter Ale
Mengingat besarnya tanggung jawab sebagai pemeran utama, Beni juga melakukan sejumlah persiapan untuk memahami kondisi psikologis Ale. Salah satu langkah yang dilakukannya adalah berdiskusi dengan teman yang memiliki latar belakang di bidang psikologi.
Namun, persiapan Beni ternyata dimulai dari hal sederhana yang tidak boleh diabaikan sebelum menjalani proses syuting, yakni sarapan.
“Paling sebelum syuting sarapan sih. Minimal asam lambung aman lah ya, itu pondasi. Kalau nervous terus enggak sarapan bisa bahaya,” katanya.
Di luar persiapan fisik, Beni berusaha memastikan bahwa pengalaman dan kondisi yang dialami Ale dapat dipahami secara realistis. Ia mengaku sempat meragukan beberapa situasi dalam cerita karena belum pernah mengalaminya sendiri.
“Kebetulan aku juga temenan sama orang di bidang psikologi, aku menanyakan apakah yang dialami Ale ini realistis,” ujarnya.
Menurut Beni, ada beberapa hal dalam kehidupan Ale yang awalnya terasa sulit dipercaya. Namun, setelah berdiskusi dengan temannya, ia mendapatkan pemahaman baru mengenai kemungkinan kondisi tersebut terjadi dalam kehidupan nyata.
“Karena menurutku ada beberapa hal yang aku enggak pernah alamin, jadi awalnya aku mikir, ‘Kayaknya ini enggak mungkin.’ Tapi ternyata setelah dijelaskan temanku, ‘Oh ini ada kemungkinan, memang sering terjadi,’” tuturnya.
Selain berkonsultasi dengan teman di bidang psikologi, Beni juga banyak berdiskusi dengan para pemain lain untuk memperkaya pemahamannya terhadap karakter Ale.
| Baca Juga: Pemerintah China Rilis Dokumenter Penculikan Wang Xing: Dari Tawaran Casting hingga Dijual 3 Kali di Myanmar
Ia menyebut Chicco Kurniawan dan Teuku Rifnu Wikana sebagai dua orang yang menjadi tempatnya bertukar pikiran selama mempersiapkan peran.
“Selain itu, aku juga ngobrol sama teman-teman di film. Aku nanya banyak hal karena ini bener-bener pengalaman pertama. Semuanya di sini kuajak ngobrol sampai mereka bosan pokoknya. Itu persiapanku untuk tahu gimana sih rasanya ketika mendapatkan peran seperti Ale ini,” tutupnya.
Film produksi Sinergi Pictures dan Ben Film ini turut melibatkan sejumlah nama berpengalaman di industri perfilman Indonesia. Nia Dinata bergabung sebagai ko-produser, sementara Alim Sudio menangani penulisan skenario.
Benidictus Siregar juga didukung oleh jajaran pemain, di antaranya Chicco Kurniawan, Teuku Rifnu Wikana, Tika Panggabean, Zulfa Maharani, Nita Gunawan, Jourdy Pranata, Pangeran Lantang, dan Dewi Irawan, serta sejumlah pemain lainnya. Film ini akan tayang pada 12 November 2026. (*)







