Aulia Sarah Jalani Peran Menantang di Film Pirunduk, Belajar Bahasa Banjar Hingga Syuting Basah
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Aulia Sarah menghadapi tantangan berlapis saat memerankan Siti, karakter utama di film Pirunduk. Selain harus beradegan dengan basah saat menjadi arwah, ia juga belajar bahasa Banjar dan mengemudikan perahu jukung di sungai Kalimantan, meski tidak bisa berenang.
Film ini mengangkat legenda mistis masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan, melalui kisah seorang perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, kemudian memilih jalan ilmu hitam untuk membalas dendam setelah merasa kehilangan kendali atas hidupnya.
Bagi Aulia, Siti bukan karakter yang bisa dimainkan hanya dengan mengandalkan ekspresi menyeramkan. Ia harus menampilkan perubahan kepribadian yang tajam, dari seorang istri yang pasif dan tidak berdaya menjadi perempuan yang berani, sebelum akhirnya hadir sebagai arwah yang meneror orang-orang di sekitarnya.
“Untuk karakter Siti, memang banyak sekali lapisannya. Di awal, dia belum memakai pirunduk. Tantangannya lebih ke menjadi Siti yang pasif, tidak berdaya, dan menurut kepada suami,” ujar Aulia saat ditemui di CGV Grand Indonesia, Jakarta pada Kamis (15/10).
| Baca Juga: Aulia Sarah Jadi Sosok Alami Kekerasan, Film 'Pirunduk' Bawa Mitos Kalimantan ke Bioskop
Perjalanan Siti bermula dari kehidupan rumah tangga yang awalnya tampak sejahtera. Namun, kebahagiaan tersebut berubah menjadi penderitaan ketika ia mengalami kekerasan dan dianggap gagal memberikan keturunan.
Luka dan kekecewaan mendorong Siti mencari jalan untuk membalikkan keadaan. Ia kemudian menggunakan ilmu pirunduk, yang dalam legenda masyarakat setempat dikaitkan dengan upaya memikat atau menguasai seseorang.
Menariknya, fase ketika Siti mulai menikmati kekuatan tersebut justru menjadi bagian yang paling menyenangkan bagi Aulia. Ia dapat mengeksplorasi karakter yang sangat berbeda dari dirinya dalam kehidupan sehari-hari.
“Menurut aku, versi yang paling menyenangkan itu ketika Siti sudah memakai pirunduk. Karena kapan lagi bisa menjadi orang sombong? Cuma bisa di film,” ujar Aulia sambil tertawa.
| Baca Juga: Debut Film Horor, Laura Moane Belajar Jahit demi 'The Doll Ghawiah'
Namun, perubahan karakter Siti tidak berhenti di situ. Peralihan dari perempuan yang terluka menjadi sosok menyeramkan menuntut Aulia mengeksplorasi berbagai lapisan emosi sekaligus penampilan fisik yang berbeda.
Adegan Basah Sepanjang Syuting
Salah satu tantangan yang paling membekas bagi Aulia adalah ketika harus memerankan Siti setelah meninggal. Untuk membangun kesan arwah yang mengerikan, rambut dan pakaiannya harus terus terlihat basah sepanjang pengambilan gambar.
“Ketika menjadi arwah Siti, malah dingin banget. Karena setiap take, aku harus dalam keadaan basah. Mau siang, mau malam, mau pagi, aku selalu dalam keadaan basah dan lepek,” tutur pemeran Sri Woro Hadisono dalam film Waktu Maghrib itu.
Situasi tersebut semakin menantang karena proses syuting berlangsung di Kalimantan Selatan yang memiliki cuaca panas. Aulia harus menghadapi kondisi tubuh yang basah di tengah suhu udara yang terik.
Rekan mainnya, Yoriko Angeline, bahkan menyebut Aulia kerap mengalami masuk angin selama proses produksi.
“Masuk angin tiap hari sih,” timpal Yoriko.
Selain menjaga penampilan agar sesuai dengan kebutuhan adegan, Aulia juga menjalani tata rias efek khusus untuk memperkuat perubahan visual Siti ketika berada dalam pengaruh ilmu pirunduk.
Bucek Depp, yang turut bermain dalam film tersebut, membenarkan bahwa riasan khusus digunakan untuk menggambarkan perubahan penampilan Siti ketika terkena pengaruh ilmu tersebut.
“Ada makeup. Jadi, kalau dia berubah menjadi Siti saat dalam pengaruh pirunduk itu, ada,” ujar Bucek.
| Baca Juga: Gandhi Fernando jadi Sutradara di Thailand, Series Debutnya Sukses Peringkat 1 iQIYI Shorts Global
Belajar Bahasa Banjar dan Mengemudikan Jukung
Tantangan Aulia tidak hanya berkaitan dengan pendalaman karakter dan riasan. Ia juga harus mempelajari bahasa Banjar serta beradaptasi dengan kehidupan masyarakat setempat agar dapat menghidupkan Siti sesuai latar cerita.
“Banyak banget tantangannya. Pertama kali aku datang ke Kalimantan, bayangkan aku harus belajar bahasa Banjar, belajar bagaimana caranya membawa perahu atau kapal jukung di tengah sungai, sementara aku tidak bisa berenang,” ungkap Aulia.
Penggunaan jukung bukan sekadar pelengkap visual. Film Pirunduk mengambil latar kehidupan masyarakat Banjar pada era 1980-an, ketika sungai menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari, termasuk sebagai jalur transportasi.
“Di film ini, 80 persen kita menyajikan semuanya, kayak transportasi pakai perahu jukung. Jadi, lebih ke situ, adatnya di sana seperti apa. Memang tempat lokasinya semuanya pakai jukung yang dipakai sama Siti,” jelasnya.
| Baca Juga: Masayu Anastasia Temukan Keseruan Baru Bintangi Film Komedi Anak
Sutradara Pirunduk, Billy Christian, melihat Kalimantan memiliki kekayaan legenda dan cerita horor yang berbeda dari kisah-kisah yang selama ini lebih banyak diangkat dalam perfilman Indonesia.
Untuk memahami latar budaya yang menjadi dasar cerita, Billy mendatangi Kalimantan Selatan dan mempelajari kehidupan masyarakat Banjar secara langsung.
“Karena saya bukan orang Banjar, akhirnya saya datang langsung ke Kalimantan. Saya menyaksikan sendiri masyarakatnya seperti apa, makanannya, dan bertemu dukun lokal untuk mendengar segala sesuatu tentang Kalimantan,” ungkap Billy.
Selain mengangkat legenda lokal, film yang tayang mulai 22 Oktober 2026 ini berusaha menampilkan keindahan sungai Kalimantan sebagai bagian penting dari atmosfer cerita. Sungai bukan sekadar latar, melainkan ruang tempat kehidupan masyarakat berlangsung sekaligus lokasi yang membangun suasana mencekam.
Film Pirunduk diproduksi MD Entertainment bersama Big House Film, Bimasakti Pictures, dan Pentana Production. Selain Aulia Sarah, film ini juga dibintangi Bucek Depp, Yoriko Angeline, Alam Jaya, serta sejumlah pemain lainnya. (*)







