Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Belum usainya perseteruan Ruben Onsu dengan mantan istrinya, Sarwendah, membuat Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) merasa prihatin.

Ketua Komnas PA Agustinus Sirait menyatakan bahwa proses mediasi yang dilakukan oleh lembaganya saat ini belum membuahkan hasil. Pasca konsultasi yang dilakukan Sarwendah, pihaknya sudah melayangkan undangan kepada Ruben untuk didengarkan keterangannya.

Namun, sudah dua kali undangan, Ruben menolak untuk hadir.

"Kami menawarkan bantuan tentunya. Cuman kalau kita menawarkan bantuannya diblok seperti ini, ya apa yang bisa kita lakukan? Kami mungkin akan catat bahwa pihak RO tidak bersedia hadir," kata Agustinus Sirait.

| Baca Juga: Temani Thayaka ke Rumah Sakit, Ruben Onsu Minta Dua Minggu untuk Jawab Tawaran Mediasi Sarwendah

Komnas PA menurut Agustinus berencana melayangkan undangan ketiga kepada Ruben. Dia menyebut, Komnas PA menjamin netralitas untuk bisa mendengarkan pandangan dari kedua belah pihak.

Hal itu sekaligus menepis isu bahwa Komnas PA berpihak pada Sarwendah.

"Kita fokus pada anak, kami tidak berada di sisi orang dewasa. Kami sudah bertemu dengan anak-anak," jelasnya.

Agustinus menyatakan, pihaknya menyayangkan sikap Ruben maupun Sarwendah tak mau mengalah. Situasi itu menyebabkan konflik keduanya semakin panas.

| Baca Juga: Rumah Ruben Onsu dan Sarwendah Masuk Proses Lelang Bank, Pihak Sarwendah Minta Penundaan

"Sebetulnya kami sangat berharap segala sesuatunya sebetulnya bisa dibicarakan, (mari) duduk bersama. Kalaulah ini dilakukan sejak awal, tentu nggak akan terjadi seperti serumit ini, gitu ya. Sejak awal saya bilang duduk bersama. Ini bisa selesai, jadi nggak ke mana-mana seperti sekarang ini. Makin sulit jadinya. Karena setiap hari saling lempar apa keburukan dan sebagainya. Sehingga jalan untuk menuju mediasi perdamaian itu jadi makin sulit," ujar Agustinus.

Agustinus juga menyatakan bahwa Komnas PA adalah pihak yang secara sukarela ingin mendamaikan. Kepentingan untuk memihak pada anak menjadi urgensi karena mereka juga terpengaruh situasi yang dialami kedua orang tuanya.

"Kami adalah pihak yang mau dengan sukarela mau mendamaikan. Karena sesungguhnya, anak itu tidak boleh diperebutkan. Makanya kami menghormati proses peradilan yang sudah terjadi, tentu ya," katanya.

Agustinus juga mendorong Ruben dan Sarwendah fokus memperhatikan buah hatinya. Jangan terus menerus membuat opini, tanpa memikirkan anak mengalami tekanan psikis.

| Baca Juga: Ruben Onsu Ternyata Polisikan Sarwendah Atas Dua Dugaan Tindak Pidana

"Kami mengecam keras kedua belah pihak, apakah Ibu SW atau Bapak RO, yang sudah terus-menerus saling menyerang di ruang publik dan tidak patut dicontoh. Penanganan kasus sengketa di kami yang tadi jumlahnya setiap tahun 1.100 kasus, ini menjadi contoh buruk untuk penanganan kasus-kasus. Nggak tahu kapan akhirnya," sesalnya. Ia juga meminta hal yang sama dilakukan oleh kuasa hukum.

Ditanya lebih lanjut, ketika aksi saling serang Sarwendah dan Ruben Onsu berlanjut, hak asuh keduanya dicabut, Agustinus memilih menjawab normatif.

"Memungkinkan bisa. Kalau negara nanti melihat bahwa sering terjadi, seperti tadi yang saya sebutkan, sering terjadi berulang untuk kekerasan psikis untuk anak. Seperti itu," ujarnya. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: