Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

“Di medan inilah ‘drift’ menemukan maknanya: menjaga kesadaran atas ritme dan arah di tengah perubahan, sekaligus menjaga kemungkinan tetap hidup dan menolak menerima tatanan dunia yang ada sebagai satu-satunya yang mungkin,” jelas Linda.

Salah satu program utama Indonesian Dance Festival 2026 adalah BENTANG, program pertunjukan yang mempertemukan karya koreografi dari seniman Indonesia dan internasional dengan latar belakang serta proses penciptaan yang beragam.

| Baca Juga: 15 Jurnalis Naik Panggung Musikal, Hidupkan Kisah Ismail Marzuki

Festival akan dibuka pada 29 Oktober 2026 melalui pertunjukan Waktu Paruh, karya terbaru koreografer Hartati yang merupakan komisi Indonesian Dance Festival bersama Bakti Budaya Djarum Foundation.

Karya tersebut merefleksikan perubahan dalam tatanan sosial, etika, dan nilai kemanusiaan. Waktu Paruh juga mempertanyakan bagaimana manusia terus bergerak ketika pijakan yang selama ini menopang kehidupannya mulai mengalami perubahan.

Selain karya Hartati, program BENTANG menghadirkan La XXX Punk II: Betel Nut Green karya Fangas Nayaw dari Taiwan. Dari Jepang, kelompok team chiipro akan menampilkan MENSTRUATION SUMO DANCE, sebuah eksplorasi artistik yang mempertemukan pengalaman tubuh dan menstruasi dengan norma serta konstruksi sosial yang menyertainya.

IDF 2026 juga menghadirkan KAMPANA, laboratorium pengembangan karya yang dijalankan bersama berbagai platform dan jejaring seni dari Indonesia serta kawasan Asia Pasifik.

Adrian Koreografer KALENG ROMBENG!
Adrian Koreografer KALENG ROMBENG!. Foto: Istimewa

Melalui KAMPANA, enam karya memperlihatkan beragam pendekatan artistik dan perjalanan kreatif para seniman. Program ini tidak hanya memberikan ruang presentasi, tetapi juga membuka peluang bagi seniman untuk mengembangkan karya dan memperluas pertemuan dengan publik.

Perwakilan seniman KAMPANA, Adrian, turut membagikan pengalamannya dalam mengembangkan karya KALENG ROMBENG! setelah melalui proses di platform JICON.

“Kesempatan untuk bertemu, melakukan pengembangan karya, dan bertemu publik yang lebih luas adalah suatu kesempatan yang berharga,” ujar Adrian.

Indonesian Dance Festival 2026 juga menyelenggarakan sejumlah program pendukung, antara lain lokakarya dan Bincang Tari. Program-program ini membuka kesempatan bagi publik, seniman, dan praktisi untuk bertukar gagasan serta memperluas pemahaman mengenai praktik tari kontemporer.

IDF turut menghadirkan Simpul Gerak (Link in Motion), program jejaring internasional yang mempertemukan produser, kurator, dan praktisi seni pertunjukan dari Indonesia dengan kolega internasional. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: