Debora Mettu Ceritakan Perjuangan Perempuan Lewat 13 Look, Selipkan Kain dari Limbah Daun Nanas
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleSelain mengangkat cerita perempuan, SHE menjadi ruang Debora menguji material alternatif berupa kain serat daun nanas, yang berpotensi menjadi limbah setelah buahnya dimanfaatkan. Ia mencari bahan yang bisa dipakai untuk pakaian, bisa dicuci, dan membuka peluang kerja sama dengan perajin lokal.
Pengembangan serat daun nanas pun berlangsung sekitar satu tahun bersama perajin di Garut.
| Baca Juga: Arsitek Merangkap Desainer: Debora Mettu dan Filosofi Garis di Balik Setiap Rancangannya
Namun, material ini belum bisa dipakai secara menyeluruh karena teksturnya sangat kaku dan memengaruhi kenyamanan busana untuk penggunaan sehari-hari. Kain serat daun nanas hanya digunakan sekitar 20 hingga 22 persen pada busana, dipadukan dengan katun dan semi-wool agar bentuk dan fungsi pakaian tetap terjaga.
“Kalau digunakan terlalu banyak, busananya menjadi kurang nyaman. Jadi, kami menggunakannya pada beberapa bagian saja dan mengombinasikannya dengan material lain,” ujarnya.
Tantangan lain ada pada biaya dan perawatan. Prosesnya lebih lama dan lebih mahal dibanding bahan umum, padahal harga tetap memengaruhi keputusan beli konsumen di Indonesia. Kainnya juga dianjurkan dicuci tangan atau melalui dry cleaning yang tepat karena paparan panas berlebih dapat membuatnya menyusut atau rusak.
Karena itu, Debora belum menjadikan serat daun nanas sebagai ciri khas permanen. “Material ini belum maksimal. Kami masih perlu melakukan riset agar kualitasnya lebih baik dan bisa diterapkan dengan lebih leluasa,” katanya.
| Baca Juga: Jennifer Bachdim Terlibat di Miracle Runway, Sebut Usia Bukan Alasan Berhenti Mencoba Hal Baru
Dari sisi produksi, seluruh proses mulai dari pengembangan desain sampai pengemasan dikerjakan secara internal. Pilihan ini berkaitan dengan konstruksi busana yang relatif rumit serta perhatian pada kerapian jahitan dan ketahanan bahan.
Debora melibatkan tenaga lokal dan membina penjahit agar hasilnya konsisten. Ia juga tidak menerima produksi white label, yakni produk yang dijual dengan identitas merek pihak lain, demi menjaga keterkaitan antara desain, proses pengerjaan, dan identitas pembuatnya.
Pendekatan ini menopang perjalanan label yang telah berlangsung sekitar 13 tahun. Sebagian pelanggan setia mengikuti desainnya sejak awal dan kini mengenalkan busana tersebut kepada anak-anak mereka yang mulai remaja.
Melalui SHE, Debora memadukan cerita tentang perempuan dengan upaya mengembangkan material alternatif. Keduanya sama-sama masih berproses, seperti perempuan yang terus menyesuaikan diri dengan tuntutan hidup, sementara pemanfaatan serat daun nanas masih membutuhkan riset agar bisa diterapkan lebih luas. (*)







