Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

VIVIA MEDIA — Perempuan kerap dituntut menjalankan banyak peran sekaligus, mulai dari ibu, istri, pekerja, hingga pencari nafkah utama. Di balik semua itu, perjalanan mereka tidak selalu semulus yang terlihat dari luar.

Pengalaman tersebut menjadi titik berangkat Debora Mettu dalam merancang 13 tampilan koleksi SHE Spring/Summer 2027 yang dipresentasikan di Jakarta Fashion Week 2027.

Debora mengamati perempuan-perempuan di sekelilingnya yang terus berjuang menjalani berbagai peran.

“Perempuan itu punya banyak sekali peran. Di rumah kita bisa menjadi ibu, di tempat lain menjalankan pekerjaan yang berbeda. Setiap hari kita berusaha menyesuaikan diri dengan peran-peran itu, padahal perjalanan yang kita lalui tidak selalu mudah,” ujarnya di sela-sela Jakarta Fashion Week 2027 di Pondok Indah Mall 3, Jakarta, Senin (26/10/2026).

| Baca Juga: Rayakan Halloween 2026, Paris Hilton Jadi Britney Spears Hingga Princess Belle

Alih-alih menampilkan sosok perempuan ideal, pemilik dan pendiri Saul Studio itu memilih mengangkat proses yang dijalani perempuan untuk menghadapi perubahan. “Tidak ada perempuan yang benar-benar sempurna. Saya ingin menggambarkan bahwa kita sebenarnya sedang berjuang bersama-sama,” katanya.

Gagasan tersebut diterjemahkan melalui siluet asimetris dan konstruksi arsitektural, yang dipengaruhi latar belakang Debora sebagai lulusan Arsitektur Universitas Tarumanagara sekaligus alumnus Esmod Jakarta. Bentuk yang tidak simetris menggambarkan hidup yang kerap berjalan di luar rencana.

Pesan itu juga hadir lewat warna. Koleksi dibuka dengan gaun panjang putih dan ditutup gaun panjang hitam, sebagai gambaran perjalanan perempuan dari satu fase ke fase berikutnya. Warna ivory mendominasi sekitar 75 persen koleksi, dipadukan dengan abu-abu yang mewakili ketidakpastian dan aksen oranye sebagai simbol kebahagiaan di tengah perjuangan.

Debora juga melibatkan empat muse dengan karakter berbeda. Livia Lukman mewakili sosok ibu yang feminin, diterjemahkan lewat bentuk menyerupai balon. Valen Amijo, yang berprofesi sebagai influencer, chef, dan pemilik restoran, menggambarkan perempuan dengan beragam tanggung jawab.

| Baca Juga: Dior hingga Chanel, Adu Gaya Pemain Sepak Bola di Karpet Merah Ballon d'Or 2026

Lalu, Melaney Ricardo mewakili perempuan yang menjalani peran ibu sekaligus figur publik, sedangkan Indy Barends dipilih karena karakternya yang ceria dan apa adanya.

Perbedaan itu sejalan dengan gagasan bahwa pengalaman perempuan tidak bisa diseragamkan. Karena itu, busananya dirancang untuk beragam kebutuhan, dari berjalan santai, bekerja, hingga acara khusus, dengan sasaran perempuan berusia 25 hingga 50 tahun.

Selain mengangkat cerita perempuan, SHE menjadi ruang Debora menguji material alternatif berupa kain serat daun nanas, yang berpotensi menjadi limbah setelah buahnya dimanfaatkan. Ia mencari bahan yang bisa dipakai untuk pakaian, bisa dicuci, dan membuka peluang kerja sama dengan perajin lokal.

Pengembangan serat daun nanas pun berlangsung sekitar satu tahun bersama perajin di Garut.

| Baca Juga: Arsitek Merangkap Desainer: Debora Mettu dan Filosofi Garis di Balik Setiap Rancangannya

Namun, material ini belum bisa dipakai secara menyeluruh karena teksturnya sangat kaku dan memengaruhi kenyamanan busana untuk penggunaan sehari-hari. Kain serat daun nanas hanya digunakan sekitar 20 hingga 22 persen pada busana, dipadukan dengan katun dan semi-wool agar bentuk dan fungsi pakaian tetap terjaga.

“Kalau digunakan terlalu banyak, busananya menjadi kurang nyaman. Jadi, kami menggunakannya pada beberapa bagian saja dan mengombinasikannya dengan material lain,” ujarnya.

Tantangan lain ada pada biaya dan perawatan. Prosesnya lebih lama dan lebih mahal dibanding bahan umum, padahal harga tetap memengaruhi keputusan beli konsumen di Indonesia. Kainnya juga dianjurkan dicuci tangan atau melalui dry cleaning yang tepat karena paparan panas berlebih dapat membuatnya menyusut atau rusak.

Karena itu, Debora belum menjadikan serat daun nanas sebagai ciri khas permanen. “Material ini belum maksimal. Kami masih perlu melakukan riset agar kualitasnya lebih baik dan bisa diterapkan dengan lebih leluasa,” katanya.

| Baca Juga: Jennifer Bachdim Terlibat di Miracle Runway, Sebut Usia Bukan Alasan Berhenti Mencoba Hal Baru

Dari sisi produksi, seluruh proses mulai dari pengembangan desain sampai pengemasan dikerjakan secara internal. Pilihan ini berkaitan dengan konstruksi busana yang relatif rumit serta perhatian pada kerapian jahitan dan ketahanan bahan.

Debora melibatkan tenaga lokal dan membina penjahit agar hasilnya konsisten. Ia juga tidak menerima produksi white label, yakni produk yang dijual dengan identitas merek pihak lain, demi menjaga keterkaitan antara desain, proses pengerjaan, dan identitas pembuatnya.

Pendekatan ini menopang perjalanan label yang telah berlangsung sekitar 13 tahun. Sebagian pelanggan setia mengikuti desainnya sejak awal dan kini mengenalkan busana tersebut kepada anak-anak mereka yang mulai remaja.

Melalui SHE, Debora memadukan cerita tentang perempuan dengan upaya mengembangkan material alternatif. Keduanya sama-sama masih berproses, seperti perempuan yang terus menyesuaikan diri dengan tuntutan hidup, sementara pemanfaatan serat daun nanas masih membutuhkan riset agar bisa diterapkan lebih luas. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: