Desy Ratnasari Dituntut Fasih Bahasa Minang di Film Hamka Terbaru, Sempat Kacaletot Deui
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Desy Ratnasari menghadapi tantangan tersendiri saat memerankan Sitti Shafiah, ibu Buya Hamka, dalam film Hamka Awal Mula Vol 3. Terbiasa berbicara dengan logat Sunda, aktris asal Sukabumi itu harus memastikan dialek tersebut tidak terbawa saat mengucapkan dialog dalam bahasa Minang.
Untuk membantu proses tersebut, Desy mendapat pendampingan mentor bahasa selama menjalani syuting. Ia mengaku harus terus berhati-hati agar pengucapan dan logatnya sesuai dengan karakter yang diperankan.
"Terus terang mendapatkan peran sebagai ibunya Hamka kecil ini tantangan ya, karena harus bisa bahasa Minang. Walaupun saya pernah main Malin Kundang pada saat itu, tapi di sini betul-betul ada beberapa kalimat yang memang dan juga logatnya kalau enggak punya mentor," kata Desy saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Menurut Desy, mempelajari bahasa Minang untuk film ini membutuhkan perhatian khusus. Ia bahkan masih didampingi mentor ketika kamera mulai merekam adegan.
| Baca Juga: Vino G. Bastian Kembali Perankan Buya Hamka di Film 'Hamka Awal Mula Vol 3'
"Sampai syuting ya. Kalau saya syuting sih saya ditemani terus," ujarnya.
Desy juga mengaku khawatir logat Sunda yang biasa digunakannya muncul tanpa sengaja ketika berdialog. Ia menceritakan pengalaman tersebut dengan nada bercanda.
"Supaya tidak salah. Karena tidak sengaja kayak keluar Sunda lagi gitu kan. Kacaletot deui (salah ucap) gitu kan. Jadi harus nah itu pengalamanlah ya, pengalaman jadi alhamdulillah dikasih pelajaran gratis," tuturnya.
Di luar tantangan bahasa, Desy juga harus memahami sosok Sitti Shafiah sebagai ibu yang memberikan kasih sayang kepada Hamka kecil di tengah pola asuh ayahnya, Haji Rasul (Donny Damara), yang keras.
| Baca Juga: Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun Dikaitkan dengan Film India 'Vadh'
Menurut Desy, kedua orang tua Hamka memiliki cara berbeda dalam mendidik anak. Haji Rasul digambarkan memiliki tuntutan tinggi terkait agama, perilaku, akhlak, dan adab. Sementara itu, Sitti Shafiah hadir dengan pendekatan yang lebih lembut.
"Kami sebagai orangtua punya cara mengasuh anak yang berbeda. Ibu tentunya akan lebih banyak sisi kelembutannya untuk bisa mendidik anaknya pada saat ayahnya sangat keras," ungkapnya.
"Keras itu secara fisik, secara apresiasi maupun secara verbal gitu ya. Ibunyalah yang kemudian mem-balance hal itu ketika Hamka kecil," lanjut Desy.
Salah satu bagian cerita yang menurutnya paling berat adalah ketika Sitti Shafiah harus meninggalkan Hamka kecil karena persoalan dalam hubungannya dengan sang suami.
Desy menilai perpisahan itu menjadi pengalaman sulit bagi seorang anak yang masih membutuhkan kehadiran ibu sebagai tempat bersandar.
"Itu menurut saya adalah sisi paling rapuh seorang anak ketika ditinggalkan oleh seorang ibu yang saya yakin Hamka kecil pada saat itu berpikir bahwa ini adalah sandaranku gitu, kasih sayangku," katanya.
Meski menghadapi pola asuh yang keras dan perpisahan dengan ibunya, Hamka kecil digambarkan terus berusaha menghadapi kesulitan. Desy menilai pengalaman tersebut turut membentuk ketangguhan tokoh yang kelak dikenal sebagai ulama besar itu.
"Pelajaran penting juga yang saya dapat dari seorang Buya Hamka pada masa kecilnya adalah tempaan keras itu justru membuat dia terus mencari, terus mencari, terus mencari dan resiliensinya itu jadi tough gitu, jadi kuat gitu," tutur Desy.
| Baca Juga: Tayang di Indonesia, ini dia 5 Fakta Menarik Film The Intern Versi Korea
Film Hamka Awal Mula Vol 3 mengangkat kehidupan awal Buya Hamka, mulai dari masa kecil hingga pertemuannya dengan sejumlah tokoh penting nasional. Meski menjadi penutup trilogi, film ini mengambil latar prekuel atau waktu sebelum dua film sebelumnya. (*)







