Dari Pelajar hingga Umum, 'Layar Tancap' Hidupkan Ekosistem Film Pendek Surabaya
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Ekosistem perfilman independen di Surabaya semakin menggeliat. Mengusung semangat apresiasi karya lokal, ajang pemutaran film pendek bertajuk ‘Layar Tancap #1’ sukses digelar di Canteen 36, Surabaya pada Minggu (1/11/2026).
Acara tersebut merupakan hasil kolaborasi antara komunitas Wani Piro, Canteen 36, Public Dialogue, Pwo Films, dan Ted’s Acting Class. Tidak hanya pemutaran film, ajang tersebut juga dirancang sebagai forum diskusi interaktif bagi para sineas.
Teddy Ferian, selalu penyelenggara yang juga seorang acting coach sekaligus aktor, mengungkap rasa syukur dan antusiasmenya atas sambutan warga Surabaya terhadap ‘Layar Tancap #1’.
| Baca Juga: Nex Carlos Ajak Anak Muda Naikkan Kuliner Tradisional Indonesia
“Ya senang (dengan antusiasme), karena yang datang juga ramai, terus happy juga karena bisa menggelar acara seperti ini di Surabaya,” ujarnya kepada VIVIA Media.
Ia menegaskan, acara mereka terbuka luas bagi siapa pun yang ingin berkarya, tanpa harus berasal dari kalangan industri perfilman profesional.
“Nggak harus orang film yang kayak gimana, maksudnya nggak harus orang dari industri yang bikin. Kami ada untuk men-support anak-anak kampus, anak-anak SMK, kreator-kreator muda yang bikin film nanti kita putar di sini,” jelasnya.
Dalam gelaran perdananya, ‘Layar Tancap #1’ memutar tiga film pendek dari para kreator dengan latar belakang berbeda.
Salah satunya adalah ‘Irisan Tanda Mata’ garapan sutradara Ahmad Candi dan Fikri Ramadhan. Ada juga karya debut penyutradaraan mahasiswa Universitas Dinamika Surabaya (STIKOM), Riko Leo Trisnanta, yang bertajuk ‘Jepretan Bayang’.
| Baca Juga: Selain Teuku Ryan, Pemeran 'Agent Kim Reactivated' Ini Juga Mirip Artis Indonesia

Selain itu, momen diskusi menarik terjadi usai pemutaran film ‘The House After You karya Alden Adika Pratama. Film tersebut merupakan karya tugas akhir sang sutradara saat masih duduk di bangku kelas 12 SMK Negeri 12 Surabaya.
Menurut Teddy, esensi utama dari acara tersebut memang bukan sekadar menonton, melainkan ruang bertukar gagasan melalui sesi diskusi.
“Pentingnya adalah diskusi tersebut untuk mereka-mereka yang filmnya diputar mungkin sebagai studi. Karena satu antara sama lain film kan beda-beda cara pengambilan gambarnya, cerita, terus bagaimana dia mengatur emosi di dalam film tersebut. Mereka nanti dari Layar Tancap ini bisa belajar, minimal itu,” terangnya.
Melihat antusiasme masyarakat Kota Pahlawan, Teddy Ferian berencana untuk menggelar ‘Layar Tancap’ secara berkala.
“Baru ini (‘Layar Tancap’ digelar), nanti kami akan gelar tiap bulan sekali. Jadi nanti dari para sineas-sineas Surabaya, bisa juga dari anak kampus, anak SMK, yang mau terlibat, kita putar filmnya untuk nonton ramai-ramai sambil diskusi,” ucapnya.
| Baca Juga: Lakoni Adegan Laga, Wendi Cagur dan Patricia Gouw Rambah Industri Film Hong Kong?
Melalui konsistensi acara tersebut, Teddy dan para kolaborator berharap agar ekosistem perfilman lokal menjadi lebih maju.
“Harapannya supaya para sineas lebih giat lagi. Nantinya industri perfilman Surabaya lebih maju lagi dalam membuat film. Baik itu dari sekolah-sekolah, dari kampus-kampus gitu,” harapnya.
Informasi lebih lanjut mengenai ‘Layar Tancap’ edisi berikutnya maupun kegiatan perfilman lainnya bisa dipantau melalui Instagram resmi Wani Piro. (*)







