Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral

Add VIVIA Media on Google

Perkembangan AI justru menjadi pengingat bahwa desainer perlu terus meningkatkan kemampuan agar tidak tertinggal di tengah perubahan industri fashion.

Ia mengakui, kondisi ekonomi dan politik yang dinamis terkadang memengaruhi semangat para pelaku industri kreatif.

“Namun semangat harus dibangkitkan agar kita terus menghasilkan kreativitas dan inovasi baru setiap tahun,” tuturnya.

| Baca Juga: Mengapa Para Desainer Kini Kembali Mencari Artisan? Ini Alasannya

Susan juga mengapresiasi kehadiran talenta muda yang berani menawarkan gagasan segar. Menurutnya, desainer senior pun harus memiliki semangat yang sama untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas karya.

“Desainer senior tidak boleh kalah semangat. Banyak talenta muda dengan karya yang sangat bagus. Kalau kita tidak terus berinovasi, mengembangkan detail, dan meningkatkan kualitas karya, kita bisa tertinggal,” ujarnya.

Selain mengikuti perkembangan teknologi, Susan menilai warisan budaya Indonesia tetap jadi sumber inspirasi. Tapi tidak harus ditampilkan secara konvensional. Dapat diolah melalui pendekatan desain modern tanpa kehilangan identitasnya.

| Baca Juga: Di Balik Dress Pink Olivia Rodrigo, Ada Kisah Perjuangan Desainer Palestina

Bagi Susan, perkembangan industri fashion bukan sekadar mengikuti kecanggihan teknologi. Desainer tetap perlu memiliki identitas, keberanian mengeksplorasi gagasan, dan kemampuan menghadirkan cerita melalui setiap karya.

AI mungkin dapat membantu mengubah sketsa menjadi visual busana yang realistis. Namun, teknologi tersebut tetap membutuhkan sentuhan manusia untuk menentukan arah, karakter, dan makna sebuah rancangan.

Pada akhirnya, kecanggihan alat tidak menggantikan kreativitas, melainkan membuka ruang baru bagi desainer untuk mengembangkan potensinya. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: