VIVIA MEDIA — Kolaborasi Indonesia Kaya, Jakarta Movin, dan MALIQ & D'Essentials menghadirkan kisah tentang harapan, keluarga, serta tanggung jawab manusia menjaga kehidupan.

Setelah proses kreatif lebih dari dua tahun, musikal orisinal Senja Teduh Pelita resmi dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, mulai 3 hingga 12 Juli 2026. Dipersembahkan oleh Indonesia Kaya dan Jakarta Movin bersama MALIQ & D'Essentials, pertunjukan ini memadukan fiksi ilmiah, musik, dan teknologi panggung dengan pesan menjaga bumi bagi generasi mendatang.

Bertepatan dengan libur sekolah, musikal ini mengisahkan petualangan sembilan anak yang bertahan hidup di tengah dunia yang telah runtuh, mengajak penonton merefleksikan hubungan manusia dengan alam, makna keluarga, dan harapan di tengah ketidakpastian.

Program Manager Indonesia Kaya, Billy Gamaliel, mengatakan seni pertunjukan berperan membangun dialog lintas generasi.

| Baca Juga: Lewat Single 'Drip', Ticya Ngaku Centil dan Suka Bercermin

"Kami percaya seni pertunjukan memiliki kekuatan untuk menghubungkan generasi sekaligus mengajak masyarakat berefleksi. Melalui Musikal Senja Teduh Pelita ini, kami ingin terus mendukung lahirnya karya-karya berkualitas dan memberi ruang berkembang bagi talenta muda yang memperkuat ekosistem seni pertunjukan Indonesia," ujar Billy.

Berawal dari Gagasan pada 2023

Produser sekaligus sutradara, Nuya Susantono, mengatakan ide mengadaptasi lagu-lagu MALIQ & D'Essentials ke panggung musikal lahir dari keinginan menghadirkan karya lintas generasi.

"Kami menginterpretasikan karya MALIQ & D'Essentials ke panggung musikal sudah ngobrol dari tahun 2023. 'Asyik kali ya kalau jadi musikal.' Kita juga inline dengan value generational connection dan bisa terus hidup ke generasi mendatang. Karya yang timeless dan tidak hanya kekinian," kata Nuya saat ditemui di Graha Bhakti Budaya, Jumat (3/7).

Cerita berangkat dari eksplorasi sembilan album MALIQ & D'Essentials yang menemukan tema-tema universal.

| Baca Juga: She Said Yes! Maria Simorangkir 'Indonesian Idol' Dilamar Kekasih

"Aku mendengarkan sampai sembilan album. Terinspirasi dari variasi lagu-lagu MALIQ, bumi, dan bunyi-bunyi dalam lapisan musiknya. Banyak lagu yang berbicara tentang kehidupan, perjuangan, keraguan, hingga pencarian makna hidup. Semua itu sangat manusiawi dan berpotensi menjadi cerita penuh petualangan," ujarnya.

"Akhirnya sudah show pertama hari ini. Bersyukur banget. Mudah-mudahan penonton dan masyarakat Indonesia bisa mendapat manfaat juga dari karya ini, untuk musik Indonesia dan kemajuan teater musikal," kata Nuya.

Petualangan Sembilan Anak Mencari Harapan

Salah satu adegan Musikal Senja Teduh Pelita
Salah satu adegan Musikal Senja Teduh Pelita. Foto: Istimewa

Senja Teduh Pelita membawa penonton ke masa depan ketika bumi hancur akibat perubahan iklim, pembangunan tak berkelanjutan, krisis energi, pandemi, dan peperangan antarbangsa. Populasi manusia menyusut, sumber daya alam langka, dan seluruh orang dewasa tiba-tiba menghilang.

Arah—diperankan bergantian oleh Alf Elijah Sigarlaki dan Daria Lakshmi Algamar—membentuk Pasukan Pelita, sembilan anak dengan kemampuan berbeda: Kala, Volta, Langit, Hara, Palu, Raga, Binbin, dan Lagu. Mereka mencari orang tua sekaligus harapan baru bagi kehidupan.

| Baca Juga: Untuk Nonton T.O.P di Jakarta, Netizen: Tuyul atau Cari Pesugihan?

Perjalanan membawa mereka ke Teluk Pelita, kawasan yang masih lestari. Di sana mereka dihadapkan pilihan sulit: melanjutkan pencarian keluarga atau membangun kehidupan baru. Pertunjukan ini menegaskan bahwa ancaman terbesar bagi masa depan bukan hanya kehancuran alam, melainkan juga keserakahan manusia.

"Kisah yang terjadi di Musikal Senja Teduh Pelita adalah sebuah universe yang lahir dari inspirasi atas kejeniusan bunyi dan aksara khas MALIQ & D'Essentials yang indah, dekat, dan penuh refleksi atas hidup yang kita jalani. Bahwa di dalam diri kita ada cinta besarnya Arah yang akan melakukan apa pun untuk orang yang disayanginya. Dalam diri kita pula ada Kala yang berani berpikir kritis tentang benar dan salah. Dan kita semua adalah Pasukan Pelita yang terus bertahan dan berjuang merawat kehidupan," jelas Nuya.

Ketika Lagu-Lagu MALIQ Menjadi Sebuah Cerita

Sebanyak 20 lagu MALIQ & D'Essentials—termasuk Senja Teduh Pelita, Himalaya, Aurora, Jalan Pulang, hingga lagu dari album Begini Begitu—menjadi fondasi perjalanan emosional para tokoh.

"Hari ini, lewat Musikal Senja Teduh Pelita, lagu-lagu kami menemukan rumah baru. Mereka tidak lagi hanya hadir untuk didengar, tetapi juga untuk dilihat, dirasakan, dan dihidupkan dalam sebuah dunia yang baru. Semoga setelah pertunjukan ini selesai, lagu-lagu itu pulang bersama kalian dengan cara dan rasa yang baru," ujar Angga Puradiredja, vokalis MALIQ.

| Baca Juga: FIFA Nego Justin Bieber Untuk Tampil di Halftime Piala Dunia 2026

Tokoh utama Arah diperankan dalam dua interpretasi, laki-laki dan perempuan, dengan pendekatan emosional berbeda meski alur cerita sama.

"Arah mengajarkan saya bahwa menjadi pemimpin bukan berarti selalu memiliki jawaban. Yang terpenting adalah tetap membawa harapan ketika semua orang kehilangan arah," kata Alf Elijah.

"Bagi saya, Arah mengajarkan bahwa harapan dan kasih sayang adalah kekuatan yang membuat kita terus melangkah. Saya berharap setiap penonton bisa menemukan dirinya sendiri dalam perjalanan Arah," ujar Daria.

Didukung 200 Insan Kreatif

Musikal ini melibatkan 32 pemeran, termasuk 11 aktor anak, dan sekitar 200 insan kreatif di balik layar. Tata panggung memadukan multimedia, projection mapping, laser, set modular, koreografi, tata cahaya dan kostum, hingga puppetry satwa khas Indonesia seperti rusa, burung camar, dan elang.

| Baca Juga: GME Rilis Single 'Salah', Kolaborasi dengan Fiersa Besari

Musik dibawakan langsung oleh Wishnu Dewanta Orchestra. Adegan laut divisualisasikan melalui laser, efek visual, dan koreografi ensemble yang membentuk ikan-ikan serta kunang-kunang.

Mengajak Penonton Bergerak Menjaga Bumi

Penyelenggara menggandeng Remind Indonesia mengajak penonton mendaur ulang sampah elektronik seperti telepon genggam, headset, dan kabel selama periode pertunjukan.

"Kami berharap setiap orang pulang dari pertunjukan ini dengan satu pertanyaan sederhana: dunia seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi masa depan? Semoga karya ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menggerakkan hati dan pikiran kita ke arah yang luhur," kata Nuya. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: