Comeback Dunia Akting, Sonny Septian Akting Bareng Istri di Film Anak-Anak Bambu
VIVIA MEDIA — Aktor Sonny Septian akhirnya kembali ke dunia akting setelah hampir enam tahun vakum dari sinetron maupun film televisi (FTV). Selama beberapa tahun terakhir, aktor 42 tahun ini lebih banyak berkarier sebagai presenter dan mengaku menikmati perjalanannya di dunia hosting hingga sempat menolak berbagai tawaran bermain sinetron.
Kini, kerinduan terhadap dunia seni peran akhirnya terobati melalui film drama keluarga Anak-Anak Bambu. Film produksi Theana Pictures tersebut menjadi penanda kembalinya Sonny ke lokasi syuting sekaligus membuka peluang baginya untuk kembali aktif berakting.
"Bisa dibilang sebagai momen comeback saya ke dunia akting. Setelah sekitar enam tahun saya tidak main sinetron atau FTV karena lebih nyaman menjadi host," ungkap Sonny Septian saat berkunjung ke redaksi Vivia Media di Jakarta, Senin (6/7/2026).
"Jadi pas melihat set film lagi, ikut proses reading, di lokasi, lalu berakting lagi dan bertemu teman-teman baru selain istri sendiri, rasanya senang sekali. Seperti memuaskan kerinduan saya pada akting," sambung Sonny.
| Baca Juga: Andovi da Lopez Jadi Calon Gubernur yang Tak Bisa Bohong di Film 'Bapak Paling Jujur'
Selama vakum, Sonny sebenarnya mengaku tidak pernah kehilangan tawaran bermain sinetron. Namun, ia memilih menunda semuanya karena merasa lebih nyaman menjalani profesi sebagai pembawa acara.
"Ya, itu tadi, karena sedang nyaman di dunia hosting. Banyak tawaran dari PH lain untuk main sinetron, tapi saya bilang nanti dulu. Mungkin karena ini panggilannya dari kakak sendiri ya, jadi susah buat menolak," katanya sambil tertawa.
Setelah kembali menjalani proses produksi film, Sonny menyadari kecintaannya terhadap dunia akting belum pernah hilang.
"Ternyata saya memang masih sangat cinta dengan dunia akting. Untuk ke depannya, mungkin akan mulai dipikirkan lagi untuk lebih aktif," ujarnya.
Mengandalkan Muscle Memory untuk Mengembalikan Kemampuan Akting
Kembali berakting setelah jeda yang cukup panjang tentu bukan perkara mudah. Sonny mengaku sempat merasa kaku saat harus kembali berada di depan kamera.
| Baca Juga: Buntut Skandal Guo Yuxin, Perilisan Drama ‘The Lament of Autumn’ Terancam Mundur
Namun, ia percaya pengalaman panjangnya sebagai aktor membuat kemampuan aktingnya tidak benar-benar hilang. Ia berusaha memanggil kembali ingatan tubuh atau muscle memory yang selama bertahun-tahun terbentuk lewat berbagai produksi sinetron dan FTV.
"Rasa kaku pasti ada, tapi saya mencoba me-recall lagi memori-memori lama. Di dalam tubuh kita kan ada yang namanya muscle memory, begitu juga dengan ingatan rasa dan gestur. Itu yang saya coba panggil kembali," paparnya.
Untuk memaksimalkan penampilannya, Sonny menjalani proses reading secara intensif dan rutin membaca ulang naskah bersama istrinya, Fairuz A Rafiq, di rumah.
"Makanya ada proses reading yang cukup intens. Saya juga banyak baca ulang skenario bareng istri di rumah supaya hasilnya tidak mengecewakan tim," jelasnya.
Perankan Suami yang Berjuang Melawan Stroke
Dalam Anak-Anak Bambu, Sonny memerankan Baskara, suami dari Bilqis yang diperankan Fairuz A Rafiq. Menurut Sonny, Baskara merupakan sosok suami yang sangat mencintai istrinya dan sangat bergantung pada kehadiran Bilqis dalam kehidupannya.
Meski demikian, Baskara bukanlah karakter suami yang sempurna. Ia harus menghadapi kondisi kesehatan yang mengubah kehidupannya setelah terserang stroke.
Peran tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Sonny karena tidak hanya menampilkan kondisi fisik seseorang yang sakit, tetapi juga pergolakan batin yang mendalam.
Sonny mengaku memanfaatkan pengalaman pribadinya saat pernah mengalami sakit untuk membangun karakter Baskara. Ia pernah mengalami penyempitan pembuluh darah di bagian otak dan leher yang disertai gejala stroke ringan pada 2024 lalu.
"Saya pernah punya pengalaman sakit juga dulu, jadi saya mencoba meminjam atau me-deliver kembali rasa saat aku sedang sakit itu ke dalam karakter Baskara," terangnya.
| Baca Juga: Tantangan Baru Unang Bagito dan Bukie Mansyur di Film MAJU: Jejak Pahit si Kembang Gula
Menurutnya, kondisi stroke yang dialami Baskara dalam film bukanlah stroke yang membuat seluruh tubuh lumpuh total. Secara fisik, Baskara sudah mampu bergerak hampir normal, meski masih merasakan nyeri dan keterbatasan pada beberapa bagian tubuh. Justru yang lebih dominan adalah luka batin akibat perubahan kondisi hidupnya.
"Namun fokus utamanya lebih ke mentalnya. Mental Baskara ini yang lebih merasakan sakit; perasaan tidak berdaya, merasa menjadi suami yang tidak berguna, stres, dan rasa drop-nya itu yang lebih aku tonjolkan dalam setiap take," papar ayah dua anak ini.
Tantangan Beradu Akting dengan Istri Sendiri
Menariknya, Sonny dipasangkan dengan Fairuz A Rafiq sebagai suami istri, sama seperti kehidupan mereka di dunia nyata.
Meski chemistry bukan lagi persoalan, keduanya justru menghadapi tantangan berbeda, yakni memisahkan emosi pribadi dengan karakter yang mereka perankan.
Fairuz mengatakan hubungan mereka sebagai pasangan justru mempermudah pembangunan chemistry di depan kamera.
| Baca Juga: Akting Depan Kamera, Faris Fadjar Akui Beban Berat Jadi Anak Aktor Laga Cecep Arif Rahman
"Iya betul, di film ini kami memang kembali menjadi pasangan suami istri. Tapi tentu saja ada perbedaan karakter antara kami di rumah dan di layar lebar," jelas Fairuz.
Peran sebagai Pengasuh Panti Asuhan
Berbeda dengan Sonny yang lebih fokus mendalami kondisi psikologis Baskara, Fairuz harus mempersiapkan diri untuk memerankan Bilqis, seorang pengasuh anak-anak panti asuhan. Ia melakukan observasi untuk memahami keseharian para pengasuh panti asuhan agar karakter Bilqis terasa lebih autentik.
"Aku banyak belajar melalui observasi dan mengembangkan ilmu akting yang aku punya. Aku mencoba mempelajari bagaimana sebenarnya sosok pengasuh anak di sebuah panti asuhan, seperti apa pendekatannya," jelas Fairuz.
Anak-Anak Bambu merupakan film drama keluarga produksi Theana Pictures yang disutradarai Dyan Sunu Prastowo. Film ini diproduseri Elma Theana dengan naskah karya Archie Hekagery.
| Baca Juga: Sinetron 'Sebening Cinta', Dilema Asmara Zoe Abbas - Rizky Nazar di Tengah Hadirnya Fandy Christian
Film tersebut mengangkat kisah kehidupan sekitar 50 anak yatim yang tinggal bersama di sebuah panti asuhan. Konflik bermula ketika panti yang menjadi rumah mereka terancam dijual demi menyelesaikan persoalan keluarga.
Seorang perempuan bernama Netta awalnya meyakini bahwa menjual panti merupakan keputusan terbaik. Namun, pandangannya perlahan berubah setelah mengenal satu per satu anak-anak yang tinggal di sana.
Ia menyaksikan bagaimana anak-anak itu tetap mampu tertawa meski kehilangan orang tua, terus bermimpi di tengah keterbatasan, hingga akhirnya bertemu dengan seorang bocah bernama Gebang yang mengajarkannya makna keluarga yang sesungguhnya. (*)







