VIVIA MEDIA — Banyak orang baru menyadari pentingnya menjaga kekuatan otot ketika memasuki usia lanjut. Padahal, penurunan massa otot sebenarnya telah dimulai jauh lebih awal, yakni sejak usia sekitar 30 tahun. Jika dibiarkan berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi sarcopenia, yaitu penurunan massa, kekuatan, dan fungsi otot yang berdampak luas terhadap kesehatan.

Sarcopenia bukan sekadar membuat tubuh terasa lebih lemah. Kondisi ini dapat mengurangi kemampuan seseorang bergerak, menurunkan produktivitas, hingga mengganggu kemandirian dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Andhika Raspati, Sp.KO, mengatakan, masih banyak masyarakat yang belum menyadari bahaya sarcopenia karena prosesnya berlangsung perlahan dan sering dianggap sebagai bagian normal dari penuaan.

Padahal, menurutnya, dampak sarcopenia jauh lebih besar dibanding sekadar berkurangnya kekuatan otot.

| Baca Juga: Sering Konsumsi Minuman Berenergi? Kenali Risiko bagi Kesehatan Gigi dan Mulut

“Sarcopenia tidak hanya memengaruhi kekuatan otot, tetapi juga kualitas hidup secara keseluruhan. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan sarcopenia memiliki kualitas hidup yang lebih rendah, termasuk keterbatasan aktivitas, penurunan mobilitas, hingga peningkatan kelelahan dan nyeri. Bahkan, risiko penurunan fungsi fisik dan kognitif dapat meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan individu tanpa sarcopenia,” ujar dr. Andhika saat kegiatan Hilo Strong Fest 2026 di SCBD, Jakarta baru-baru ini.

Dampak sarcopenia ternyata tidak berhenti pada menurunnya kemampuan bergerak. Berkurangnya massa otot juga memengaruhi cara tubuh mengolah energi.

Fenomena ini sering kali dirasakan banyak orang ketika memasuki usia 40-an. Berat badan menjadi lebih mudah naik meski pola makan tidak banyak berubah. Bahkan, tidak sedikit yang mengaku sudah mengurangi porsi makan, tetapi angka timbangan tetap bertambah.

Menurut dr. Andhika, kondisi tersebut berkaitan erat dengan penurunan massa otot yang membuat metabolisme tubuh ikut melambat.

| Baca Juga: Studi: Mengasuh Anak Ternyata Ampuh Untuk Kesehatan Otak Ayah

“Banyak yang ngerasa, ‘oh kok umur 40-an, minum air doang nambah gemuk gitu. Kenapa?’ Metabolismenya udah melorot. Kenapa? Kok melorot? Karena ototnya kempes. Tadi, (karena) sarcopenia,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa jaringan otot merupakan salah satu tempat utama berlangsungnya proses metabolisme. Semakin besar massa otot yang dimiliki seseorang, semakin tinggi pula kemampuan tubuh membakar kalori dan lemak.

Sebaliknya, ketika massa otot terus menyusut, metabolisme melambat sehingga pembakaran energi menjadi tidak seefisien sebelumnya. Akibatnya, berat badan lebih mudah meningkat meski asupan makanan relatif sama.

Bukan Hanya Berat Badan, Risiko Penyakit Metabolik Ikut Meningkat

Perlambatan metabolisme akibat berkurangnya massa otot juga berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit metabolik, seperti diabetes, kolesterol tinggi, hingga hipertensi.

| Baca Juga: Jangan Duduk Terus, Jalan Kaki Setiap 30 Menit Bisa Jaga Tubuh dari Kanker

Menurut dr. Andhika, masih banyak orang yang hanya berfokus pada makanan sebagai penyebab tingginya kolesterol. Padahal, kemampuan tubuh membakar lemak juga sangat dipengaruhi oleh jumlah massa otot.

“Jadi banyak orang, kolesterol tinggi langsung nyalahin kambing gitu. Padahal, mungkin bukan soal kambingnya, tapi ototnya dia enggak ada,” kata dr. Andhika.

Karena itu, menjaga massa otot seharusnya dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh, bukan semata-mata untuk membentuk tubuh yang ideal.

Penurunan Massa Otot Bisa Diperlambat

Meski merupakan bagian dari proses penuaan, penurunan massa otot bukan berarti tidak dapat dicegah.

Menurut dr. Andhika, laju penyusutan otot sangat dipengaruhi oleh gaya hidup. Orang yang rutin melakukan latihan penguatan otot umumnya mampu mempertahankan massa otot lebih lama dibandingkan mereka yang kurang aktif bergerak. Dampaknya, metabolisme tubuh pun tetap bekerja lebih baik hingga usia lanjut.

| Baca Juga: Perdarahan Tidak Teratur Jangan Dianggap Wajar, Bisa Jadi Tanda Kanker Endometrium

Pandangan serupa disampaikan Head of Strategic Marketing Nutrifood, Susana, STP., M.Sc., PDEng. Ia mengatakan bahwa perhatian masyarakat selama ini lebih banyak tertuju pada kesehatan tulang, padahal massa otot juga mulai mengalami penurunan sejak memasuki usia 30 tahun.

“Sejalan dengan bertambahnya usia, terutama di usia 30 tahun, itu tidak hanya masa tulang yang mulai turun, tapi juga masa otot. Padahal masa otot ini sangat dibutuhkan supaya kita bisa tetap kuat, tetap aktif bergerak,” ujar Susana.

Menurutnya, menjaga massa otot sejak usia produktif akan membantu seseorang tetap aktif dan mandiri saat memasuki usia lanjut. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: