VIVIA MEDIA — Dua pemeran film Sajen Satu Suro, Aisyah Aqilah dan Assila Corina, mengungkap kisah mengejutkan terkait proses produksi film horor tersebut. Meski pengambilan gambar telah dilakukan sejak tiga tahun lalu di Sleman, Yogyakarta, keduanya masih mengingat detail kejadian mistis dan tantangan fisik berat yang mereka alami selama berada di lokasi syuting.

Proses syuting yang bertempat di Sleman menggunakan bangunan-bangunan kosong yang memiliki aura mencekam. Salah satu lokasi yang digunakan adalah kuburan asli yang terletak di atas bukit dan dikelilingi oleh area persawahan serta rumah tak berpenghuni.

Aisyah Aqilah mengonfirmasi adanya kejadian mistis yang menimpa kru dan pemain pengganti.

"Kalau aku pribadi tidak mengalami langsung, tapi ada cerita dari kru. Supir kami dan seorang body double atau pemeran pengganti sempat mengalami kesurupan di lokasi," ujar Aisyah saat berkunjung ke redaksi Vivia Media di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

| Baca Juga: Sempat Dirilis Ilegal, Tim Animator ‘Avatar Aang: The Last Airbender’ Tulis Pesan Haru di Trailer Perdana

Senada dengan Aisyah, Assila Corina yang berperan sebagai Sumarni menyebutkan bahwa gangguan fisik juga terjadi. Beberapa kru mengaku dilempar sesuatu oleh sosok tak kasat mata saat sedang mempersiapkan set syuting.

Menurutnya, setiap sudut lokasi rumah kosong yang digunakan memang memiliki "penghuni" karena sejarah panjang bangunan tersebut di desa setempat.

Kondisi Fisik Drop hingga Dilarikan ke Rumah Sakit

Tantangan fisik menjadi kendala bagi Aisyah Aqilah. Ia mengungkapkan harus menjalani perawatan medis akibat jadwal syuting yang terbalik. Aisyah sempat dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan infus sebanyak dua kali di tengah jadwal produksi yang padat.

"Persiapan fisik itu nomor satu. Aku sampai harus suntik vitamin dan menyiapkan obat asam lambung karena jam kerja kami yang terbalik," kenang Aisyah.

| Baca Juga: Poster Fedi Nuril Mau Menangkap Bola di Film 'Bapakmu Kiper' Bikin Penasaran

Aktris 23 tahun ini menjelaskan bahwa kelelahan akut menjadi penyebab kondisinya drop. Sebagai film horor, mayoritas pengambilan gambar dilakukan dari siang hingga pagi hari berikutnya untuk mengejar suasana gelap.

Kurangnya istirahat dan pola tidur yang tidak teratur membuat fisiknya tidak mampu bertahan, namun ia tetap harus melanjutkan adegan berat sesaat setelah keluar dari rumah sakit.

"Kalau ada adegan siang hari seperti perjalanan atau adegan luar ruangan, itu diprioritaskan dulu karena kita mengejar cahaya matahari. Tapi kalau adegannya di dalam ruangan (interior), sering kali disiasati syuting malam hari, tapi dibuat seolah-olah siang. Khusus untuk peranku sebagai hantu, hampir semua adeganku dilakukan saat hari sudah gelap," paparnya.

Kemudikan Delman Tanpa Pawang

Assila Corina menghadapi tantangan berbeda yang ia sebut sebagai adegan terberat (Golden Scene). Ia diharuskan mengendarai andong atau kereta kuda sendirian tanpa bantuan pawang di jalanan yang menurun.

| Baca Juga: Pengalaman Cast Film ‘402 Rumah Sakit Angker Korea’ Rasakan Takut Beneran Saat Syuting

Tantangan tersebut semakin berat karena Assila harus mengenakan kebaya pengantin lengkap dengan riasan dan sanggul yang berat.

"Itu pertama kalinya aku membawa kuda asli sendirian. Awalnya ada pawang di kiri dan kanan, tapi sutradara minta coba sendiri. Aku sangat gugup karena tidak tahu karakter kudanya," ungkap Assila.

"Kalau buatku, Golden Scene-nya adalah saat karakterku pertama kali bertemu dengan sosok Sumarni. Itu adegan yang sangat emosional dan menegangkan karena sebelumnya karakterku hanya tahu keberadaan Sumarni dari cerita-cerita saja. Pertemuan itu dilakukan dengan cara yang sangat mencekam," tambah Aisyah.

Pendalaman Karakter dan Riset Tradisi

Dalam film ini, Aisyah Aqilah memerankan karakter Tania, seorang remaja ambisius yang berupaya menyembuhkan ibunya dari penyakit tidak wajar. Tania dikisahkan harus membawa keris pusaka turun-temurun ke wilayah Bantul untuk dibersihkan sebagai syarat kesembuhan sang ibu. Aisyah menyebut karakter Tania adalah sosok pemendam yang sangat keras kepala.

"Bersama acting coach, kami melakukan pendalaman karakter dan membangun chemistry antar pemain. Meskipun sudah ada naskah, terkadang kami melakukan penyesuaian dialog agar terdengar lebih masuk akal dan natural saat diucapkan," jelas Aisyah.

Sementara itu, Assila Corina memerankan Sumarni, sosok baik yang menjadi korban keadaan hingga menyimpan dendam mendalam. Assila mengaku karakter ini berbanding terbalik 180 derajat dengan kepribadian aslinya, sehingga ia harus membangun karakter tersebut dari nol.

"Tantangan terbesarku adalah harus belajar dialek atau logat Jawa, khususnya Jawa lama. Aku sampai riset di YouTube untuk bisa meniru dialek tersebut. Meskipun sering dengar orang bicara bahasa Jawa, tapi mempraktikkannya sendiri dalam akting itu lumayan sulit," papar aktris blasteran Portugal ini.

Film Sajen Satu Suro diproduksi PIM Picture dengan sutradara Yohanes Gatot Subroto. Film yang bakal tayang 30 Juli 2026 itu menceritakan perjalanan Tania ke Desa Maduabang untuk mengembalikan keris mendiang ayahnya. Niat baik ini justru memicu teror hebat. Benda pusaka dan sajen tersebut membangkitkan kutukan serta dendam masa lalu yang telah terkubur selama 30 tahun. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: