VIVIA MEDIA — Pengusaha teknologi asal Amerika Serikat, Bryan Johnson, didiagnosis menderita gastritis autoimun, penyakit kronis ketika sistem kekebalan tubuh menyerang lapisan lambung sendiri.

Lewat Instagram, Bryan Johnson menceritakan bahwa riwayat kesehatan autoimun miliknya bermula dari diagnosis hipotiroidisme saat ia berusia 21 tahun.

Kondisi tersebut memicu respons autoimun di dalam tubuh yang secara progresif menyerang kelenjar tiroid dan kemudian berdampak pada lapisan lambungnya.

| Baca Juga: Tidak Cukup Jalan Kaki, Ini Dua Kunci Mencegah Sarcopenia

"Saya didiagnosis menderita hipotiroidisme autoimun saat berusia 21 tahun. Sekarang saya berusia 48 tahun, jadi kondisi ini telah menjadi bagian dari tubuh saya selama 27 tahun," tulis Johnson pada Selasa (7/7/2026).

Dikutip dari laman Global Autoimune Institute, gastritis autoimun merupakan penyakit langka yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel pelapis lambung.

Tak diketahui pasti penyebab gastritis autoimun. Namun, faktor genetik tampaknya mengambil peran khusus.

| Baca Juga: Penurunan Massa Otot Jangan Dianggap Sepele, Sarcopenia Bisa Ganggu Metabolisme

Orang berusia lanjut, kelompok perempuan, dan memiliki riwayat keluarga dengan autoimun dapat meningkatkan risiko seseorang terkena gastritis autoimun.

Pada tahap awal, penyakit autoimun itu hanya menimbulkan keluhan pencernaan pada umumnya. Misalnya saja nyeri ulu hati, kembung, dan cepat merasa kenyang.

Tapi dalam kondisi lebih lanjut, seseorang dengan gastritis autoimun bisa mengalami kelelahan, sesak napas, perubahan sensosik, masalah keseimbangan, hingga kecemasan.

| Baca Juga: Sering Konsumsi Minuman Berenergi? Kenali Risiko bagi Kesehatan Gigi dan Mulut

Diagnosis gastritis autoimun cukup mengejutkan karena Johnson selama bertahun-tahun dikenal memiliki salah satu program kesehatan paling ketat di dunia.

Melalui proyek Blueprint, dia menjalani pola hidup yang dirancang untuk memperlambat proses penuaan. Johnson bahkan pernah terang-terangan berharap bisa hidup hingga tahun 2140.

Demi mencapai ambisinya, miliarder berusia 48 tahun itu mengaku menghabiskan sekitar 2 juta dolar AS atau Rp35 miliar setiap tahun untuk menjaga kesehatannya.

| Baca Juga: Mengenal Jahira, Varietas Jahe Merah yang Bisa Jadi 'Ginsengnya' Indonesia

Program tersebut meliputi diet ketat, olahraga rutin, terapi cahaya, hingga pemantauan biomarker setiap hari.

Dia juga menerapkan jadwal harian yang disiplin, seperti tidur pukul 20.30, lalu bangun pukul 05.00. Tidak hanya itu, Johnson menjalani puasa intermiten untuk mendukung gaya hidup yang lebih awet muda. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: