Samuel Wattimena - Rima Ananda Garap Kostum Pementasan 'Rumah Sakit Jiwa'
VIVIA MEDIA — Pentas Teater Koma dengan lakon 'Rumah Sakit Jiwa' bakal menghadirkan visual yang memukau penonton. Betapa tidak, selain menghadirkan kisah yang legendaris, kostum yang digunakan para pemain juga dirancang khusus untuk lakon yang sarat kritik sosial tersebut.
Perancang busana Samuel Wattimena dan Rima Ananda diberi kepercayaan untuk merancang kostum dari 'Rumah Sakit Jiwa' edisi 2026. Pertunjukan karya Nano Riantiarno pada 1991 itu dihadirkan kembali oleh Teater Koma pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 mendatang di Galeri Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki di Jakarta.
Bagi Samuel Wattimena, tantangan utama dalam membuat kostum tersebut bukanlah menciptakan gambaran tentang sebuah rumah sakit, melainkan menangkap dunia kejiwaan yang menjadi inti cerita.
“Pendekatannya dari awal bukan pada kostum rumah sakit, tetapi pada kostum rumah sakit jiwa. Jadi kejiwaannya yang kemudian coba saya ekspresikan,” ujar Samuel saat bincang-bincang tentang Pementasan Teater Koma: Rumah Sakit Jiwa di kawasan Pakubuwono, Jakarta.
| Baca Juga: Kembali Hadir Setelah 35 Tahun, Teater Koma Hidupkan Lagi Lakon 'Rumah Sakit Jiwa'
Baginya, kostum harus mampu berbicara tentang kondisi batin para tokoh. Setiap bentuk, warna, dan material tidak hadir hanya untuk memperindah panggung, tetapi juga memiliki hubungan dengan karakter dan perjalanan psikologis mereka.
Samuel mengatakan, sejak awal ia meminta ruang untuk bereksplorasi agar tidak hanya menjadi pembuat pakaian bagi sebuah pertunjukan.
“Saya bilang kepada Teater Koma, jangan jadikan saya sekadar penjahit pakaian untuk teater. Saya harus diberikan ruang untuk berekspresi,” katanya.
Kebebasan tersebut kemudian diterjemahkan dalam rancangan kostum Rumah Sakit Jiwa. Samuel tidak melihat pakaian hanya sebagai elemen visual, tetapi sebagai simbol yang membawa makna tertentu.
| Baca Juga: Intip Gaya Para Selebriti saat Menghadiri Pernikahan Taylor Swift dan Travis Kelce
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah permainan siluet. Para dokter dan pasien memiliki karakter visual yang berbeda untuk memperlihatkan posisi mereka dalam dunia rumah sakit jiwa.
Untuk kelompok dokter, misalnya, rancangan busana menggunakan nuansa abu-abu tua, abu-abu sedang, hingga abu-abu muda dengan simbolisasi putih. Warna tersebut dipilih karena para dokter dalam cerita berada dalam wilayah keraguan mengenai metode perawatan yang mereka jalankan.







