Samuel Wattimena - Rima Ananda Garap Kostum Pementasan 'Rumah Sakit Jiwa'
Menurut Samuel, warna tersebut menggambarkan posisi para dokter yang berada di antara keyakinan dan pertanyaan.
“Karena sebenarnya semua dokter di rumah sakit jiwa itu berada dalam keraguan, treatment mereka ini benar atau tidak. (Karakter) Dokter Rogusta memberikan gagasan mengenai cara treatment yang baru, tetapi harus berhadapan dengan pandangan seniornya. Mereka berada di dalam keraguan, antara benar atau salah,” jelas penerima penghargaan The Best Designer Se-Pasific pada acara Fiji Fashion Week 2013 itu.

| Baca Juga: Yanu, Face Icon Pria Pertama JF3: Dari Jember Menuju Mimpi Menembus Panggung Mode Dunia
Sementara itu, kostum para pasien dirancang dengan bentuk yang lebih bebas, menggunakan siluet membulat seperti balon dengan kesan berat.
Samuel menjelaskan, bentuk tersebut menggambarkan kondisi para pasien yang terlihat memiliki kebebasan berekspresi, tetapi sebenarnya terjebak dalam ruang yang membatasi mereka.
“Semua pasien merasa mereka bisa berekspresi bebas, tetapi sebenarnya mereka tetap terikat secara kejiwaan dan terhadap rumah sakit jiwa tersebut,” katanya.
Bagian atas kostum pasien dibuat lebih terbuka untuk memberikan kesan kebebasan, sementara bagian bawah menggunakan gradasi warna dari gelap menuju terang. Namun, bentuk keseluruhannya tetap memberi kesan bahwa mereka berada dalam sebuah ruang yang sulit mereka tinggalkan.
| Baca Juga: Desainer Indonesia Harus Bangun Bisnis, Bukan Sekadar Berkarya
“Mereka sebetulnya terjebak di rumah sakit jiwa ini. Tapi ekspresi hidup mereka melalui gerakan dan segala macam sebenarnya bebas. Namun mereka tidak bisa melakukan apa-apa karena mereka terjebak di situ,” ujar Samuel.
Dalam proses penciptaan kostum, Samuel juga memasukkan berbagai unsur tekstil Indonesia. Batik, lurik, tenun, bordir, sulaman, hingga teknik tie-dye digunakan untuk memperkaya dunia visual pertunjukan.
Ia menggunakan berbagai material, termasuk kain dari sejumlah daerah seperti Banten, Baduy, hingga tenun Troso dari Jawa Tengah.
Proses penciptaan kostum tersebut berlangsung sekitar empat bulan, sejak tahap diskusi awal hingga rancangan siap digunakan dalam pementasan.







