VIVIA MEDIA — Melasma adalah gangguan hiperpigmentasi kulit kronis yang ditandai bercak cokelat hingga abu-abu kecokelatan pada bagian wajah. Umumnya muncul simetris di dahi, pipi, hidung, bibir atas, dan rahang.

Kondisi ini paling sering dialami perempuan usia 25-50 tahun akibat kombinasi paparan sinar matahari, perubahan hormonal, faktor genetik, dan tipe kulit yang rentan. Karena kerap dianggap "flek biasa", banyak penderita memilih mengobati sendiri kondisi kulitnya alih-alih berkonsultasi ke dokter.

Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika, dr. Stanley Setiawan, Sp.DVE, FINSDV, FAAD, mengingatkan bahwa langkah mengobati diri sendiri ini justru berisiko memperburuk kondisi kulit apabila dilakukan tanpa diagnosis yang tepat.

Bahaya Krim Steroid, Merkuri, dan Hidrokuinon Tanpa Pengawasan

Menurut dr. Stanley, kurangnya pemahaman mengenai melasma membuat banyak orang mencoba mengatasi sendiri dengan berbagai produk yang dijual bebas, terutama melalui platform daring.

| Baca Juga: Mengenal Melasma, Gangguan Kulit Kronis yang Sering Disalahpahami

Penggunaan krim yang mengandung steroid, merkuri, maupun hidrokuinon tanpa pengawasan medis dapat merusak skin barrier, menyebabkan iritasi, menipiskan kulit, hingga memicu eksogen ochronosis, yaitu penggelapan kulit yang menetap dan jauh lebih sulit diatasi.

"Sering kali pasien menggunakan produk yang mengandung steroid, hidrokuinon, bahkan merkuri tanpa pengawasan medis. Pada awalnya memang tampak membaik, tetapi kemudian kulit menjadi semakin rusak dan melasma justru lebih sulit ditangani," ujar dr. Stanley.

Penggunaan bahan yang tidak tepat dapat menyebabkan iritasi berkepanjangan, penipisan kulit, kerusakan skin barrier, hingga memicu perubahan warna kulit menjadi kehitaman permanen. "Bukan hanya warnanya yang semakin gelap, tetapi kualitas kulit juga ikut menurun karena skin barrier mengalami kerusakan," jelasnya.

Mengapa Melasma Mudah Kambuh?

Salah satu karakteristik melasma adalah kecenderungannya muncul kembali meski sudah mendapat pengobatan. Menurut dr. Stanley, hal ini terjadi karena melasma tidak hanya dipicu oleh peningkatan produksi melanin, tetapi juga melibatkan proses inflamasi kronis, gangguan pembuluh darah, kerusakan struktur dermis, hingga perubahan fungsi berbagai sel penyusun kulit.

| Baca Juga: Cara Aman Pakai Makeup saat Berolahraga, Kulit Dijamin Bebas Jerawat dan Iritasi

Paparan sinar matahari, perubahan hormonal, stres, maupun faktor genetik dapat kembali mengaktifkan proses tersebut sehingga bercak muncul lagi.

"Melasma tidak hanya berkaitan dengan pigmentasi. Ada proses inflamasi, kerusakan skin barrier, faktor hormonal, genetik, dan paparan sinar matahari yang saling memengaruhi. Karena itu, menghilangkan flek saja tidak cukup," jelasnya.

Pendekatan Penanganan Harus Komprehensif

Karena melibatkan berbagai mekanisme biologis, penanganan melasma tidak cukup hanya berfokus pada memudarkan warna gelap di permukaan kulit.

Menurut dr. Stanley, terapi perlu diarahkan untuk memperbaiki fungsi skin barrier, mengendalikan inflamasi, menjaga aktivitas pembentukan melanin tetap normal, serta memperbaiki kondisi dermis yang rusak.

| Baca Juga: Sering Tambah Krimer ke Kopi? Waspadai Dampaknya pada Kesehatan Kulit

"Melasma tidak cukup ditangani hanya dengan krim pemutih. Yang perlu diperbaiki adalah seluruh sistem biologis kulit agar risiko kekambuhan dapat ditekan," katanya.

Ia menegaskan bahwa perlindungan terhadap sinar matahari adalah langkah yang tidak dapat diabaikan. "Photo protection atau penggunaan sunscreen merupakan langkah yang wajib dilakukan setiap hari, baik saat berada di luar ruangan maupun di dalam ruangan," tegasnya.

Selain sunscreen, terapi dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, mulai dari obat topikal, suplemen oral, hingga tindakan medis seperti chemical peeling, laser, microneedling, maupun redermalisasi.

Dokter estetika dr. Ratna Yuliarviana menambahkan bahwa pengendalian melasma membutuhkan kesabaran dan konsistensi karena kondisi ini memang berisiko kambuh.

| Baca Juga: Dokter Tirta Peringatkan: Jangan Asal Minum Obat Diare, Usus Bisa Alami Komplikasi Serius

"Melasma memang bisa dikendalikan, tetapi membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Terapi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien dan diimbangi dengan penggunaan sunscreen setiap hari agar hasilnya lebih optimal dan risiko kekambuhan dapat diminimalkan," ujarnya.

Dengan diagnosis yang tepat, perlindungan terhadap paparan sinar matahari, serta terapi yang sesuai dan konsisten, melasma dapat dikendalikan sehingga dampaknya terhadap kualitas hidup penderita dapat diminimalkan. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: