Bekal Makan ke Sekolah Bisa Jadi Bahasa Cinta Orangtua untuk Anak
Ketika Bekal Menjadi Bahasa Cinta
Di luar aspek praktis, menyiapkan bekal ternyata juga memiliki makna emosional yang kuat. Certified Positive Discipline Parent Educator, Damar Wijayanti, menilai momen kembali ke sekolah merupakan fase adaptasi, tidak hanya bagi anak, tetapi juga bagi orang tua.
“Di tengah rutinitas pagi yang lebih sibuk, menyiapkan bekal dapat menjadi cara sederhana untuk membantu anak merasa lebih siap dan nyaman menjalani hari di sekolah. Bekal dari rumah bukan hanya menjadi sumber energi, tetapi juga simbol perhatian, dukungan, dan rasa aman,” jelas Damar.
| Baca Juga: Studi: Mengasuh Anak Ternyata Ampuh Untuk Kesehatan Otak Ayah
Dalam pendekatan Positive Discipline, kata Damar, orang tua justru dianjurkan melibatkan anak ketika menentukan menu maupun saat menyiapkan bekal.
“Melibatkan anak (dalam) memilih menu atau menyiapkan bekal bersama dapat memperkuat hubungan orang tua dan anak, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri, kemandirian, dan kebiasaan positif,” ujar Damar.
Ia menjelaskan, banyak perilaku anak yang dianggap menyulitkan pada pagi hari sesungguhnya muncul karena mereka merasa kehilangan perhatian ketika orang tua sedang sibuk.
“Semakin orang tua sibuk, sering kali anak justru mencari perhatian. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan mengajak anak terlibat. Ketika mereka merasa dilibatkan, kebutuhan akan perhatian itu terpenuhi sehingga suasana pagi bisa menjadi lebih tenang,” jelas ibu dua anak itu.
| Baca Juga: Annisa Pohan Minta Anak Muda Waspada, Usia Produktif Kian Rawan Sakit Jantung
Bukan Sekadar Nutrisi Tubuh
Bagi Damar, bekal memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan makan anak selama berada di sekolah.
“Buat banyak ibu, memasak adalah bahasa cinta. Bekal bukan hanya nutrisi untuk tubuh, tetapi juga nutrisi bagi jiwa anak. Lewat bekal, anak merasakan bahwa dirinya dipikirkan dan diperhatikan,” ungkap Damar.







