Karena itu, ketika bekal tidak habis dimakan, menurutnya orang tua sebaiknya tidak buru-buru menyimpulkan bahwa usaha mereka gagal.

“Jadikan bekal yang tidak habis sebagai ruang untuk berdiskusi. Cari tahu penyebabnya. Bisa jadi porsinya terlalu besar, waktunya terlalu singkat, atau bentuk makanannya kurang praktis untuk dimakan,” kata Damar.

| Baca Juga: Tak Semua Makanan Fermentasi Menyehatkan, Ini Tips Memilihnya

Dalam Positive Discipline, pendekatan tersebut dikenal dengan prinsip connection before correction.

“Kita membangun koneksi lebih dulu sebelum memberikan koreksi. Dengan memahami alasan di balik perilaku anak, solusi yang ditemukan biasanya jauh lebih efektif dibanding langsung memarahi,” jelasnya.

Bekal Tak Harus Rumit

Damar juga mengingatkan agar orang tua tidak merasa harus membuat bekal yang rumit hanya karena terinspirasi dari berbagai konten di media sosial.

Menurutnya, bekal terbaik bukanlah yang paling cantik, melainkan yang sesuai dengan kebutuhan dan selera anak.

| Baca Juga: Jangan Duduk Terus, Jalan Kaki Setiap 30 Menit Bisa Jaga Tubuh dari Kanker

“Bekal sederhana pun bisa menjadi bekal juara kalau memang disukai anak. Yang penting bukan mengikuti standar orang lain, tetapi memahami apa yang dibutuhkan anak kita,” tegasnya.

Agar rutinitas pagi tidak terasa terlalu melelahkan, Damar menyarankan orang tua membedakan pekerjaan yang bisa dilakukan pada malam hari dengan yang memang harus dikerjakan saat pagi.

Seragam, tas sekolah, hingga sebagian bahan makanan dapat dipersiapkan lebih dulu sehingga waktu di pagi hari hanya difokuskan untuk memasak atau meracik menu yang harus disajikan dalam kondisi segar.

1 2 3 4

Tags: