Cegah Gigi Berlubang pada Anak, Mulai dari Enam Kebiasaan Kecil di Rumah
VIVIA MEDIA — Kasus karies gigi pada anak di Indonesia masih tergolong tinggi. Salah satu penyebabnya sederhana: anak-anak masih membutuhkan bantuan dan pendampingan orang tua untuk membangun kebiasaan menjaga kebersihan gigi dan mulut secara konsisten.
Kabar baiknya, mencegah gigi berlubang pada anak tidak membutuhkan langkah rumit. drg. Alana Aluditasari, Sp.K.G.A, dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak RS Pondok Indah – Puri Indah, menekankan bahwa kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten justru menjadi perlindungan terbaik.
Kenali Tandanya Sebelum Terlambat
Sebelum bicara pencegahan, orang tua perlu tahu tanda-tanda awal karies agar bisa bertindak cepat. Tanda paling awal biasanya berupa bintik atau noda putih di permukaan gigi, yang bila dibiarkan bisa berubah warna menjadi cokelat muda hingga kehitaman.
Gigi ngilu saat makan/minum manis, panas, atau dingin, bau mulut, serta rasa sakit saat mengunyah juga perlu diwaspadai. Semakin cepat tanda ini dikenali, semakin besar peluang gigi anak mendapat perawatan tepat sebelum kerusakan bertambah parah.
| Baca Juga: Waspada, Gigi Berlubang pada Anak Bisa Berujung Infeksi dan Ganggu Tumbuh Kembang
Kebiasaan Rumah yang Bikin Beda
Berikut kebiasaan sehari-hari yang bisa diterapkan orang tua di rumah untuk melindungi gigi anak:
1. Sikat gigi teratur. Biasakan anak menyikat gigi minimal dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride.
2. Beri jeda setelah makan. Tunggu sekitar 30–60 menit setelah makan atau minum sebelum menyikat gigi.
3. Batasi makanan dan minuman manis. Sisa gula dan karbohidrat yang menempel di gigi adalah bahan bakar utama bakteri penyebab karies.
4. Biasakan minum air putih setelah makan untuk membantu membersihkan sisa makanan di rongga mulut.
| Baca Juga: Sering Konsumsi Minuman Berenergi? Kenali Risiko bagi Kesehatan Gigi dan Mulut
5. Hindari botol susu menjelang tidur. Bagi anak yang masih minum susu pakai botol dot, mulai alihkan ke gelas atau botol sedotan.
6. Jangan lewatkan pemeriksaan rutin setiap enam bulan sekali.
Pemeriksaan gigi idealnya sudah dimulai sejak anak memiliki gigi pertama, atau sekitar usia satu tahun, bukan menunggu sampai anak mengeluh sakit.
Kontrol rutin setiap enam bulan membantu dokter memantau kesehatan gigi sekaligus memastikan pertumbuhan gigi anak berjalan sesuai usianya.
| Baca Juga: Dulu Dihina, Kini Elly Sugigi Pamer Wajah Baru Hasil Oplas
Kenapa Gigi Susu Tetap Perlu Dijaga
Sebagian orang tua berpikir gigi susu tidak perlu dirawat serius karena toh akan tanggal dan digantikan gigi permanen. Padahal, gigi susu berperan penting membantu anak mengunyah, berbicara, sekaligus menjadi penuntun arah bagi pertumbuhan gigi permanen di baliknya.
Jika gigi susu rusak parah hingga tanggal lebih cepat dari jadwalnya, ruang tumbuh gigi permanen bisa terganggu, dan gigi dewasa berisiko tumbuh tidak beraturan.
“Kebiasaan menjaga kesehatan gigi yang dibangun sejak kecil akan menjadi investasi jangka panjang bagi kesehatan anak. Peran orang tua sangat penting untuk membantu anak memiliki gigi yang sehat hingga dewasa,” tutur drg. Alana.
Jika gigi berlubang sudah terlanjur muncul, bukan berarti harus langsung dicabut. Selama kondisinya memungkinkan, dokter gigi spesialis anak akan memilih perawatan yang sesuai, misalnya penambalan gigi. Langkah pencabutan hanya menjadi opsi terakhir jika kerusakan sudah sangat parah. (*)







