Mengenal Melasma, Gangguan Kulit Kronis yang Sering Disalahpahami
Selain sinar matahari, polusi udara, stres, serta proses inflamasi kronis juga berperan memicu maupun memperberat melasma.
Bukan Sekadar Produksi Pigmen Berlebih
Selama ini melasma sering dipahami hanya sebagai produksi pigmen kulit yang berlebihan. Padahal, menurut dr. Stanley, mekanismenya jauh lebih kompleks. Melasma juga dipengaruhi oleh faktor hormonal, genetik, stres, radikal bebas, polusi, hingga paparan visible light, yang saling berinteraksi memengaruhi bukan hanya pembentukan melanin, tapi juga kesehatan jaringan kulit secara keseluruhan.
"Melasma tidak hanya berkaitan dengan pigmentasi. Ada skin barrier yang terganggu, proses inflamasi kronis, kerusakan dermis, hingga perubahan fungsi berbagai sel di dalam kulit. Karena itu, penanganannya tidak sesederhana menghilangkan noda di permukaan kulit," ujarnya.
| Baca Juga: Penurunan Massa Otot Jangan Dianggap Sepele, Sarcopenia Bisa Ganggu Metabolisme
Perubahan ini melibatkan berbagai lapisan kulit, mulai dari epidermis, dermis, pembuluh darah, membran basal, hingga fibroblas yang menjaga struktur, elastisitas, dan kualitas kulit.
Itulah sebabnya melasma dikenal sebagai kondisi yang mudah kambuh apabila faktor pencetusnya tidak dikendalikan.
Dampaknya Tak Hanya Terlihat di Wajah
Meski tidak menimbulkan rasa nyeri maupun membahayakan jiwa, melasma sering membawa beban psikologis yang tidak ringan.
Banyak penderita merasa malu, kehilangan rasa percaya diri, hingga menghindari aktivitas sosial karena perubahan penampilan yang dialami. Dalam jangka panjang, kondisi ini bahkan dapat memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup.
| Baca Juga: Gaya Hidup dan Ketidakseimbangan Hormon di Balik Meningkatnya Kasus Kanker Endometrium
Dr. Stanley menjelaskan, dampak psikologis melasma telah banyak dibuktikan lewat penelitian menggunakan instrumen Melasma Quality of Life (MelasQoL).







