VIVA MEDIA — Smartwatch kini menjadi salah satu perangkat yang banyak digunakan masyarakat untuk mendukung gaya hidup sehat.

Berbagai fitur di dalamnya memungkinkan pengguna memantau aktivitas harian secara otomatis, mulai dari jumlah langkah, detak jantung, kalori yang terbakar, hingga kualitas tidur.

Namun, dokter spesialis gizi klinik, dr. Nadhira Afifa, mengingatkan bahwa angka kalori yang ditampilkan smartwatch tidak sepenuhnya akurat.

| Baca Juga: Berat Badan Turun, Begini Tips Diet ala Maia Estianty

Sebab, perangkat tersebut hanya memperkirakan pengeluaran energi berdasarkan lima parameter dasar, yakni usia, berat badan, jenis kelamin, detak jantung, dan jenis aktivitas fisik yang dilakukan.

Padahal, kebutuhan dan pengeluaran energi setiap orang dipengaruhi oleh banyak faktor lain yang tidak dapat diukur oleh smartwatch.

Di antaranya adalah kondisi penyakit yang mendasari, laju metabolisme basal (Basal Metabolic Rate/BMR), massa otot, hingga variasi konsumsi oksigen saat tubuh beraktivitas.

| Baca Juga: Bekal Makan ke Sekolah Bisa Jadi Bahasa Cinta Orangtua untuk Anak

Oleh karena itu, katanya, jam tangan pintar tidak bisa dijadikan patokan utama untuk mengukur pengeluaran energi tubuh.

"Jadi sebenarnya perkiraan kalori di smartwatch, persentase error-nya 30-93 persen. Jadi kalau di jam tangan kamu dibilang 1.500 kalori, sebenarnya mungkin cuma sekitar 400 atau 500 kalori yang terbakar per hari," ujar dr. Nadhira dikutip dari Instagram-nya @nadhiraafifa pada Sabtu (18/7/2026).

“Jadi kita nggak bisa bergantung ke smartwatch untuk ngukur kayak, wah gue keren hari ini karena keluar banyak kalorinya,” lanjutnya.

| Baca Juga: Ternyata ini Penyebab Selebgram Larissa Chou Gugat Cerai Ikram Rosadi

1 2

Tags: