Tren Baru Gen-Z: Detoks Media Sosial Demi Mental yang Lebih Sehat
Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi FOMO. Seseorang merasa tertinggal dari pencapaian maupun pengalaman orang lain sehingga terdorong untuk terus mengejar berbagai hal dalam waktu bersamaan.
Tidak sedikit yang akhirnya terjebak dalam pola toxic productivity, yakni merasa harus selalu produktif agar tidak kalah dari orang lain.
Di saat yang sama, media sosial juga menghadirkan paradoks. Meski memungkinkan seseorang terhubung dengan banyak orang dalam waktu singkat, hubungan yang tercipta belum tentu mampu menghadirkan kedekatan emosional.
| Baca Juga: Tips Mengelola Rasa Lapar saat Menjalani Diet Defisit Kalori
“Media sosial memudahkan kita terhubung, tetapi belum tentu membuat seseorang merasa benar-benar dekat dengan orang lain. Koneksi nyata memberikan rasa memiliki terhadap sebuah komunitas. Hal itu yang sekarang banyak dicari Gen-Xaviera Z karena mereka ingin merasa tidak sendirian,” kata Sasya.
Otak Lelah karena Terlalu Banyak Informasi
Tekanan lain yang semakin sering dirasakan generasi muda adalah digital fatigue atau kelelahan digital. Sasya menjelaskan, kebiasaan menggulir layar selama berjam-jam membuat otak menerima berbagai stimulus emosi dalam waktu yang sangat singkat.
Satu unggahan bisa memunculkan rasa senang, unggahan berikutnya menghadirkan kecemasan, lalu berganti menjadi kemarahan atau kesedihan. Pergantian emosi yang terjadi terus-menerus membuat otak bekerja tanpa jeda.
“Setiap kali kita scrolling, setiap konten membawa emosi yang berbeda. Otak mengalami lonjakan dopamin secara terus-menerus sehingga memicu kelelahan mental, bahkan muncul fenomena seperti brain rot dan emotional overload,” jelasnya.
| Baca Juga: Sepatu Lari Bukan untuk Angkat Beban, Kenali Perbedaannya agar Terhindar dari Cedera
Membangun Interaksi Tatap Muka
Menurut Sasya, kondisi tersebut menjadi alasan mengapa semakin banyak Gen Z mulai mencari ruang untuk membangun hubungan sosial yang lebih bermakna melalui interaksi tatap muka. Sebab interaksi virtual belum tentu mampu menghilangkan rasa kesepian maupun memberikan rasa memiliki terhadap sebuah komunitas.






