Arsitek Merangkap Desainer: Debora Mettu dan Filosofi Garis di Balik Setiap Rancangannya
“Yang aku ambil bukan arsitekturnya, tapi filosofinya. Semua desain itu sebenarnya berawal dari garis. Yang penting identitas label ini tetap terjaga,” ungkap ibu dua anak itu.
Berangkat dari Kegelisahan
Debora mulai membangun labelnya pada 2013, terdorong oleh keresahan soal harga pakaian berkualitas yang mahal, padahal ia yakin pengrajin lokal mampu menghasilkan produk sekelas merek luar negeri.
“Kenapa sih baju harus mahal kalau bagus? Padahal menurut aku pekerja kita sebenarnya capable. Kita bisa kok bikin baju yang rapi dan bagus,” ujarnya. Ia menilai banyak pekerja lokal berpotensi tinggi namun belum mendapat penghargaan yang layak.
| Baca Juga: Simpel, Inspirasi Gaya Kim You Jung yang Chic, Effortless dan Mudah Ditiru
Dari situ, ia ingin menciptakan pakaian berkualitas dengan harga di antara segmen high-end dan ready-to-wear, mirip pendekatan pasar Seoul. “Kita ambil pasar di tengah-tengah, sehingga bajunya bisa dipakai ke mana saja, tapi tetap proper dan rapi,” katanya.
Ketertarikannya pada fesyen juga berangkat dari pengalaman pribadi setelah menjadi ibu, saat tubuhnya berubah dan ia kesulitan menemukan pakaian yang cocok.
“Badan berubah, umur bertambah. Kok rasanya enggak cocok pakai baju tertentu, sementara beli baru mahal. Dari situ aku mulai belajar desain,” ungkapnya. Keyakinannya bahwa karya lokal bisa bersaing di pasar internasional pun membawanya menempuh pendidikan desain pola dan akhirnya membangun labelnya sendiri.
Dari Dua Mesin Jahit
Usaha Debora dimulai dari rumah kontrakan sederhana dengan dua mesin jahit yang dibeli menggunakan kartu kredit. “Aku berawal dari dua mesin jahit. Belinya pakai kartu kredit. Masih di kontrakan kecil. Aku coba masuk Metro, ditolak. Besok datang lagi bawa yang lebih baik. Ditolak lagi. Baru yang ketiga akhirnya diterima,” kenangnya.
| Baca Juga: Sepatu Unik 'Tanpa Hak' Zendaya di Premiere The Odyssey Bikin Netizen Melongo
Meski berkali-kali ditolak, ia terus mengembangkan kapasitas produksi dan timnya. Namun, baginya, membangun usaha bukan sekadar soal skala produksi, melainkan karakter orang-orang di dalamnya.







