VIVIA MEDIA — Fashion tidak lagi sekadar pakaian. Di panggung mode Jakarta, ia menjadi medium yang mempertemukan identitas, sejarah, budaya, dan pengalaman hidup dalam sebuah bahasa kreatif.

Melalui program Bridge to the Future (B2B) yang digagas oleh Lakon Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut Français d’Indonésie (IFI) dalam rangkaian festival mode Jakarta JF3, Indonesia dan Prancis kembali bertemu dalam ruang kreatif yang mempertemukan talenta muda kedua negara.

Tahun ini, B2B memperluas program melalui Residency yang mempertemukan kreator Indonesia dan Prancis dalam proses ko-kreasi, serta Accelerator yang mendampingi label Indonesia menuju pasar internasional.

Di tengah rangkaian perhelatan mode tersebut, perhatian tertuju pada tiga desainer muda dari École Duperré Paris: Aurelien Voegelin, Maurine Willebien, dan Paul Vidal.

| Baca Juga: Dobrak Batasan Gender, Intip Koleksi Tas Mewah Erling Haaland

Meski berasal dari sekolah yang sama, ketiganya membawa sudut pandang berbeda tentang fashion. Aurelien menggali kembali hubungan dengan akar keluarganya, Maurine mempertanyakan definisi kecantikan, sementara Paul menerjemahkan sejarah Eropa ke dalam siluet kontemporer.

Aurelien Voegelin: Berdamai dengan Warisan yang Pernah Ditolak

Bagi sebagian orang, warisan keluarga adalah sesuatu yang ingin dipertahankan. Namun bagi Aurelien Voegelin, menerima warisan tersebut membutuhkan perjalanan yang panjang. Ia harus melewati fase ketika identitas yang melekat sejak lahir justru menjadi sesuatu yang ingin ia jauhi.

Aurelien tumbuh di Béarn, wilayah pedesaan di barat daya Prancis. Di tempat itu, keluarganya telah menjalani kehidupan sebagai petani selama lebih dari empat abad. Ladang, musim panen, pakaian kerja, alat pertanian, dan kehidupan agraris menjadi bagian dari kesehariannya sejak kecil.

Melalui pendidikan dan proses kreatif, ia mulai melihat kembali hal-hal yang sebelumnya ia tolak. Ia menemukan bahwa kehidupan pertanian yang selama ini dianggap sederhana justru menyimpan kekayaan visual yang sangat besar.

| Baca Juga: Yanu, Face Icon Pria Pertama JF3: Dari Jember Menuju Mimpi Menembus Panggung Mode Dunia

Tekstur tanah, warna lanskap, pakaian kerja para petani, bentuk alat-alat pertanian, hingga hubungan manusia dengan alam menjadi sumber inspirasi baru.

1 2 3 4

Tags: