“Fuchsia itu warna favorit saya sejak kecil. Awalnya cuma melihat kemasan kosmetik waktu menjaga toko kakak saya. Warna itu terus membekas. Sejak menjadi desainer, fuchsia selalu hadir di koleksi saya, meski kadang hanya sebagai detail kecil yang mungkin tidak terlihat,” ungkap Billy.

Selama bertahun-tahun, fuchsia memang tak pernah benar-benar menjadi warna utama dalam koleksinya. Kadang hanya muncul sebagai aksen tersembunyi di balik busana berwarna hitam atau sebagai detail kecil pada bagian tertentu.

Kini, untuk pertama kalinya, Billy menjadikan warna itu sebagai tokoh utama.

“Sekarang saya diberi kesempatan punya panggung sendiri. Saya pikir ini adalah tentang saya. Jadi tren apa pun di luar sana tidak usah dipikirkan. Ini adalah tentang saya yang kembali ke arena ini,” katanya.

Sebagian dari koleksi tema FUCHSIA karya dari Billy Tjong. Foto: Tim Muara Bagdja

Semangat bertumbuh menjadi benang merah dalam koleksi FUCHSIA. Sebanyak 28 tampilan dipresentasikan dalam fashion show tersebut. Menariknya, 12 di antaranya merupakan karya murid-murid Billy Tjong Fashion Lab.

Alih-alih membedakan karya sang mentor dengan muridnya, seluruh koleksi dipresentasikan sebagai satu kesatuan. Penonton bahkan diajak menebak mana rancangan Billy dan mana karya para desainer muda.

Angka 12 sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Billy mengaku terinspirasi dari filosofi seorang guru yang memiliki 12 murid untuk kemudian menyebarkan ilmu kepada lebih banyak orang.

“Harapan saya, dua belas murid ini nanti akan berjalan sendiri, menjadi guru juga, lalu mengajarkan lebih banyak orang lagi. Ilmu itu harus terus diduplikasi,” tuturnya.

Momen itu juga dipersembahkan Billy untuk sang ibu yang kini berusia hampir satu abad. Sosok yang, tanpa disadari, telah memperkenalkannya pada dunia fashion melalui kebaya-kebaya yang dijahit semasa muda. (*)

1 2 3 4 SHOW ALL

Tags: