Enam Tahun Menghilang dari Runway, Billy Tjong Kembali Demi Mencetak Generasi Baru Desainer
VIVIA MEDIA — Billy Tjong merupakan salah satu desainer senior Indonesia yang telah berkarya selama lebih dari dua dekade. Ia dikenal lewat karakter desainnya yang feminin, elegan, serta kaya detail.
Pandemi mengubah sosok yang lama dikenal sebagai perancang busana itu menjadi seorang guru. Kini, ia kembali ke panggung mode bukan hanya membawa koleksi baru, tetapi juga semangat membangun ekosistem fashion Indonesia.
Enam tahun lalu, Billy Tjong mengambil keputusan yang mengejutkan. Setelah lebih dari dua dekade menjadi salah satu desainer yang konsisten mewarnai industri mode Tanah Air, ia memutuskan berhenti tampil di runway. Baginya, perjalanan sebagai desainer seolah telah mencapai garis akhir.
Keputusan itu bukan sekadar jeda. Billy bahkan merasa dirinya tak lagi akan membuat koleksi ataupun menggelar fashion show. Namun, pandemi Covid-19 mengubah segalanya. Krisis yang melanda hampir seluruh sektor justru membawanya menemukan panggilan baru dalam hidup.
| Baca Juga: Lenny Agustin: Konsumen Fashion Indonesia Tak Lagi Sama
“Sebenarnya dari enam tahun yang lalu saya sudah memutuskan kayaknya saya enggak bakal main panggung lagi, bikin baju lagi. Tapi hidup membawa saya ke arah yang agak berbeda,” ujar Billy di Gafoy, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta pada Jumat (24/7/2026).
Diakui Billy, dibalik keputusannya meninggalkan panggung mode, enam tahun terakhir bukanlah masa yang mudah baginya. Pandemi membuat aktivitas kreatifnya terhenti, sementara sumber penghasilan ikut terdampak. Ketika pekerjaan berhenti, tabungan terus terpakai, tetapi kehidupan harus tetap berjalan.
“Buat saya, awal pandemi itu masa yang lumayan sulit. Untuk bergerak saja rasanya susah. Kantong lagi kering, kebutuhan banyak, sementara perut tetap harus diisi,” ungkapnya.
Di tengah ketidakpastian itulah ia berdiskusi dengan timnya. Berbekal ilmu yang selama puluhan tahun dikumpulkan di industri mode, Billy memilih jalan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya, mengajar secara daring. Keputusan yang saat itu terasa sangat berisiko justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
| Baca Juga: Yanu, Face Icon Pria Pertama JF3: Dari Jember Menuju Mimpi Menembus Panggung Mode Dunia
Berawal dari hanya lima murid, Billy perlahan menemukan kembali rasa percaya dirinya. Ia menyaksikan bagaimana ilmu yang dibagikan mampu membantu banyak orang berkembang, bahkan membangun usaha mereka sendiri.
“Nekat banget. Modalnya cuma nekat. Awalnya cuma lima orang. Lama-lama mereka bilang ilmunya sampai, walaupun kami belajar dari tempat yang berbeda. Dari situ saya mulai percaya diri membuka kelas yang lebih besar,” jelas desainer yang pernah dipercaya oleh sutradara Garin Nugroho untuk merancang pakaian para aktris pemeran film Supermodel itu.
Tak disangka, langkah sederhana itu berkembang menjadi Billy Tjong Fashion Lab. Dalam enam tahun terakhir, lebih dari 3.000 murid telah belajar di sana. Mereka datang dari berbagai kota di Indonesia, bahkan dari luar negeri.
Perjalanan sebagai pengajar juga menghadirkan pengalaman emosional yang tak pernah ia bayangkan ketika masih aktif sebagai desainer. Pesan-pesan dari murid di berbagai daerah menjadi pengingat bahwa karya tidak selalu harus berupa busana.
| Baca Juga: Arsitek Merangkap Desainer: Debora Mettu dan Filosofi Garis di Balik Setiap Rancangannya
Ada peserta yang mengikuti kelas dari Papua, ada pula warga Indonesia di luar negeri yang rela begadang karena perbedaan waktu demi belajar langsung darinya. Tak sedikit pula yang mengirimkan foto hasil rancangan mereka sambil mengucapkan terima kasih karena berhasil memulai usaha setelah mengikuti kelas Billy.
“Mereka bilang, ‘Please don’t stop pengajarannya.’ Saya sampai terharu. Ternyata orang-orang yang bahkan belum pernah saya temui bisa merasa terbantu oleh apa yang saya ajarkan,” katanya dengan tersenyum.

Di sisi lain, enam tahun menjadi pendidik juga mengubah cara Billy memandang kesuksesan. Jika dahulu kepuasannya diukur dari koleksi yang tampil di atas runway, kini kebanggaannya justru lahir ketika melihat murid-muridnya berhasil berdiri di atas kaki sendiri.
“Kalau dulu saya berpikir cukup bikin karya, jadi duit, selesai. Sekarang saya merasa ilmu itu harus diteruskan. Harus ada legacy,” tegas Billy.
| Baca Juga: Istri Alex Abbad, Nadya Naufel Ternyata Bikin Gaun Pengantin Sendiri
“Sekarang kebahagiaan saya bukan cuma ketika koleksi saya tampil. Saya lebih senang melihat murid-murid saya berhasil. Kalau ilmu itu bisa diteruskan, berarti ada legacy yang saya tinggalkan,” lanjut dia.
Kembali ke Panggung Mode
Karena itulah, ketika akhirnya memutuskan kembali ke panggung mode, Billy datang dengan tujuan yang berbeda. Ia tidak sekadar ingin memperkenalkan koleksi baru, tetapi ingin membuktikan kepada murid-muridnya bahwa seorang desainer juga harus mampu bertahan sebagai pelaku bisnis.
“Saya kembali bukan karena ingin tampil lagi. Saya kembali karena ingin memberi contoh. Kalau saya mengajarkan bagaimana menjual karya, saya juga harus membuktikannya lewat karya saya sendiri,” tandasnya.
Perjalanan sebagai pendidik justru membuka mata Billy terhadap persoalan yang selama ini dihadapi banyak desainer muda. Menurutnya, tidak sedikit lulusan sekolah mode yang memiliki kemampuan teknis luar biasa, tetapi kesulitan memasarkan hasil karyanya.
| Baca Juga: Tiga Desainer Muda Paris Bawa Cerita Hidup ke Panggung Mode Jakarta
"Selama saya mengajar, saya melihat begitu banyak orang yang belajar ternyata struggling untuk jualan. Mereka bisa berkarya, tapi susah menjual. Kalau di luar negeri mungkin desainer cukup mendesain. Tapi di Indonesia kita harus bisa mendesain sekaligus mengomunikasikan karya supaya akhirnya dibeli,” jelas Billy.
Kesadaran itulah yang membuat Billy memutuskan kembali ke panggung mode. Kali ini bukan semata untuk menunjukkan kreativitasnya, melainkan menjadi contoh bahwa seorang desainer juga harus mampu menjadi pelaku usaha.
“Saya ingin hadir lagi bukan cuma sebagai desainer, tapi juga sebagai fashionpreneur,” ujarnya.
JF3 2026 Jadi Panggung Comeback Billy Tjong
Keputusan Billy Tjong untuk kembali ke runway akhirnya menemukan momentum melalui JF3 Fashion Festival 2026. Setelah enam tahun absen, ia menerima undangan untuk menjadi salah satu desainer yang tampil dalam ajang mode tahunan tersebut, yang tahun ini mengusung tema “Recrafted: Shaping the Future.”

Melalui ekosistem yang mempertemukan desainer mapan, talenta muda, pelaku industri, hingga pasar, JF3 menjadi panggung yang tepat untuk memperkenalkan babak baru perjalanan kariernya.
Dalam kesempatan tersebut, Billy membawakan koleksi bertajuk FUCHSIA: A Journey of Growth dalam sebuah fashion show yang digelar di Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading.
Tema Fuchsia juga dipilih karena latar belakang Billy. Sekitar 40 tahun silam, saat usianya baru menginjak 10 tahun, Billy kerap membantu menjaga toko kosmetik milik kakaknya.
Sebagai anak kecil, ia harus mengenali ratusan produk, mulai dari lipstik, bedak, maskara, hingga berbagai produk perawatan rambut.
| Baca Juga: Nadin Amizah dan Nicole Rossi Kompak Pakai Tas yang Sama, Gaya Feminin Keduanya Tetap Berbeda
“Fuchsia itu warna favorit saya sejak kecil. Awalnya cuma melihat kemasan kosmetik waktu menjaga toko kakak saya. Warna itu terus membekas. Sejak menjadi desainer, fuchsia selalu hadir di koleksi saya, meski kadang hanya sebagai detail kecil yang mungkin tidak terlihat,” ungkap Billy.
Selama bertahun-tahun, fuchsia memang tak pernah benar-benar menjadi warna utama dalam koleksinya. Kadang hanya muncul sebagai aksen tersembunyi di balik busana berwarna hitam atau sebagai detail kecil pada bagian tertentu.
Kini, untuk pertama kalinya, Billy menjadikan warna itu sebagai tokoh utama.
“Sekarang saya diberi kesempatan punya panggung sendiri. Saya pikir ini adalah tentang saya. Jadi tren apa pun di luar sana tidak usah dipikirkan. Ini adalah tentang saya yang kembali ke arena ini,” katanya.

Semangat bertumbuh menjadi benang merah dalam koleksi FUCHSIA. Sebanyak 28 tampilan dipresentasikan dalam fashion show tersebut. Menariknya, 12 di antaranya merupakan karya murid-murid Billy Tjong Fashion Lab.
Alih-alih membedakan karya sang mentor dengan muridnya, seluruh koleksi dipresentasikan sebagai satu kesatuan. Penonton bahkan diajak menebak mana rancangan Billy dan mana karya para desainer muda.
Angka 12 sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Billy mengaku terinspirasi dari filosofi seorang guru yang memiliki 12 murid untuk kemudian menyebarkan ilmu kepada lebih banyak orang.
“Harapan saya, dua belas murid ini nanti akan berjalan sendiri, menjadi guru juga, lalu mengajarkan lebih banyak orang lagi. Ilmu itu harus terus diduplikasi,” tuturnya.
Momen itu juga dipersembahkan Billy untuk sang ibu yang kini berusia hampir satu abad. Sosok yang, tanpa disadari, telah memperkenalkannya pada dunia fashion melalui kebaya-kebaya yang dijahit semasa muda. (*)







