Nuansa tersebut diterjemahkan melalui tekstur yang lembut, siluet yang ringan, serta detail-detail puitis yang menghadirkan kesan seolah busana berasal dari dunia dongeng. Penggunaan material dan teknik yang tidak konvensional semakin memperkuat karakter koleksinya.

Koleksi Dreamlike Fantasy Garden Indra Murak di JF3 Fashion Festival 2026_dok JF3
Koleksi Dreamlike Fantasy Garden Indra Murak di JF3 Fashion Festival 2026_dok JF3

Namun, di balik dunia fantasi itu, terdapat kedekatan yang nyata dengan Indonesia. Indra mengaku cukup sering datang ke Jakarta dan Batam untuk mencari berbagai jenis kain yang kemudian menjadi bagian penting dalam setiap rancangannya.

“Saya sering bolak-balik Jakarta-Batam buat beli bahan (fabric) untuk desain saya. Jadi saya sudah cukup cinta Indonesia, bagaimana caranya menyatukan bahan dari Indonesia ke desain gaya saya,” kata Indra.

Bagi Indra, proses kreatif tidak berhenti pada pencarian ide. Pemilihan material menjadi bagian penting yang menentukan karakter akhir setiap busana yang dibuatnya.

| Baca Juga: Intip Koleksi Tas Hermes Lamine Yamal, Juara Piala Dunia 2026 yang Punya Selera Mewah

Menghidupkan Tenun Filipina Lewat Siluet Futuristis

Sementara itu, desainer Filipina Erjohn Dela Serna memilih menjadikan kain tenun tradisional sebagai fondasi utama setiap koleksinya. Dalam Liquid Reverie, ia mengeksplorasi bagaimana air, pantulan cahaya, dan gerakan dapat diterjemahkan menjadi bentuk-bentuk busana yang menyerupai karya pahatan.

Di balik siluet futuristis tersebut, Erjohn tetap mempertahankan penggunaan kain tenun dari berbagai daerah di Filipina, mulai dari tenun khas Cordillera dan Igorot hingga T’nalak dari South Cotabato, Inab’l dari Ilocos, dan Hablon dari Iloilo.

Koleksi Liquid Reverie Erjohn Dela Serna di JF3 Fashion Festival 2026_dok JF3
Koleksi Liquid Reverie Erjohn Dela Serna di JF3 Fashion Festival 2026_dok JF3

Baginya, material tradisional bukan sekadar elemen dekoratif. Setiap helai kain membawa cerita tentang para penenun dan komunitas yang menjaga tradisi tersebut selama bertahun-tahun. Karena itu, setiap rancangan dibuat secara cermat sehingga tidak ada dua busana yang benar-benar sama, meski tetap memperlihatkan identitas desain yang konsisten.

Pendekatan itu pula yang membuat karya Erjohn mendapat perhatian di industri mode Filipina dan membawanya menjadi anggota Designers Circle Philippines.

| Baca Juga: Intip Gaya Para Selebriti saat Menghadiri Pernikahan Taylor Swift dan Travis Kelce

Budaya sebagai Titik Awal, Bukan Titik Akhir

1 2 3

Tags: