Cerita di Balik Viralnya Kasus Pencurian Ayam di Tabanan Bali
Meski secara perlahan Putu Dewi kini sudah mulai bangkit mengawali kehidupan baru, bayang-bayang kematian suaminya pada Jumat malam dalam kondisi mengenaskan, usai dikeroyok warga karena dituduh mencuri dua ekor ayam aduan di Baturiti, Tabanan, Bali, masih menghantuinya.
Saat dihubungi, Putu Dewi menceritakan bahwa meski sudah beberapa hari berlalu, ia masih merasa ada beban berat yang tidak jelas ujungnya.
Kehilangan suami tercinta membuat Putu Dewi hanya bisa pasrah. “Masih trauma, saya merasa tertekan, batin saya tidak tenang, tapi tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar Putu Dewi saat dihubungi Rabu (29/7/2026).
Tidak banyak yang bisa dilakukan Putu Dewi bersama kedua anaknya, Kadek Deyya Sekar Sari dan Komang Keiys Puspita Putri. Untuk menghilangkan rasa sedih, ia mengaku hanya bisa banyak berdoa. Ia juga merasa terhibur karena banyak orang yang bersimpati kepada anak-anaknya.

Tangis Komang yang menyayat hati memanggil ayahnya yang sudah tak bernyawa sempat menjadi viral. Di balik peristiwa pencurian dan aksi pengeroyokan itu, ternyata ada sebuah keluarga yang kini harus menjalani hidup tanpa sosok ayah.
Putu Dewi mengatakan, perasaan sedih yang dirasakan anak-anaknya selama beberapa hari terakhir ini perlahan mulai mereda dan mereka sudah bisa menerima keadaan. Hanya si bungsu yang masih sering melamun. “Kalau kakaknya sudah mulai tenang, si bungsu (Komang) kadang suka jatuh sakit,” kata Putu Dewi.
Di tengah suasana berduka, Putu Dewi mengapresiasi perhatian yang diberikan berbagai pihak kepada pelajar kelas 2 SD itu, sehingga ia merasa sangat terhibur.
Putu Dewi mengungkapkan, sebagai istri korban, ia berusaha bersikap tenang dan menyerahkan proses penyidikan kepada polisi. “Saya fokus ke anak-anak, ada yang berwenang mengurusnya,” katanya.
| Baca Juga: PM Australia Minta Maaf Atas Pernyataan Kontroversial Terkait Kylie Minogue
Didampingi sepupu suaminya, Made Parta, Putu Dewi mengaku tak mempunyai firasat apa pun sebelum suaminya dikabarkan meninggal dunia.
Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pengrajin anyaman dengan penghasilan Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per hari itu juga tak melihat ada sesuatu yang berbeda dari suaminya. “Tahu-tahu ada kejadian begini,” tuturnya.
Putu Dewi menceritakan, sehari sebelum peristiwa brutal itu terjadi, ia sempat meminta uang kepada suaminya untuk membayar uang gedung sekolah Deyya Sekar Sari, yang baru diterima masuk SMA, sebesar Rp2,7 juta.







