Eksperimen di Tengah Keterbatasan

Songket membutuhkan waktu pengerjaan panjang, sementara residensi hanya berlangsung empat bulan. Penggunaan pewarna alami juga membuat warna tiap kain tidak selalu konsisten karena dipengaruhi keterampilan tangan tiap perajin.

Alih alih menganggapnya hambatan, keduanya menjadikannya ruang eksperimen. Sisa sisa kecil songket dimanfaatkan menjadi detail dekoratif baru. Beberapa grafis yang diajukan bahkan belum pernah dibuat perajin sebelumnya sehingga sempat memunculkan keraguan.

"Bagian terpenting dari kolaborasi ini adalah meyakinkan mereka bahwa mereka mampu melakukannya. Pada akhirnya kami tidak hanya menghasilkan satu kain, tetapi empat tekstil yang berbeda dengan berbagai warna," ungkap Beatrice.

| Baca Juga: Tiga Desainer ASEAN Meramu Identitas Budaya dalam Haute Couture

Sebuah Cerita di Atas Runway

Koleksi ini dipresentasikan di panggung JF3 Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading. Siluet berstruktur, mantel bermotif tenun, tailoring oversized, hingga permainan asimetri tampil bergantian, dengan sebuah jaket kuning neon dipadukan kain lilit sebagai kejutan visual.

"Aku ingin semua koleksi ini punya ritme. Sebuah koleksi seperti sebuah cerita. Setiap adegannya tidak harus terlihat sama," jelas Mickael.

Meski kolaborasi ini telah berakhir di atas panggung, tetapi perjalanan kedua desainer belum selesai.

Beatrice tengah menyiapkan koleksi ready to wear perdana label Noen yang direncanakan meluncur akhir tahun ini atau awal tahun depan, sementara Mickael akan kembali ke Paris untuk memperkenalkan koleksi ready to wear pertama Marlon Nana bertepatan dengan Paris Fashion Week.

| Baca Juga: Gaya Rambut 'Viking' Haaland di Piala Dunia 2026 Ternyata Disokong Ikat Rambut Korea

Meski begitu, Indonesia belum benar benar selesai baginya. "Saya ingin kembali bekerja dengan para perempuan di Lombok. Saya ingin memiliki lebih banyak waktu untuk bereksperimen dengan songket, mencoba warna warna baru, dan belajar lebih dalam tentang budaya Indonesia," katanya.

1 2 3 4

Tags: