Tiga Tahun Konsisten, Ini Rahasia Febby Rastanty Tetap Tekuni Dunia Lari
VIVIA MEDIA — Febby Rastanty semakin mengukuhkan diri sebagai salah satu figur publik yang benar-benar hidup dengan olahraga lari. Aktris yang juga penyanyi itu membuktikan bahwa pencapaiannya bukan sekadar mengikuti tren running.
Hal itu kembali terlihat saat ia menuntaskan kategori 10K di ajang Head & Shoulders Super Cool Run 2026 yang digelar di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (28/7).
“Rutenya seru karena melewati area Senayan yang menjadi salah satu tempat favoritku untuk latihan,” ujar Febby usai lomba.
Konsistensi yang Terbangun Sejak 2023
Meski sudah rutin jogging sejak masa kuliah, Febby baru benar-benar serius menekuni lari pada awal 2023. Dorongan dari sang suami, Drajad Djumantara, menjadi titik balik yang membuatnya mulai mengikuti berbagai ajang maraton dan berlatih lebih disiplin.
| Baca Juga: Pulih dari Stroke, Betharia Sonata Rajin Jalan 5 Km Setiap Hari
Tiga tahun berjalan, hasilnya tidak datang instan namun konsisten: Febby berhasil mengoleksi tiga medali World Marathon Majors. Baginya, kunci utama bukan soal kecepatan, melainkan kemauan untuk terus melangkah.
“Yang terpenting kalau mau memulai lari itu ada kemauan, komitmen, dan konsisten. Masalah pace dan durasi itu urusan belakangan. Pelan pelan aja dulu. Just run,” katanya.
Ia membiasakan diri berlatih tiga kali dalam seminggu, sebuah ritme sederhana yang justru menjadi fondasi performanya hingga kini bersiap menghadapi maraton ketujuh sepanjang kariernya sebagai pelari.
Menuju Sydney Marathon: Latihan dan Carbo Loading
Kini, Febby tengah mempersiapkan diri untuk Sydney Marathon pada Agustus 2026. Persiapan itu dijalaninya secara bertahap, mulai dari meningkatkan jarak tempuh, menjaga pola makan, menghindari cedera, hingga beradaptasi dengan cuaca Sydney yang berbeda dari Jakarta. Ajang 10K di GBK menjadi salah satu bagian dari rangkaian latihannya.
| Baca Juga: Bersinar Sejak Kecil, Sherina Munaf Sebut Tidak Pernah Dipaksa Orangtuanya
Salah satu aspek yang paling ia perhatikan adalah asupan nutrisi menjelang hari perlombaan, khususnya carbo loading.
“Carbo loadingnya kira kira tiga sampai tujuh hari sebelum hari H harus makan karbo yang lebih banyak. Karena itu akan jadi cadangan energi kita dan akan dilepaskan pas lari perlahan,” jelasnya.
Selain nutrisi, ia menjaga kualitas tidur dengan menghindari begadang serta memastikan tubuh tetap terhidrasi selama latihan maupun lomba.
“Kadang kita merasa tubuh kita kuat, padahal sebenarnya tidak. Jadi kita harus belajar mendengarkan tubuh sendiri. Aku sering melihat orang malas berhenti untuk minum karena merasa sudah nyaman dengan ritme larinya. Padahal itu bisa berbahaya,” ungkapnya.
| Baca Juga: Tubuh Gatal saat Olahraga? Ini Penjelasan Dokter dan Tips Mengatasinya
Suasana hati pun turut ia jaga selama berlari, salah satunya lewat musik dan momen-momen kecil yang ia nikmati sepanjang lintasan.
Rambut dan Kulit Kepala, Detail Kecil yang Berpengaruh Besar
Di balik persiapan fisik dan nutrisi, Febby juga menyoroti satu hal yang kerap luput dari perhatian pelari, yaitu kenyamanan rambut dan kulit kepala. Sebagai seseorang yang cukup sering beraktivitas di luar ruangan, ia mengaku kulit kepalanya mudah gerah dan berkeringat saat latihan maupun lomba.
“Saat lari 10K kali ini, aku merasa kulit kepala tetap dingin dan nyaman selama berlari karena memilih sampo yang tepat. Jadi aku bisa tetap fokus dan percaya diri tanpa terganggu rasa gatal dan ketombe,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi rambut turut memengaruhi suasana hati saat berolahraga. “Kalau lagi bad hair day pasti ngaruh ke mood waktu lari. Makanya kesehatan kulit kepala juga harus dijaga,” katanya.
| Baca Juga: Tren Baru Gen-Z: Detoks Media Sosial Demi Mental yang Lebih Sehat
Febby menilai rambut sebagai bagian dari perawatan diri yang tidak boleh diabaikan. “Menurutku rambut itu mahkota yang perlu mendapat perhatian khusus. Jadi memilih sampo yang tepat itu perlu, baru dilanjutkan dengan treatment lain,” ujarnya.
Pandangan itu sejalan dengan President Director P&G Indonesia, Saranathan Ramaswamy, yang menyebut kenyamanan saat berlari kini menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat, termasuk kenyamanan kulit kepala di tengah cuaca panas dan aktivitas luar ruang.
Perjalanan Febby menunjukkan bahwa prestasi di dunia lari tidak lahir dalam semalam, melainkan dari kebiasaan kecil yang dijaga setiap hari, mulai dari konsistensi latihan, persiapan nutrisi yang matang, hingga kenyamanan diri yang sering dianggap sepele. (*)





