Baginya, pertumbuhan berarti peningkatan kapasitas artisan, kualitas produk, konsistensi, dan profesionalisme, yang hanya bisa terwujud lewat pendidikan berkelanjutan bagi desainer maupun artisan.

Pandangan ini sejalan dengan Darja Richter Widhoff, Head of Design dan Co-Director ENAMOMA PSL Prancis, yang menilai edukasi soal asal usul material dan nilai budaya harus dimulai sejak dini. Ia juga mengingatkan bahwa mode adalah kerja kolektif.

| Baca Juga: Garuda dalam Songket, Bahasa Fashion Baru Kolaborasi Desainer Indonesia-Prancis

“Kita tidak harus menjadi bintang. Kita harus menjadi kelompok bintang. Di balik satu koleksi ada begitu banyak orang kreatif yang memiliki perannya masing masing,” jelasnya.

Bagi desainer muda, idealisme kerap berbenturan dengan realitas. Mickael Nana, Founder MARLON NANA sekaligus residen PINTU, mengungkap keterbatasan modal jadi hambatan utama praktik produksi bertanggung jawab.

“Masalah ini terjadi di seluruh dunia. Hanya perusahaan besar yang mampu memastikan seluruh material mereka benar-benar dapat ditelusuri. Desainer kecil sering kali tidak memiliki akses yang sama,” ungkapnya.

Fengyuan Dai, Founder 30%70, menyoroti pentingnya titik temu antara idealisme dan bisnis, sehingga banyak desainer muda memilih bekerja sama dengan pengrajin skala kecil ketimbang manufaktur besar.

| Baca Juga: Bando Zig-Zag Comeback! Hailey Bieber Hidupkan Kembali Tren Era 2000-an Ini

Gabriel menekankan bahwa solusi atas keterbatasan produksi bukan mempercepat kerja artisan, melainkan memperbanyak jumlah orang yang memiliki keterampilan tersebut melalui pendidikan dan regenerasi.

Sementara itu, Thresia menggarisbawahi pentingnya kepercayaan dalam relasi desainer dan artisan.

“Kalau bekerja dengan artisan, kita tidak bisa hanya datang membawa desain lalu meminta mereka membuatkannya. Yang perlu dibangun adalah kepercayaan,” ujarnya, seraya mengingatkan agar artisan tidak melulu dipandang romantis sebab mereka juga perlu penghidupan yang layak secara komersial.

Diskusi turut menyoroti bagaimana menjaga tradisi tanpa menjadikannya sekadar komoditas. Menurut Thresia, kuncinya terletak pada niat dan tujuan pembuatan produk.

1 2 3

Tags: