Kontras Dunia Film dan Musik

Lebih lanjut, pelantun lagu "Tak Ingin Usai" ini membedah perbedaan mendasar antara industri musik yang membesarkan namanya dengan industri film yang kini ia selami. Keisya menyebutkan bahwa film membutuhkan dedikasi waktu dan kerja sama tim dalam jangka panjang.

"Mungkin kalau nyanyi kan lebih cepat ya waktunya, kayak sejam nyampai kota,nyanyi, terus pulang. Kalau di film lebih panjang prosesnya, lebih butuh teamwork yang lebih lama jangkanya," kata wanita asal Malang berusia 23 tahun.

"Jadi kayak bener-bener beberapa bulan tuh kita bareng-bareng terus kan. Itu yang lebih seru sih. Kenal orang lagi, ngobrol lagi, nge-build lagi gitu, terus masuk ke karakter baru lagi, cari tahu lagi," sambungnya.

| Baca Juga: Netflix Digugat Rp1,7 Triliun Usai Kehilangan Salinan Film Nicolas Cage

Cinta Terhalang Kasta dan Luka Lama

Film ‘Dan Bandung’ sendiri menjanjikan sebuah narasi perjalanan cinta yang manis namun sarat akan rintangan. Cerita ini berfokus pada dua karakter utama, Basil (Samo Rafael) dan Elma (Shanna Shannon).

Hubungan mereka digambarkan sebagai kisah kasih yang klasik namun pedih karena terbentur oleh 'tembok besar' perbedaan kasta sosial dan latar belakang keluarga yang kontras.

Basil digambarkan sebagai pemuda gigih dan romantis dari latar belakang keluarga sederhana. Kehidupannya jauh dari kata mudah; ia harus berjuang menghadapi realitas pahit bahwa ayahnya tengah mendekam di balik jeruji besi.

Di sisi lain, Elma muncul sebagai sosok perempuan pendiam dan tertutup dari keluarga konglomerat yang berkuasa. Meskipun hidup dalam gelimang harta, Elma memendam trauma mendalam akibat didikan orang tua yang sangat ketat (strict parents). Pertemuan kedua jiwa yang terluka ini menjadi motor penggerak utama dalam alur cerita ‘Dan Bandung’. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: