Membawa cerita yang sudah dikenal luas ke panggung musikal bukan pekerjaan sederhana. Tim kreatif harus menjaga roh cerita asli, sekaligus menawarkan pengalaman baru yang tidak bisa ditemukan dalam novel maupun film.

Fadli Hafizan, Produser Jakarta Art House, mengatakan tantangan terbesar adalah bagaimana mempertahankan esensi perjalanan Kaluna sambil menghadirkan bentuk penceritaan yang berbeda.

“Ekspektasinya adalah membuat Home Sweet Loan The Musical lebih believable, lebih bisa menyampaikan pesan dari cerita itu sendiri,” ujar Fadli.

| Baca Juga: Padukan Seni Betawi, Harry De Fretes Comeback Lewat Single 'I Love You, Bestie'

Menurut dia, musikal memberikan ruang yang lebih luas karena cerita tidak hanya disampaikan melalui dialog, tetapi juga melalui lagu, gerak, dan energi pertunjukan langsung.

“Dalam musikal, musik, penampilan, nyanyian, dan akting semuanya hadir secara live. Apa yang disampaikan di atas panggung akan terasa lebih dalam kepada penonton,” katanya.

Penulis naskah Widya Arifianti melihat bahwa kekuatan utama cerita Kaluna terletak pada kemampuannya merepresentasikan pengalaman banyak orang.

Widya mengatakan, proses adaptasi bukan hanya memindahkan cerita dari satu medium ke medium lain, melainkan menggali kembali makna yang ada di dalamnya.

| Baca Juga: Nadin Amizah Comeback Lewat 'Moonlight', Jadi Pembuka Album ke Tiga 'Laika, Yang Ditinggalkan'

“Kaluna memang mencari rumah dalam bentuk bangunan atau house, tetapi sebenarnya yang sangat dia butuhkan adalah home itu sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, musikal menjadi medium yang tepat karena mampu menghadirkan perasaan terdalam karakter melalui lagu.

“Ketika berbicara tentang musikal, cerita harus memiliki inner thought dari karakter. Hal-hal yang mungkin tidak bisa diucapkan melalui dialog dapat muncul melalui lagu,” kata Widia.

1 2 3 4

Tags: