Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, turut angkat bicara dan menyampaikan dukacitanya atas tragedi tersebut. "Ini mengerikan, seharusnya tidak terjadi," ujarnya pada Jumat sore.

Unit Ambulans bersiap di depan sekolah di Distrik Bang Kruai, Provinsi Nonthaburi, Thailand tempat kejadian penembakan. Foto: Screenshot, YouTube

Debsirin Nonthaburi School sendiri merupakan sekolah menengah laki-laki yang cukup dikenal di Thailand, dengan cabang di berbagai wilayah. Pada tahun ajaran 2025, sekolah ini tercatat memiliki sekitar 3.100 siswa dan 147 guru.

| Baca Juga: Melukai Diri Sendiri saat Live TikTok, Blogger Gosip Perez Hilton Kini Jalani Perawatan

Insiden ini menambah daftar panjang kasus penembakan di lingkungan sekolah Thailand. Pada Februari lalu, seorang guru tewas dan seorang siswa terluka setelah penembakan di sebuah sekolah di Distrik Hat Yai, Thailand selatan.

Sementara itu, kejadian paling mematikan sebelumnya terjadi pada Oktober 2022, ketika seorang mantan polisi menewaskan puluhan orang, sebagian besar anak-anak, dalam serangan bersenjata api dan senjata tajam di sebuah pusat penitipan anak di Provinsi Nong Bua Lamphu. Insiden itu hingga kini masih dikenang sebagai pembantaian massal terburuk di negara itu.

Thailand sejatinya memiliki aturan kepemilikan senjata api yang cukup ketat, dengan ancaman hukuman penjara hingga 10 tahun bagi kepemilikan senjata ilegal. Meski begitu, tingkat kepemilikan senjata di negara ini tergolong tinggi dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Regulasi pun terus diperketat pascarentetan insiden penembakan massal, termasuk kewajiban pemeriksaan kesehatan jiwa bagi warga yang hendak membeli atau memperpanjang izin kepemilikan senjata. (*)

1 2 SHOW ALL

Tags: