Thailand Diguncang Aksi Penembakan di Sekolah, Korban Tewas Murid dan Guru, Puluhan Terluka
VIVIA MEDIA — Sebuah penembakan mengguncang Debsirin Nonthaburi School, sekolah menengah ternama di Distrik Bang Kruai, Provinsi Nonthaburi, pinggiran barat laut Bangkok, Thailand, pada Jumat pagi (7/8/2026) waktu setempat. Insiden ini menjadi salah satu penembakan sekolah paling mematikan yang pernah terjadi di negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Juru bicara Kepolisian Nasional Thailand, Letnan Jenderal Trairong Phiwphan, mengonfirmasi bahwa pelaku adalah seorang siswa berusia 14 tahun. Sebelum beraksi di sekolah, pelaku diduga terlebih dahulu menembak mati kakek dan neneknya sendiri di rumah mereka di Distrik Bang Bua Thong menggunakan senjata api milik sang kakek.
Berdasarkan pembaruan terbaru dari sejumlah media pada Jumat sore, termasuk Bangkok Post, jumlah korban tewas kini mencapai sembilan orang.
Jumlah itu terdiri atas enam korban di lingkungan sekolah (tiga guru dan tiga siswa), terduga pelaku, serta kedua kakek-neneknya. Sementara itu, sedikitnya 15 orang lainnya mengalami luka-luka, dengan sembilan di antaranya dalam kondisi kritis. Korban termuda dilaporkan baru berusia 12 tahun.
| Baca Juga: Kebakaran Hebat Landa Pub di Bangkok, Sedikitnya 27 Orang Tewas, PM Thailand Terjun Langsung
Namun demikian, laporan mengenai kondisi pelaku masih simpang siur. Sebagian sumber kepolisian awalnya menyebut pelaku tewas bunuh diri di lokasi kejadian, tetapi Trairong belakangan menyatakan bahwa pelaku sesungguhnya masih dalam kondisi kritis dan tengah menjalani perawatan medis darurat.
Pihak berwenang menyebutkan pelaku menembakkan setidaknya 26 peluru dan ditemukan membawa 34 butir amunisi tambahan.
Sejumlah foto yang beredar dari petugas darurat memperlihatkan siswa-siswi berhamburan keluar saat ambulans hilir-mudik di lokasi. Salah satu foto menunjukkan seorang korban tergeletak di atas tandu di luar ambulans, sementara korban lain tengah ditangani petugas medis.
Seorang siswa berusia 18 tahun menceritakan pengalamannya kepada kantor berita Reuters. Ia mengaku awalnya mengira suara tersebut adalah petasan atau benda yang dibanting.
| Baca Juga: 9 Biksu Tewas Ditabrak Bocah 11 Tahun yang Bawa Pickup Orangtua di Thailand
"Saya awalnya tidak menyangka itu suara tembakan," katanya. "Ada banyak sekali tembakan: dor dor dor. Lalu sempat sunyi. Kemudian terdengar lagi."
Video dari dalam ruang kelas yang ditayangkan sejumlah media menunjukkan para siswa bersembunyi ketakutan di bawah meja sambil menangis saat suara tembakan terdengar di sekitar mereka. Sebagian besar korban dilaporkan berusia remaja, antara 12 hingga 17 tahun, menurut Pusat Operasi Darurat provinsi setempat.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, turut angkat bicara dan menyampaikan dukacitanya atas tragedi tersebut. "Ini mengerikan, seharusnya tidak terjadi," ujarnya pada Jumat sore.

Debsirin Nonthaburi School sendiri merupakan sekolah menengah laki-laki yang cukup dikenal di Thailand, dengan cabang di berbagai wilayah. Pada tahun ajaran 2025, sekolah ini tercatat memiliki sekitar 3.100 siswa dan 147 guru.
| Baca Juga: Melukai Diri Sendiri saat Live TikTok, Blogger Gosip Perez Hilton Kini Jalani Perawatan
Insiden ini menambah daftar panjang kasus penembakan di lingkungan sekolah Thailand. Pada Februari lalu, seorang guru tewas dan seorang siswa terluka setelah penembakan di sebuah sekolah di Distrik Hat Yai, Thailand selatan.
Sementara itu, kejadian paling mematikan sebelumnya terjadi pada Oktober 2022, ketika seorang mantan polisi menewaskan puluhan orang, sebagian besar anak-anak, dalam serangan bersenjata api dan senjata tajam di sebuah pusat penitipan anak di Provinsi Nong Bua Lamphu. Insiden itu hingga kini masih dikenang sebagai pembantaian massal terburuk di negara itu.
Thailand sejatinya memiliki aturan kepemilikan senjata api yang cukup ketat, dengan ancaman hukuman penjara hingga 10 tahun bagi kepemilikan senjata ilegal. Meski begitu, tingkat kepemilikan senjata di negara ini tergolong tinggi dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Regulasi pun terus diperketat pascarentetan insiden penembakan massal, termasuk kewajiban pemeriksaan kesehatan jiwa bagi warga yang hendak membeli atau memperpanjang izin kepemilikan senjata. (*)







