Benang Merah 'Cahaya Hati': Kisah Padi Reborn dan Yura Yunita di Balik Kolosalnya Pagelaran Sabang Merauke 2026
VIVIA MEDIA — Di tengah gemerlap panggung dan produksi kolosal yang melibatkan 1.700 orang, Pagelaran Sabang Merauke (PSM) 2026 menyimpan satu rahasia yang menyatukan seluruh cerita. Sebuah lagu berjudul 'Cahaya Hati' yang menjadi tembang inti dalam Hikayat Srikandi Nusantara, yang merupakan tema dari PSM 2026.
Karya ciptaan Eross Candra dengan lirik Silvi Liswand ini bukan sekadar lagu tambahan. Pengarah musik Elwin Hendrijanto menjelaskan bahwa 'Cahaya Hati' menjadi salah satu tema musikal utama dalam Hikayat Srikandi Nusantara. Melodi dan motifnya lantas disisipkan ke berbagai komposisi lain sepanjang pertunjukan.
"Temanya sangat dekat dengan tokoh Srikandi. Ada kelembutan, tetapi juga keteguhan dan kekuatan. Karena itu, beberapa motif melodinya kami adopsi ke komposisi-komposisi lain sehingga sejak awal hingga akhir pertunjukan ada benang merah yang menghubungkan semuanya," ujar Elwin.
Padi Reborn: Dari Rock ke Orkestra
Benang merah itu pula yang menuntun transformasi besar pada band rock legendaris, Padi Reborn, yang tahun ini kembali terlibat untuk kedua kalinya. Lagu-lagu mereka yang biasa hadir dalam format band kini melebur dengan orkestra, paduan suara, dan instrumen tradisional.
| Baca Juga: Raisa Ungkap Tantangan Nyanyikan Lagu 'Cahaya Hati' di Hikayat Srikandi Nusantara
"Yang nanti didengar akan sangat berbeda karena semuanya merupakan hasil aransemen luar biasa dari Ko Elwin dan Mas Avip," kata Piyu.
Padi tidak lagi bisa bermain penuh sepanjang waktu. "Ada saatnya kami harus berhenti bermain, ada saatnya bermain pelan, tapi ada juga saatnya harus benar-benar rock. Semua mengikuti kebutuhan cerita," jelas Piyu.
Bagi Piyu, kekuatan PSM terletak pada kemampuannya menggabungkan musik dan cerita secara sinematik — sebuah potensi yang membuatnya berani bermimpi besar. "Saya berharap ini bisa menjadi Broadway-nya Indonesia," ujarnya, seraya menekankan kekayaan cerita rakyat dan legenda Nusantara yang menurutnya tak kalah dari negara mana pun.
Sementara itu, gitaris Yoyo menyoroti tantangan menjaga karakter musik Padi agar tetap terasa meski melebur dalam harmoni kolosal. "Di Pagelaran Sabang Merauke ini saya pribadi merasa semakin bangga menjadi orang Indonesia," tegasnya.
| Baca Juga: Skala Panggung Lebih Besar, 1.700 Seniman Terlibat Dalam Hikayat Srikandi Nusantara
Yura Yunita: Atmosfer yang Selalu Mengundang Kembali
Musisi Yura Yunita telah tiga tahun menjadi bagian PSM. Ia kembali memerankan Mahadewi dan mengaku setiap tahun selalu menghadirkan tantangan baru.
"Rasanya setiap kembali ke Pagelaran Sabang Merauke itu seperti masuk ke atmosfer yang begitu magis," ujar Yura. "Sebagai seniman, rasanya belum pernah menemukan tempat eksplorasi seluas ini. Di sini kita benar-benar didorong keluar dari zona nyaman."
Namun momen paling berkesan baginya justru bukan di panggung, melainkan saat menyaksikan latihan para penari di Yogyakarta. "Kalau melihat teman-teman penari, dari ujung kuku sampai ujung rambut, sampai ujung kaki, semuanya seperti memberi nyawa," katanya.
Bagi Yura, dedikasi seribuan seniman itu adalah wujud nyata cinta pada Indonesia. "Bayangkan ada 1.700 orang yang memberikan nyawanya, memberikan cintanya untuk Indonesia. Merindingnya itu tidak bisa dijelaskan," ujarnya.
Dari rock yang melebur jadi orkestra, hingga tarian yang seolah bernyawa, semuanya terikat oleh satu melodi yang sama — bukti bahwa PSM 2026 bukan sekadar pertunjukan, melainkan panggung tempat tradisi dan kreativitas Indonesia bertemu. (*)




