Lutesha Bahas Dilema Hubungan Beda Agama di Film Seni Merayu Tuhan
VIVIA MEDIA — Aktris Lutesha didapuk memerankan karakter Sophia dalam film Seni Merayu Tuhan. Dalam film arahan sutradara Cesa David Luckmansyah ini, Sophia digambarkan menjalin hubungan asmara dengan Hikmah, karakter yang diperankan oleh Ari Irham.
Konflik utama dalam perjalanan karakter Sophia berpusat pada perbedaan keyakinan. Sophia merupakan seorang penganut Katolik, sementara Hikmah adalah seorang Muslim.
Dinamika perbedaan agama ini menjadi inti cerita yang membawa Lutesha pada perspektif baru mengenai hubungan antarmanusia dan kehidupan spiritual.
Tantangan Memahami Dilema Hubungan Beda Agama
Bagi pemilik nama Lutesha Sadhewa ini, memerankan Sophia memberikan tantangan tersendiri karena latar belakang karakter tersebut sangat kontras dengan kehidupan pribadinya.
| Baca Juga: Syuting Jadi Jenazah di Film 'Seni Merayu Tuhan', Rieke Diah Pitaloka Malah Ketiduran
Aktris 32 tahun ini mengaku tumbuh dalam lingkungan keluarga yang modern dan berpikiran terbuka, di mana perbedaan keyakinan bukan merupakan isu besar.
Kondisi tersebut sempat membuat Lutesha mempertanyakan mengapa pasangan dengan agama berbeda kerap mengalami kesulitan untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Terlebih, di lingkup keluarganya sendiri, terdapat pasangan beda agama yang tetap mampu menjalani hubungan dengan harmonis.
"Saya tumbuh di keluarga yang modern, jadi awalnya saya agak kurang paham dengan perasaan orang-orang yang mengeluh karena kesulitan berpacaran beda agama," ungkap Lutesha di kawasan Jakarta Pusat, Sabtu (8/8/2026).
| Baca Juga: Ari Irham Belajar Jadi Vokalis Band Demi Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis
Riset Mandiri Demi Menembus ‘Tembok Penghalang’
Guna mendalami gejolak batin Sophia, Lutesha memutuskan untuk melakukan riset mandiri. Ia membuka ruang diskusi dengan teman-teman dekatnya yang sedang atau pernah menjalani hubungan beda agama. Dari sana, ia baru menyadari betapa besarnya tantangan yang dihadapi oleh pasangan-pasangan tersebut.
"Akhirnya aku harus nanya kanan-kiri, kebetulan ada beberapa temen yang emang pacaran beda agama. Dan dari sana aku bisa tahu, oh ternyata bagi banyak orang hubungan beda agama itu jadi tembok penghalang ya," kata bintang film Monster Pabrik Rambut ini.
Proses Bedah Karakter yang Intens Selama Satu Bulan
Kesuksesan istri musisi Cahyo Arswandaru dalam menghidupkan karakter Sophia juga tidak lepas dari proses praproduksi yang sangat detail. Bintang film Cerita Lila ini mengaku sangat terbantu oleh kehadiran acting coach yang membimbingnya melakukan bedah skenario secara mendalam.
Proses reading dilakukan secara intensif selama kurang lebih satu bulan. Menurut Lutesha, setiap dialog dibedah satu per satu agar seluruh pemain memahami makna di balik setiap kata sebelum memulai proses syuting di lapangan.
| Baca Juga: Film 'Monster Pabrik Rambut' Borong Tiga Penghargaan di Dua Festival Film Internasional
"Kita punya acting coach yang detail banget. Jadi reading tuh sekalian dibedah dialognya, emang jadinya lama, tapi enaknya ketika hari H syuting kita nggak banyak pertanyaan lagi, karena semuanya sudah terjawab. Reading selama satu bulanan, intens banget," tuturnya.
Adaptasi Buku Habib Jafar yang Tidak Menggurui
Film Seni Merayu Tuhan merupakan adaptasi dari buku self improvement karya Habib Husein Ja'far Al Hadar atau Habib Jafar. Lutesha menilai adaptasi ini berhasil mengemas pesan-pesan moral menjadi lebih relevan bagi penonton tanpa terasa seperti sedang memberikan ceramah atau menggurui.
Alih-alih menonjolkan ritual ibadah secara eksplisit, film ini menyelipkan nilai-nilai spiritual melalui peristiwa sehari-hari yang emosional, seperti saat karakter menghadapi duka dan kehilangan orang tua.
"Jadi nggak yang menunjukkan ritual atau doa gitu, tapi film ini justru membuatnya jadi lebih simpel. Pesan-pesan itu diselipkan lewat scene sehari-hari, saat berduka, kehilangan ibu yang meninggal," jelas Lutesha.
| Baca Juga: Punya Koleksi 17 Ribu Buku, Habib Jafar Bocorkan Karya Favoritnya
Pelajaran Hidup: Jangan Menganggap Remeh Ibadah
Keterlibatan dalam film ini memberikan dampak personal yang cukup dalam bagi Lutesha. Ia mendapatkan pelajaran berharga mengenai hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Salah satu poin utama yang ia petik adalah pentingnya menghargai waktu dan kesempatan dalam beribadah.
Lutesha menekankan agar setiap orang tidak bersikap meremehkan (take anything for granted) terhadap apa yang mereka miliki, termasuk dalam aspek keagamaan.
"Kadang kita mikir, 'ah santai, sholat mah bisa nanti', atau 'bisa tobat pas bulan Ramadan'. Tapi setelah main di film ini aku sadar, kita tuh jangan kayak gitu. Jangan take anything for granted," tutupnya. (*)







