Reza Arap Ungkap Tantangan Jadi Pemain Sekaligus Sutradara di Film Harusnya Horror
VIVIA MEDIA — Konten kreator dan musisi Reza Oktovian atau lebih dikenal dengan Reza Arap, membagikan pengalaman debutnya sebagai sutradara sekaligus aktor utama film 'Harusnya Horror'.
Sebagai pemain, salah satu momen paling berat yang dialami Reza Arap sadalah saat harus melakoni adegan digantung menggunakan sling. Meski dikenal sebagai pribadi yang eksentrik, Arap mengakui bahwa ia memiliki ketakutan terhadap ketinggian.
"Oh yang pake sling. Jujurly aku bener-bener takut ketinggian," ungkap Reza Arap saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (13/8/2026).
Tantangan tersebut bukan sekadar soal mental, melainkan juga fisik. Ia menjelaskan bahwa tubuhnya harus diikat erat di beberapa titik yang menimbulkan rasa sakit demi keamanan dan kebutuhan visual kamera di ketinggian tujuh meter.
| Baca Juga: 30 Tahun Berlalu, Sidang Kasus Pembunuhan Rapper Tupac Shakur Akhirnya Dimulai
"Takut ketinggian dan itu challenge juga, udah nge-direct, main film, terus pake sling. Slingnya tingginya 7 meter itu dan itu sakit, karena harus diikat di sini, diikat di sini, diikat ke belakang, ya itu challenge-nya sih," jelasnya.
Meski awalnya berharap bisa menyelesaikan adegan tersebut dalam satu kali pengambilan gambar, kenyataan di lapangan berkata lain.
"Waktu itu sebisa mungkin nggak nge-retake ulang-ulang, tapi akhirnya retake ulang-ulang karena masalah teknis. Tujuh kali mungkin, paling banyak take-nya di sling itu, sisanya aku jarang retake. Bukan sombong ya, awas lho, bukan sombong," tambahnya sambil berseloroh.
Pendalaman Karakter Secara Spontan
Menjalankan tugas sebagai sutradara sekaligus pemain utama memberikan tekanan tersendiri bagi Reza. Ia mengaku tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendalami karakternya sendiri secara konvensional karena seluruh perhatiannya tersedot untuk mengarahkan pemain lain.
| Baca Juga: Bantah Gimmick! Ini Alasan Reza Arap Tetap Sediakan Kursi Kosong untuk Mendiang Lula Lahfah
"Untuk ngebaginya sebagai sutradara sama pemain itu justru on-the-spot sih sebenarnya. Jadi di lokasi, karena waktuku udah habis untuk nge-direct anak-anak bahkan dari sebelum syuting gitu. Jadi kesempatan atau waktu untuk aku memperdalam karakter tuh nggak ada, jadi bener-bener spontan on-the-spot," ungkap Reza.
Sosok kelahiran Jakarta, 38 tahun ini lebih memilih memprioritaskan rekan-rekan kerjanya agar dapat tampil maksimal di depan kamera.
"Semuanya on-the-spot karena aku sendiri udah ngebagi waktunya itu lebih ke temen-temen yang lain untuk mendalami karakter mereka. Untuk.pendalaman karakter aki sendiri dilakukan on-the-spot. Jadi ya udah, sepemikiran aku aja, terus aku akting deh," tuturnya.
Dunia Streaming ke Layar Lebar Hingga Inspirasi Cerita
Keputusan Reza untuk terjun ke proyek film ini dianggap sebagai langkah yang sangat berisiko atau "nekat". Bagaimana tidak, ia langsung melompat ke proses produksi film sesaat setelah menyelesaikan jadwal maraton streaming yang padat.
| Baca Juga: Andovi da Lopez Terjun Kampanye jadi Calon Gubernur dalam First Look 'Bapak Paling Jujur'
"Jujur iya (aksi nekat). Kalau kata anak-anak gokil. Karena kan selesai maraton atau selesai streaming yang pas season 2 tuh harusnya ya take break, istirahat atau apa, tapi malah jumping ke film gitu. Itu kan move yang apa ya, bukan konyol tapi udah ekstrim lah," kata Reza.
Meski demikian, dukungan dari rekan-rekannya sesama konten kreator menjadi bahan bakar utama baginya.
"Kebetulan anak-anak support juga, merekanya juga seneng dapet skill set yang baru juga ngerasain hal-hal baru yaitu akting. Jadi ya jadilah film ini," ujar mantan kekasih almarhum Lula Lahfah ini.
Berbicara mengenai ide cerita, Reza mengaku proses kreatifnya terjadi secara organik. Ia mengandalkan imajinasinya sendiri untuk membangun latar belakang karakter yang misterius.
| Baca Juga: Sakit Asam Lambung Satukan Chemistry Shanna Shannon dan Samo Rafael di Film 'Dan Bandung'
"Kalau ide inspirasi itu bener-bener mendadak muncul gitu di kepala. Sebenernya awal tuh ada dua konsep ide cerita, tapi akhirnya yang dipilih Harusnya Horror," jelasnya.
Terkait karakternya di film, Reza memberikan sedikit bocoran tentang pendalaman emosi yang ia bangun sendiri.
"Kuncinya setan ya. Setan yang dulu hidupnya kesepian, jadi aku kayak ngarang sendiri di kepala bikin cerita sendiri; oke dulu dia hidupnya kayak gini, dia nggak punya ayah, nggak punya mama, tinggal sendiri di kosan. Nah itu pendalaman karakter lebih ke kayak gitu," jelasnya.
Terapkan Sistem Bootcamp Terpisah
Proses syuting film ini memakan waktu total 28 hari (25 hari utama ditambah 3 hari tambahan). Dalam kurun waktu tersebut, Reza menerapkan metode khusus dalam membangun chemistry antar pemain melalui sistem bootcamp yang terpisah-pisah untuk menjaga dinamika kelompok.
| Baca Juga: Zoe Levana Pernah Jadi Korban Perundungan Semasa Sekolah di Surabaya
"Bootcamp tuh aku pisah-pisahin. Aku sama Geng Kusut beda. Aku sama Trio Bordat beda. Di samping itu, dalam penulisan skrip itu aku bener-bener gimana sebisa mungkin semuanya tuh tidak sama rata tapi adil," tegasnya mengenai keadilan porsi peran bagi para pemain.
Namun, ada cerita unik saat proses penyutradaraan. Reza blak-blakan menyebut Tepe (Teguh Prakoso) sebagai pemain yang paling sulit diarahkan. Alasannya pun terbilang unik dan teknis, masalah kedipan mata.
"Yang paling sulit didirect adalah Tepe. Aku nggak akan spoiler. Tapi alasan pertamanya adalah karena dia kedip terus. Kita ngulang belasan kali cuma buat nungguin dia kapan berhenti ngedip kalau ngomong. And it's true. Pe, bisa lu nggak berhenti ngedip?," ungkap Reza disambut tawa.
Bagi Reza Arap, Harusnya Horror bukan sekadar proyek sampingan, melainkan tonggak penting dalam perjalanan kariernya di industri hiburan tanah air. Walaupun ia belum merasa sepenuhnya puas, ia memandang ini sebagai lompatan besar.
| Baca Juga: Perankan Ibu-Anak, Anggun C Sasmi dan Agnez Mo Curi Perhatian di 'Reacher' Season 4
"Project ini menurut gue next level sih. Apakah ini jadi salah satu karya terbaik? Belum. Belum puas. Pasti akan ada project selanjutnya, pasti," tutup Reza Arap.
Harusnya Horror mengisahkan tentang sekelompok konten kreator yang terjebak dalam krisis finansial. Di tengah keputusasaan, mereka bertemu dengan sosok hantu yang jauh dari kesan menyeramkan.
Pertemuan unik ini justru melahirkan ide gila: mereka bekerja sama menciptakan konten horor agar viral. Di sisi lain, para konten kreator ini juga berusaha membantu sang hantu mencapai impian terakhirnya, yaitu menjadi sosok yang ditakuti seperti hantu pada umumnya.
Film ini akan diramaikan oleh jajaran pemain dari AAA Clan, Geng Marapthon, almarhumah Lula Lahfah, aktor kawakan Ronny P. Tjandra, hingga Malka. (*)







