Belum hilang rasa kaget, teleponnya berdering. Istrinya di kampung juga mengabarkan terjadi gempa. Rumah mereka hancur. Ferdi diminta segera pulang. Ia mengajak putra untuk pulang. Namun, perjalanan menggunakan mobil tidak bisa melewati jalan utama akibat tanah longsor dimana-mana.

“Orang-orang bilang tidak bisa lewat, banyak batu dan kayu besar menutup jalan,” ujarnya.

| Baca Juga: Cerita Margareta, Teman Maliya Finda, Pendaki yang Meninggal di Gunung Piramid

Dia pun memutuskan untuk kembali ke Ruteng. Ketika keluarga mengabarkan bahwa mereka sudah berada di pengungsian, Ferdi memantapkan hati untuk tetap kembali ke rumahnya.

“Bagaimanapun caranya, hari itu saya harus sampai di kampung,“ ujarnya.

Ia pun menyewa motor ojek. Perjalanan dengan roda dua ini pun tak mulus. Ketika motor tak bisa lewat, perjalanan Ferdi dilanjutkan dengan berjalan kaki.

“Jalan kaki berapa kilometer, jalanan tertutup batu-batu besar, dan pohon besar,” jelasnya.

| Baca Juga: Perjuangan Esau Sidemo: 26 Hari Hanyut di Samudra Pasifik Hingga Dievakuasi Kapal Prancis

Menjelang sore, perjalanan tinggal sekitar 3 kilometer menuju kampung. Ferdi bersyukur mendapat tumpangan motor dari warga sekitar.

Meski bisa melewati medan yang berat, hatinya terasa hancur ketika menyaksikan rumah yang dibangunnya hancur. Meski begitu, ia kembali bersyukur karena orang tua, istri anak maupun kerabatnya selamat.

Kondisi rumah Ferdinandes yang hancur akibat gempa. Foto: Dokpri

“Rumah itu nggak bisa ditempati,” katanya.

Dari video yang dikirim Ferdi, dinding rumahnya roboh, tiang-tiang penyangga sudah patah. Situasi rumah di sekitarnya juga mengalami keretakan.

1 2 3 4

Tags: