Kisah Ferdinandes Korban Gempa NTT: Jalan Kaki Berkilo-kilo demi Pulang Temui Keluarga
| Baca Juga: Kisah Pelampung Kakek Umar untuk Cucu di Tragedi Tenggelamnya KM Nurul Salsa
Ia bercerita, anak dan istrinya masih trauma. Terutama si bungsu Salvator Newar. Siswa kelas 3 SD itu tak mau jauh dari ayahnya.
“Dia ketakutan, nggak mau jauh dari saya,” ucapnya.
Berdasarkan cerita dari anak ketiganya, Yovita Arelia, pagi itu semua berjalan seperti biasa. Mereka sedang bersiap untuk berangkat sekolah. Ibunya dan si bungsu masih tidur.
Seperti yang dialami Ferdi, gempa pertama terjadi pelan, namun Yovita tetap berteriak membangunkan ibunya. “Mama bangun, gempa,” kata Ferdi, mengulang ucapan putri.
| Baca Juga: Istri Satpam Waduk Jatiluhur yang Tewas dengan Terborgol Kisahkan Malam Terakhir Sebelum Kejadian
Mereka berusaha menyelamatkan diri melalui pintu depan. Namun, pintu terkunci. Mereka pun segera berlari melalui pintu yang terbuka.
Kejadian itu begitu cepat. Baru sepuluh meter di belakang rumah, terlihat dinding rumahnya runtuh.
“Anak-anak terguncang melihat rumah hancur. Saya bersyukur semua selamat, tak ada yang terluka,” katanya.
Bersama warga lain, mereka mendirikan tenda di lahan terbuka. Dari video yang dikirim, siang itu warga Desa Bajak terlihat beristirahat di bawah pohon menghindari terik panas. Di dalam tenda, ada beberapa orang sedang tidur-tidur. Adriana Mumur (74), ibunda Ferdi, terlihat tidur-tidur di bawah pohon.

Ferdi mengungkap, peristiwa ini merupakan gempa terkuat yang dirasakan dan menyebabkan banyak korban meninggal dunia. Bahkan hingga hari ini masih terjadi gempa susulan meski dengan getaran rendah.
“Istri saya trauma, bisa nggak mau buat rumah dari tembok lagi. Bangun rumah dari kayu saja, biar aman dari gempa,” ucapnya.







