Nyeri Lutut Jangan Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Gangguan Fungsi Sendi
Karena itu, keputusan medis perlu mempertimbangkan keluhan, kondisi fisik, fungsi sendi, serta kebutuhan dan target aktivitas masing-masing pasien.
Operasi penggantian lutut memang lebih banyak dilakukan pada pasien berusia 60 tahun ke atas. Namun, dr. Andito menegaskan usia bukan satu-satunya faktor yang menentukan seseorang membutuhkan operasi lutut.
| Baca Juga: Penyakit Jantung Rematik, Bahaya Tersembunyi di Balik Sakit Tenggorokan Anak
Kerusakan sendi juga dapat dialami pasien yang lebih muda akibat berbagai kondisi tertentu.
“Biasanya 60 tahun ke atas. Kebanyakan. Ada yang 25 tahun,” ungkapnya.
Kondisi tulang rawan dan fungsi sendi setiap orang juga berbeda. Karena itu, usia lanjut tidak otomatis berarti seseorang harus berhenti melakukan aktivitas fisik.
“Kalau rawannya masih bagus, silakan jogging. Kalau arthritis, berubah jadi low impact,” jelas dr. Andito.
Bagi pasien dengan gangguan sendi tertentu, aktivitas fisik dapat disesuaikan dengan olahraga berdampak rendah atau low impact. Tujuannya untuk tetap menjaga kebugaran sekaligus mengurangi beban berlebih pada sendi.
| Baca Juga: Konsultasi Genetik jadi Cara Deteksi Risiko Kanker Turunan hingga Rencanakan Kehamilan
Penanganan juga tidak selalu berujung pada operasi. Dokter akan menilai terlebih dahulu apakah keluhan masih dapat ditangani melalui terapi nonoperatif atau membutuhkan tindakan pembedahan.
Bagi pasien yang memang membutuhkan operasi penggantian lutut, perkembangan teknologi medis kini turut memberikan dukungan bagi dokter.
Salah satunya adalah ROSA (Robotic Surgical Assistant), teknologi robotik yang digunakan sebagai alat bantu dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi penggantian lutut.







