Dr. Andito menjelaskan, teknologi tersebut dapat membantu dokter melakukan pengukuran dan membaca pergerakan dengan tingkat ketelitian yang sangat kecil.

| Baca Juga: Mata Juling Bukan Sekadar Persoalan Penampilan, Ini yang Perlu Diperhatikan

“Robot bisa membaca bergerak dua milimeter. Dua milimeter mata kita tidak bisa lihat, feeling kita tidak bisa melihat,” katanya.

Meski menggunakan teknologi robotik, dr. Andito menegaskan ROSA bukan pengganti dokter. Teknologi tersebut berfungsi sebagai alat bantu untuk mendukung presisi tindakan, sementara keputusan medis tetap berada di tangan dokter berdasarkan kondisi masing-masing pasien.

Namun, teknologi robotik tetap menjadi alat bantu. Keputusan mengenai tindakan dan teknik operasi tetap ditentukan oleh dokter dengan mempertimbangkan kondisi serta kebutuhan pasien.

Setelah tindakan, pasien tetap membutuhkan rehabilitasi yang terencana untuk mengembalikan fungsi lutut secara bertahap.

| Baca Juga: Hobi Membaca Buku Sambil Tiduran? Ini Risiko yang Perlu Diwaspadai

Dokter rehabilitasi dr. Anita Ratnawati mengatakan, program rehabilitasi idealnya bahkan sudah dipersiapkan sebelum operasi dilakukan.

“Setiap pasien memiliki target aktivitas dan kondisi yang berbeda. Karena itu, rehabilitasi perlu dipersiapkan sejak awal agar program pemulihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing pasien,” jelas dr. Anita.

Kolaborasi antara dokter ortopedi dan dokter rehabilitasi menjadi penting agar penanganan pasien tidak berhenti pada tindakan operasi. Proses tersebut mencakup persiapan sebelum operasi, pemulihan setelah tindakan, hingga pencapaian target aktivitas pasien.

Keluhan lutut yang muncul berulang, kemampuan berjalan yang semakin menurun, pembengkakan, atau kesulitan melakukan aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan sebaiknya tidak diabaikan.

Pemeriksaan oleh dokter diperlukan untuk mengetahui penyebab dan tingkat gangguan sekaligus menentukan pilihan penanganan yang sesuai. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: