VIVIA MEDIA — Kehamilan membawa banyak perubahan pada tubuh perempuan, termasuk meningkatnya risiko infeksi saluran kemih (ISK) atau urinary tract infection (UTI). Sekitar 10 persen ibu hamil dapat mengalami ISK.

Meski tergolong umum, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena infeksi yang tidak ditangani dapat menjalar hingga ke ginjal dan meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu maupun janin.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, dr. Zeissa Rectifa Wismayanti, Sp. O.G, menjelaskan bahwa kehamilan membuat saluran kemih mengalami sejumlah perubahan yang memudahkan bakteri berkembang.

“ISK selama kehamilan perlu diperhatikan karena tidak selalu menimbulkan gejala. Karena itu, pemeriksaan urine pada awal kehamilan menjadi penting untuk mendeteksi adanya bakteri dalam urine, bahkan ketika ibu tidak merasakan keluhan apa pun,” kata dr. Zeissa di Jakarta.

| Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Anyang-anyangan, Ini Cara Sederhana Jaga Kesehatan Kandung Kemih

Kenapa Ibu Hamil Lebih Rentan

Pada perempuan, uretra yang pendek, hanya sekitar 3–4 sentimeter, membuat bakteri lebih mudah mencapai kandung kemih. Selama kehamilan, kadar progesteron yang meningkat membuat otot saluran kemih lebih relaks, ureter melebar, dan urine lebih mudah tertahan.

Penyaringan darah di ginjal yang lebih cepat juga meningkatkan kadar glukosa dalam urine (glucosuria), yang mempermudah pertumbuhan bakteri.

Semakin besar usia kehamilan, tekanan rahim dan kepala janin pada kandung kemih juga dapat menghambat drainase darah dan limfe, membuat area tersebut lebih rentan cedera.

Perut yang membesar pun kerap menyulitkan ibu hamil menjaga kebersihan organ intim, sehingga bakteri dari sekitar anus dan genital lebih mudah masuk ke uretra.

| Baca Juga: Nyeri Lutut Jangan Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Gangguan Fungsi Sendi

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Frekuensi buang air kecil yang meningkat memang umum selama kehamilan. Namun, bila disertai nyeri, perih, atau sensasi terbakar saat berkemih, urine keruh atau berbau menyengat, kram perut bagian bawah, hingga nyeri punggung, ibu hamil perlu waspada. Pada infeksi yang sudah mencapai ginjal, gejala bisa memberat berupa sakit pinggang, demam, menggigil, mual, dan muntah.

Yang perlu diingat, ISK tidak selalu bergejala. Kondisi bakteri dalam urine tanpa keluhan ini dikenal sebagai bakteriuria asimtomatik, dan hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan urine—karena itu skrining di awal kehamilan menjadi penting.

Risiko Bila Dibiarkan

Infeksi yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi cystitis (infeksi kandung kemih) atau pyelonephritis (infeksi ginjal), bahkan memicu anemia, hipertensi, korioamnionitis, hingga sepsis pada ibu.

Bagi janin, ISK dikaitkan dengan meningkatnya risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.

| Baca Juga: Mata Juling Bukan Sekadar Persoalan Penampilan, Ini yang Perlu Diperhatikan

Penanganan dan Pencegahan

Bila muncul gejala mengarah ISK, ibu hamil sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter untuk pemeriksaan urine. Jika terdiagnosis, dokter dapat meresepkan antibiotik yang aman untuk kehamilan, seperti amoxicillin, cephalexin, atau nitrofurantoin.

Pemilihan obat harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing ibu dan tidak boleh dihentikan sendiri meski gejala membaik. Pereda nyeri seperti acetaminophen serta kompres hangat pada perut bawah dapat membantu meredakan ketidaknyamanan, tetapi tidak menggantikan pengobatan infeksi.

Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu mencegah ISK. Seperti tidak menahan buang air kecil, membersihkan area genital dari depan ke belakang, mengganti pakaian dalam secara teratur dengan bahan katun, menghindari pakaian ketat, buang air kecil setelah berhubungan seksual, serta menghindari produk beraroma pada area genital.

Mencukupi cairan tubuh, sekitar delapan gelas air per hari, dan mengonsumsi jus cranberry juga disebut dapat membantu mencegah bakteri E. coli menempel di saluran kemih.

| Baca Juga: Sering Kretek-Kretek Jari Tangan, Benarkah Bikin Sendi Sakit?

Apakah ISK Bisa Memengaruhi Rahim?

ISK tidak secara langsung berarti infeksi pada rahim. Namun, bila infeksi berkembang hingga ginjal, kondisi ini dapat memicu kontraksi dini dan kelahiran prematur.

“Sering buang air kecil memang merupakan keluhan yang umum saat hamil, tetapi jika disertai rasa perih atau terbakar saat berkemih, ibu perlu waspada. ISK yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi infeksi ginjal dan meningkatkan risiko komplikasi pada kehamilan,” jelas dr. Zeissa.

Ia menambahkan, ibu hamil sebaiknya tidak menunggu keluhan menjadi berat. Deteksi dan pengobatan sejak dini penting untuk menjaga kesehatan ibu sekaligus melindungi janin. (*)

1 2 3 SHOW ALL

Tags: