PCOS Resmi Berganti Nama Jadi PMOS, Begini Penjelasan Dokter Kandungan
Temukan lebih banyak Berita Hiburan, Gaya Hidup dan Kisah Viral
Add VIVIA Media on GoogleVIVIA MEDIA — Siklus menstruasi yang datang tidak teratur sering dianggap persoalan sepele, entah akibat stres, kelelahan, atau sekadar variasi siklus tubuh. Begitu pula ketika jerawat terus muncul, rambut tumbuh lebih lebat di wajah, berat badan sulit dikendalikan, atau kehamilan tak kunjung terjadi.
Padahal, ketika gejala-gejala itu muncul bersamaan, tubuh mungkin sedang memberi sinyal tentang kondisi yang lebih kompleks.
Kondisi yang selama ini dikenal sebagai Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) kini memasuki babak baru. Sejak Mei 2026, para ahli menyepakati istilah Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) sebagai nama baru, sebagaimana diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet.
Perubahan ini bukan berarti muncul penyakit baru, melainkan upaya menggambarkan kondisi yang sama secara lebih tepat.
| Baca Juga: 70 Persen Kasus Kanker Payudara Ditemukan Saat Stadium Lanjut, Pentingnya Kenali Tubuh Sejak Muda
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre, Dr. dr. Gita Pratama, Sp.OG, Subsp. F.E.R., M.Rep.Sc., mengatakan istilah lama cenderung membuat perhatian tertuju pada ovarium, seolah masalah utamanya adalah “kista”.
“PMOS menggambarkan kondisi yang lebih kompleks. Gangguannya tidak hanya berkaitan dengan ovarium, tetapi juga melibatkan sistem hormonal dan metabolik. Karena itu, penanganannya juga tidak cukup hanya melihat siklus menstruasi atau masalah kesuburan,” ujar Dr. Gita di Jakarta baru-baru ini.
Istilah “polycystic” selama ini mudah disalahartikan. Perempuan dengan kondisi ini tidak serta-merta memiliki kista pada ovarium, melainkan banyak folikel kecil yang tidak berkembang sebagaimana mestinya akibat ovulasi yang terganggu, sehingga pada USG tampak tersusun menyerupai “string of pearls”.
Selain berkaitan dengan hormon reproduksi dan ovulasi, PMOS juga berhubungan dengan resistensi insulin, peningkatan risiko diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, gangguan kolesterol, penyakit kardiovaskular, hingga sleep apnea.
| Baca Juga: Serangan Jantung Bisa Menyerang Usia 20-an, Dokter Ungkap Faktor Risiko yang Sering Diabaikan
Resistensi insulin dapat merangsang ovarium menghasilkan hormon androgen secara berlebihan, yang pada akhirnya mengganggu ovulasi dan membuat siklus menstruasi tidak teratur.
“Resistensi insulin merupakan salah satu bagian penting dalam memahami PMOS. Yang perlu diperhatikan, kondisi ini tidak hanya terjadi pada perempuan dengan berat badan berlebih. Perempuan dengan berat badan normal pun dapat mengalami gangguan metabolik tersebut,” jelas Dr. Gita.






