Sering Terlewat, Ini Alasan Leher Wajib Dirawat Agar Tidak Keriput Dini
VIVIA MEDIA — Kesadaran masyarakat terhadap kecantikan kulit wajah meningkat pesat, namun hal ini berbanding terbalik dengan perhatian terhadap area leher. Banyak wanita yang memiliki wajah cerah dan kencang, namun justru menunjukkan tanda penuaan yang kontras pada area leher.
Menurut dr. Reeza Edward Y, SpDVE, leher merupakan area yang paling sering terlupakan dalam rutinitas perawatan harian. Padahal, karakteristik kulit leher memiliki kemiripan dengan area sekitar mata yang sangat sensitif dan rentan.
"Kulit di bawah rahang hingga leher itu sangat tipis, mulai dari lapisan otot, lemak, hingga kulitnya sendiri. Jika kolagennya berkurang, kulit akan menjadi kendur atau tampak seperti kertas yang diremas (crepy skin)," jelas dr. Reeza dalam diskusi Celebrating 19 Years of Evitderma, Innovation with Oligio X and Cellbooster di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (19/8/2026).
Pasien lanjutnya, seringkali hanya fokus pada wajah yang glowing, tapi lehernya keriput. Masalahnya, jika sudah terlanjur menua, memperbaiki kulit leher itu memiliki tantangan tersendiri.
| Baca Juga: Tak Perlu Skincare Mahal, 5 Bahan Dapur Ini Bisa Jadi Masker Wajah DIY
"Sama halnya dengan area mata, jika sudah diabaikan dari awal, maka perbaikannya akan jauh lebih menantang bagi dokter," ujar dr. Reeza.
Bias Psikologis antara Perawatan Wajah dan Leher
Ketimpangan perawatan antara wajah dan leher ini rupanya dipengaruhi oleh faktor psikologis. dr. Reeza menjelaskan bahwa secara naluriah, fokus utama seseorang saat bercermin seringkali terpaku pada bagian atas tubuh terlebih dahulu.
"Secara psikologis, fokus pertama banyak orang biasanya adalah rambut (hair), baru kemudian turun ke wajah. Namun, di wajah pun seringkali ada area yang terlupakan, yaitu sekitar mata, sekitar mulut, dan leher," jelasnya.
Dokter spesialis kulit klinik Evitderma cabang Pondok Indah ini menambahkan, bahwa hasil prosedur medis seperti botoks pada dahi akan terlihat sia-sia jika area leher dibiarkan menua secara kontras.
| Baca Juga: Tak Menua! Potret Prewedding Jun Ji Hyun dari 14 Tahun Lalu Bikin Terpukau
"Justru padahal, area-area dengan kulit tipis inilah yang sebenarnya menunjukkan tanda penuaan pertama kali. Tapi itulah yang seringkali diabaikan," ungkapnya.
Usia 25 Tahun: Titik Balik Produksi Kolagen
Mitos bahwa perawatan anti penuaan baru dimulai saat usia 30 tahun kini dipatahkan. Meski penurunan produksi kolagen secara signifikan (sekitar 1-2% per tahun) terjadi pada usia 30-an, dr. Reeza menyarankan langkah preventif dimulai lebih awal, yakni sejak usia 25 tahun.
"Di usia 25 tahun, tingkat stres mulai meningkat, baik karena tuntutan pekerjaan, karier, maupun kehidupan berkeluarga. Belum lagi jika ada faktor gaya hidup seperti merokok yang mempercepat kerusakan kulit," ungkap dr. Reeza.
Untuk mendeteksi kerusakan yang tidak kasat mata, penggunaan teknologi skin analyzer di klinik juga sangat disarankan.
| Baca Juga: Jangan Langsung Dibuang, Ini Manfaat Air Beras untuk Rambut yang Jarang Diketahui
"Kadang di kaca wajah terlihat baik-baik saja karena tertutup makeup, tapi melalui foto analyzer bisa terlihat pembentukan garis-garis halus (fine lines) yang jika dibiarkan akan menjadi kerutan permanen," tambahnya.
Perawatan Mandiri yang Jangan Dibaikan
Dalam hal perawatan mandiri, prinsip utama yang harus dipegang adalah menyamakan perlakuan antara wajah dan leher. dr. Reeza menekankan pentingnya penggunaan sunscreen hingga ke area bawah leher dan melakukan aplikasi ulang (re-apply) setiap tiga jam sekali.
Namun, ia memberikan catatan khusus mengenai penggunaan bahan aktif. Jika menggunakan serum Vitamin C di wajah, aplikasikan juga di leher.
"Untuk bahan aktif yang kuat seperti AHA atau Retinol, karena kulit leher lebih tipis, mungkin konsentrasinya perlu disesuaikan atau dikurangi agar tidak memicu iritasi," tuturnya.
| Baca Juga: Rahasia Diet Zhao Lusi Turun 16 Kg, dari Sarapan Sehat hingga Hindari Makan Malam
Intervensi Medis: Memperbaiki Kulit dari Dalam
Jika perawatan mandiri tidak lagi mencukupi, intervensi medis menjadi pilihan rasional. dr. Dwindi Saptania, M. Biomed (AAM), menjelaskan bahwa teknologi medis modern dirancang untuk memicu regenerasi mandiri pada sel kulit.
"Dalam kasus di mana penuaan sulit dikontrol secara alami, kita membantu dengan intervensi dari luar, seperti laser, krim, hingga skin booster. Teknologi ini diciptakan dengan konsep memperbaiki kulit dari dalam, membantu sel beregenerasi dan memulihkan dirinya sendiri agar proses penuaan bisa diperlambat," kata dr. Dwindi.
Salah satu terapi yang populer adalah skin booster berbahan dasar Hyaluronic Acid (HA). Zat ini berfungsi untuk plumping, menarik molekul air, dan mengatasi dehidrasi kulit.
Saat ini, dikenal berbagai jenis skin booster seperti 'Glow' dan 'Lift' yang mengombinasikan HA dengan vitamin serta asam amino untuk memicu kolagen. Menariknya, terdapat jenis khusus 'Shape' yang menawarkan fungsi ganda.
| Baca Juga: Rahasia Kulit Glowing Amanda Zahra Bukan Ganti Produk, tapi Cara Pakainya
"Varian Shape ini sangat unik karena HA dikombinasikan dengan L-Carnitine. Bahan ini biasanya digunakan untuk mempercepat metabolisme sel lemak," papar dokter yang juga menjabat direktur medis klinik Evitderma.
Teknologi injectable ini memungkinkan target spesifik pada area lemak membandel.
"L-Carnitine bisa langsung ditargetkan ke area spesifik seperti double chin atau pipi yang terlalu chubby juga leher. Jadi, kita bisa melakukan peremajaan sekaligus membantu contouring wajah," tutup dr. Dwindi.
Tips Praktis Merawat Area Leher Agar Tidak Terlambat
Agar area leher tidak mengalami penuaan dini yang ekstrem, beberapa panduan praktis bisa diterapkan dalam rutinitas harian:
| Baca Juga: Kelopak Mata Turun, Britney Spears Menyesal Suntik Botox
1. Perluas Jangkauan Skincare: Lakukan tahapan basic skincare mulai dari pembersihan, pelembap, hingga sunscreen tidak hanya pada wajah, tapi diteruskan hingga ke area leher.
2. Gunakan Serum Vitamin C: Jika Anda menggunakan serum Vitamin C pada wajah, aplikasikan juga di leher untuk menjaga kecerahan dan elastisitasnya.
3. Waspadai Bahan Aktif Keras: Untuk bahan aktif yang kuat seperti AHA atau Retinol, konsentrasinya perlu disesuaikan atau dikurangi saat diaplikasikan ke leher karena kulit leher lebih tipis dan sensitif dibandingkan wajah.
5. Disiplin Sunscreen: Jangan hanya di wajah, sunscreen wajib diaplikasikan ke leher dan dilakukan pemakaian ulang (re-apply) setiap 3 jam sekali, terutama bagi yang aktif di luar. (*)







